Saat Peter Pan Tak Mau Menikahi Cinderella

Oleh: Rahman Fauzi - 6 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Peter Pan tak bisa terus bersama dengan Cinderella. Sebab Peter Pan tak mau dewasa dan mengikat diri dalam pernikahan, sedangkan Cinderella sangat ingin dinikahi agar bisa bahagia untuk selama-lamanya.
tirto.id - Laki-laki yang enggan menjadi dewasa dan perempuan yang cenderung mendambakan ‘pangeran tampan’ bisa membuat hubungan tidak berjalan aman. ‘Peter Pan’ dan ‘Cinderella’ memang berada di dongeng berbeda.

Kisah ini dialami Ilman (22) saat dirinya berpacaran dengan seorang perempuan saat kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Sumedang. Keduanya tergolong mahasiswa aktif dan populer. Sama-sama berprestasi, sama-sama aktif di himpunan mahasiswa.

Tapi kemudian hubungan itu bubar di tengah jalan. Seorang dosen yang memang peduli dan baru tahu hubungan keduanya kandas menyempatkan diri mengajak mereka berbincang. Setelah mencermati kondisi mereka, sang dosen menjelaskan pada usia-usia itu ada kecenderungan laki-laki mengalami Peter Pan Syndrome (PPS), sementara perempuan cenderung dihinggapi Cinderella Complex.

Istilah Peter Pan Syndrome pertama kali dituturkan psikolog Dan Kiley dalam buku The Peter Pan Syndrome: A Men Who Have Never Grown Up. Ini merujuk keengganan laki-laki menjadi dewasa dan menerima tanggung jawab, sekalipun dia bukan bocah atau remaja lagi. Biasanya, sindrom ini melanda laki-laki berusia 20-an.

Istilah ini terinspirasi banyak dari karakter tokoh fiksi Peter Pan karya Sir J. M. Barrie. Di sana diceritakan Peter Pan, sosok yang ingin kekal menjadi bocah bahagia dan menolak tua.

“Gue meyakini gue terkena sindrom itu. Kebetulan ceweknya juga terkena sindrom Cinderella Complex!” sadar Ilman setelah mendengar penjelasan sang dosen.

Keyakinannya didasari sikap masing-masing saat berpacaran. Dia yang masih ingin bersenang-senang, kerap kali ditagih pacarnya untuk berkomitmen menikah di usia 25. Selalu tersimpan keraguan dari jawaban ‘iya’ yang hanya bertujuan membuat pacarnya tenang.

Di saat bersamaan, pacarnya justru meyakini betul kalau Ilman adalah ‘pangeran’ yang bisa memberinya bahagia, menyelamatkannya dari nestapa, dan menggantungkan hidup sepenuhnya padanya. Sang kekasih menganggap Ilman bisa memimpinnya ke arah yang lebih baik dan mereka pasti bisa hidup bahagia bersama. Kebahagiaan bisa dicapai jika, dan hanya jika, Ilman mau menikah dengannya.

Kecenderungan itu ternyata bisa dikategorikan sebagai “Cinderella Complex”. Selayaknya Cinderella, dia menggantungkan harapan besar ke pundak laki-laki yang diharapkan menjadi pangeran hidupnya. Istilah ini dikemukakan terapis New York, Collete Downing dalam bukunya The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence.

Downing meyakini adanya kecenderungan perempuan untuk takut bisa mandiri. Betapapun punya kualitas-kualitas yang dianggap paripurna, selalu ada ketakutan untuk hidup sendiri dan merindukan pihak lain, dalam hal ini pasangan, untuk bisa membahagiakannya.

Ketergantungan ini bisa ditandai dengan pengikatan komitmen menikah di usia tertentu. Juga merencanakan hal-hal yang sama sekali kelewat jauh dan sulit dimengerti. Pacarnya pernah mendambakan bisa merayakan tahun baru di New York, berpacaran di IKEA seperti adegan film 500 Days of Summer. Apa yang dibayangkannya sebagai sumber kebahagiaan mesti berawal dari kebersamaan yang dramatik bersama kekasih. Lain tidak.

INFOGRAFIK Sindrom Karakter Disney


Ilman sendiri bukan satu-satunya "penghuni Neverland." Beberapa teman laki-laki di kampusnya juga mengalami keogahan untuk "jadi dewasa". Mereka, seperti Ilman, juga enggan memikirkan komitmen yang jauh seperti pernikahan. Tak ada alasan lain selain tak mau meninggalkan kehidupan yang playful serta enggan memutar hari membanting tulang dan mengisi hidup dengan kewajiban A-Z.

Humbelina Robles Ortega, profesor psikologi di Universitas Granda, mewanti-wanti pola asuh terlalu protektif bisa membuat anak mengalami Peter Pan Syndrome. Bergonta-ganti pasangan dan mencari yang lebih muda adalah tabiat lanjutan gejala ini. Dan Kiley, si pencetus Peter Pan Syndrome pun mengalami pernikahan tiga kali dan hobi mencari daun muda, sebelum meninggal di usia 54 pada 1996.

“Kapanpun hubungan mulai ada penagihan meningkatkan komitmen dan tanggung jawab, mereka menjadi takut dan mengakhirinya. Hubungan dengan wanita yang lebih muda memiliki keuntungan bisa hidup tanpa banyak kekhawatiran dan juga sedikit rencana jangka panjang, karena tanggung jawab minim,” kata Ortega seperti dilansir Science Daily.

Sebetulnya, kedua sindrom ini tidak termasuk penyakit mental atau gangguan psikiatris yang tertera dalam daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)1. Menurut psikolog klinis Universitas Padjadjaran Ahmad Gimmy, penamaan dua sindrom ini memang belum tergolong ke dalam penyakit mental atau psikopatologi. Ini masih pendapat umum untuk menamai suatu fenomena saja.

“Sementara ini [istilah itu] masih milik orang awam. Istilah itu untuk memudahkan saja, tidak mungkin kondisinya 100 persen sama. Paling gampang ya tokoh-tokoh film, tokoh cerita,” kata Gimmy saat dijumpai Tirto.id di kampusnya.

Baca juga artikel terkait PETER PAN atau tulisan menarik lainnya Rahman Fauzi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Rahman Fauzi
Penulis: Rahman Fauzi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight