Mengenal Apa Itu Princess Syndrome: Ciri-Ciri dan Penyebabnya

Penulis: Yonada Nancy, tirto.id - 27 Feb 2023 15:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Princess syndrome adalah istilah untuk menggambarkan seseorang perempuan yang bersikap dan berperilaku selayaknya tuan putri.
tirto.id - Sindrom tuan putri atau princess syndrome adalah salah satu bentuk perilaku kompleks yang tidak biasa pada perempuan.

Meskipun disebut dengan kata 'sindrom', princess syndrome tidak tercantum di DSM V atau buku manual diagnostik untuk kondisi kesehatan mental. Singkatnya, princess syndrome bukanlah kondisi medis.

Belakangan ini istilah princess syndrome banyak dibicarakan oleh warganet menyusul kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak. Kasus tersebut melibatkan seorang saksi remaja berinisial A (15), yang merupakan kekasih pelaku sekaligus mantan kekasih korban.

Banyak warganet yang mengaitkan saksi A mengalami princess syndrome, karena dinilai terlibat dalam kasus penganiayaan itu. Hal ini menyebabkan saksi A dan istilah princess syndrome sempat menjadi topik populer di berbagai platform media sosial.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan princess syndrome itu?


Mengenal Apa Itu Princess Syndrome


Princess syndrome adalah istilah baru untuk menggambarkan perilaku kompleks yang dimiliki oleh seseorang. Princess syndrome juga dikenal dengan sebutan lain, yaitu Cinderella syndrome atau Cinderella complex.

Penulis sekaligus psikolog klinis di California Southern University, Nancy Irwin menyebutkan bahwa princess syndrome adalah istilah untuk menggambarkan seseorang perempuan yang bersikap dan berperilaku selayaknya tuan putri, dewi, atau sosok penting lainnya.

Orang yang mengalami princess syndrome cenderung menggambarkan diri mereka sebagai sosok yang luar biasa dan penting untuk diperlakukan layaknya seorang putri.

Sesuai sebutannya, istilah princess syndrome diambil dari pandangan stereotip karakter putri di dalam novel dan dongeng. Para tuan putri pada kisah-kisah urban itu sering kali digambarkan cantik, baik hati, dan dicintai banyak orang.

Selayaknya seorang tuan putri, orang dengan princess syndrome merasa dirinya lemah dan perlu diselamatkan oleh sosok "ksatria berbaju zirah."

"Princess syndrome memiliki ekspektasi ang tidak masuk akal bahwa mereka pantas mendapatkan lebih banyak dan bisa mendapatkan lebih banyak lagi," ujar Irwin seperti yang dikutip dari website resminya, Senin (27/2/2023).


Ciri-Ciri Seseorang Mengalami Princess Syndrome


Seseorang yang mengalami princess syndrome memiliki perilaku yang cenderung narsistik. Masih menurut Irwin, berikut beberapa tanda seseorang mengalami princess syndrome:

  • Sering menolak untuk mengerjakan sesuatu karena alasan yang tidak relevan, seperti menghindari mengangkat barang karena takut berkeringat.
  • Berorientasi pada penampilan dan membangun harga diri dengan berpenampilan cantik.
  • Terobsesi pada penampilan dan citra diri yang sempurna.
  • Sulit menghargai usaha dan penampilan orang lain.
  • Sering mengabaikan perasaan orang lain.
  • Secara kronis mengeluh, merengek, bimbang, dan merasa segala sesuatu tidak cukup baik untuk mereka.
  • Menolak orang lain yang mereka anggap tidak 'selevel' dengan mereka.
  • Selalu meminta seseorang melakukan sesuatu untuknya dan merasa bahwa itu sudah kewajiban orang lain untuk membantunya.
  • Kesulitan berkompromi dalam hubungan yang setara.
  • Merasa bersaing dengan wanita lain.
  • Terus menerus menunjukkan kebutuhan ingin barang, pujian, atau uang.
  • Memiliki ekspektasi yang tidak realistis tentang bagaimana dirinya dan bagaimana ia harus diperlakukan oleh orang lain.
  • Merasa diri sendiri sebagai pusat alam semesta.

Penyebab dan Cara Mencegah Princess Syndrome


Dikutip dari Psychology Today, ada banyak penyebab seseorang bisa terkena princess syndrome, mulai dari pola asuh hingga perlakuan istimewa yang ia peroleh dari lingkungan dalam waktu lama.

Ini bisa terjadi karena orang tua memberikan pujian berlebihan kepada anak sehingga memengaruhi harga dirinya. Ini biasa terjadi pada orang tua yang memberikan label kepada anak bahwa mereka adalah seorang 'putri', 'dewi', atau sosok istimewa lainnya.

Tentu orang tua bermaksud untuk memuji anak-anak agar merasa bahwa diri mereka berharga. Sayangnya, anak-anak belum bisa menangkap makna jelas dari pujian itu, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang berisiko mereka percayai hingga dewasa.

Hal ini memicu mereka berpikir bahwa orang lain selain orang tua juga akan memperlakukan dirinya sebagai sosok istimewa dan tumbuh dengan harga diri itu.

Oleh karena itu, pola asuh dari orang tua sangat penting untuk mencegah anak tumbung dengan princess syndrome.

Masih menurut Psychology Today, ada beberapa tips bagi orang tua untuk mencegah princess syndrome, sebagai berikut:

  • Puji anak-anak atas kerja kerasnya, buka bakat apa lagi penampilannya.
  • Hindari memberinya panggilan kasih sayang seperti "putri" atau "ratu" (kecuali memang berdarah bangsawan), "dewi", "diva", "bintang", atau panggilan sejenis lainnya.
  • Sampaikan kepada anak-anak bahwa karakter stereotip putri hanya terjadi di dongeng dan kartun.
  • Dukung anak menemukan nilai mereka sendiri, bisa melalui bakat, hobi, hingga keterampilan.
  • Ajarkan anak mengenakan make-up atau berdandan sesuai usianya.
  • Tanamkan untuk menghormati orang dan wanita lain dari segala usia, warna kulit, ataupun tipe tubuh.
  • Contohkan citra diri yang positif di lingkungan rumah maupun sosial.


Baca juga artikel terkait PRINCESS SYNDROME atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora

DarkLight