Saadah Alim, Simbol Emansipasi Perempuan di Minangkabau

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama, tirto.id - 15 Jul 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pandangan-pandangannya tentang emansipasi perempuan membuat Saadah Alim dianggap terlalu mengagungkan Barat.
tirto.id - Warsa 1917, terbit sebuah majalah bernama Soeara Perempoean di Minangkabau. Berbeda dengan surat kabar Soenting Melajoe yang masih berorientasikan kemapanan sosial, adat, dan tradisi, Soeara Perempoean dicap sebagai media massa perempuan radikal dengan mengusung slogan vrijheid (kebebasan).

Menurut Aura Asmaradana dalam Yang Terlupakan dan Dilupakan (2021), hal tersebut setidaknya tercantum dalam salah satu tulisannya yang dimuat pada tahun 1908:

"Dalam adat, perempuan memiliki kedudukan yang tinggi, namun faktanya, kemerdekaan mereka tanpa arti. Perempuan hidup seperti burung di dalam sangkar. Inikah kesetaraan?"

Sontak, tulisan tersebut menuai polemik. Djohanis, seorang penulis Soenting Melajoe, menyebut kelompok yang mengusung slogan vrijheid telah menyimpang dari adat istiadat Minangkabau.

Kecaman berlanjut, kali ini dalam bentuk syair yang dimuat surat kabar Perempoean Bergerak edisi 16 Mei 1919, hlm. 3:

"Redaksi Soeara Perempoean

Saadah Percaja Barat goeroe dermawan

Serta onderwijzeressen T. Sidempoean

Bawa kemari boeah tangan toean-toean"

Saadah dalam baris kedua syair tersebut adalah sosok perempuan bernama lengkap Saadah Alim yang menyulut terjadinya polemik karena dianggap terlalu mengagungkan Barat. Bersama majalah Soeara Perempoean yang didirikannya, ia dianggap sebagai simbol dari gerakan emansipasi perempuan fase kedua di Minangkabau, setelah fase pertama disimbolkan dengan sosok Rohana Kudus dan Soenting Melajoe.


Menyulut Reaksi Kaum Adat

Saadah lahir di Padang pada 9 Juni 1898. Ia bersuamikan seorang guru bernama Alim Sultan Maharaja Besar. Mestika Zed dalam Kota Padang Tempo Doeloe Zaman Kolonial (seri manuskrip no. 04, 2009), menyebutnya sebagai "Mijoefrouw Sa'adah dari Seberang Padang, tamatan Sekolah Raja Bukittinggi."

Dikutip dari Ensiklopedia Sastra Indonesia, setelah lulus Sekolah Raja (Kweekschool), ia bekerja sebagai guru di HIS (Holland Inlandsche School) di Padang dari tahun 1918 hingga 1920. Selanjutnya, ia pindah ke Padang Panjang dan melanjutkan pekerjaan sebagai guru di Meisjes Normaal School (Sekolah Guru Putri).

Ia meyakini bahwa pendidikan modern dan emansipasi perempuan dari Eropa adalah gerbang untuk kebebasan dan kemajuan perempuan Minangkabau.

"Dengan kata lain, perempuan harus lepas dari lingkungan adat dan ninik mamak (pemuka adat)," tulis Aura Asmaradana (2021).

Sikap dan pandangannya dimanifestasikan melalui majalah Soeara Perempoean, dan segera mendapat penentangan dari kaum adat. Saat itu, Datuk Sutan Maharadja, Pemred Oetoesan Melajoe dan simbol kaum adat, menuding bahwa kebebasan yang digaungkan Saadah sebagai hasrat untuk dapat bergaul bebas dengan laki-laki, yang jelas sangat terlarang dalam adat istiadat Minangkabau.

Lebih lanjut dalam sebuah editorial surat kabar Oetoesan Melajoe tanggal 25 Agustus 1929, Saadah digambarkan telah berjalan malam bersama anggota Jong Sumatranen Bond, Moh. Amir. Ia ditampilkan sebagai sosok perempuan yang tidak dapat dibenarkan dalam sikap dan pandangannya.


Saadah membantah segala tudingan. Menurutnya, ia hanya ingin memperjuangkan kebebasan perempuan agar dapat mengembangkan potensi dalam dirinya dan memiliki kendali untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Saat itu, imbuhnya, perempuan Minangkabau masih takut untuk mengenyam pendidikan modern, akibat dari anggapan masyarakat bahwa pendidikan yang baik untuk perempuan adalah pendidikan yang berkutat dalam ranah domestik (memasak dan menjahit).

Selain itu, meski adat menganut sistem matrilineal, perempuan belum memiliki kendali untuk menentukan pasangan hidupnya, pernikahan masih ditentukan oleh perjodohan.

Seturut Joke Schrijvers & Els Postel-Coster dalam Minangkabau Women: Change in a Matrilineal Society (Archipel, Volume 13, 1977), Saadah selanjutnya mengkritik praktik poligami. Menurutnya, poligami menjadi sumber penderitaan untuk perempuan karena terlalu memberi kebebasan kepada laki-laki dalam menentukan pilihan hidupnya.

Selain itu, dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, ia tercatat "aktif mengadakan openbare vergadering (rapat terbuka) di Padang. Para pendengarnya bukan hanya kaum perempuan, tetapi juga para orang tua, kaum bapak. Dia 'meminta soepaja bapak-bapak meroentoehkan pikiran lama tentang kamadjoean perempuan'," pungkas Mestika Zed (2009).

Mengutip kembali Aura Asmaradana (2021), meski dicap sebagai simbol emansipasi yang radikal, ia tidak menutup diri pada peran laki-laki selama dapat mendukung kemajuan perempuan. Hal tersebut setidaknya terlihat dari keberadaan karya sejumlah penulis laki-laki, seperti Mohamad Hatta, Bahder Djohan, Mohammad Yamin, dan Adi Negoro yang dimuat dalam majalah Soeara Perempoean.

Kemudian, dalam Kongres SKIS (Sarikat Kaoem Iboe Soematra) yang berlangsung pada tanggal 17-18 Agustus 1929 di Gedung Bioskop Scala, Bukittinggi, ia menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan harus saling mendukung untuk kemajuan.


Bergiat dalam Penerjemahan dan Sastra

Pada 1925, setelah meninggalkan Soeara Perempoean, ia membantu penerbitan majalah Bintang Hindia dan Bintang Timoer. Empat belas tahun kemudian, Saadah menjadi pembantu Poestaka Timoer. Selanjutnya pada tahun 1940, ia menjadi pembantu dari Het Dag Blad Volks Editie dari Java Bode.

Masih di tahun 1940, ia kemudian menjamah lini penerjemahan. Karya pertama yang ia terjemahkan adalah sebuah diktat yang berjudul Ilmu Membalut: Untuk Kursus-kursus Buat Memberi Pertolongan jang Pertama kepada Orang jang Mendapat Ketjelakaan, yang tersimpan di US National Library of Medicine.

Kemudian dalam rentang tahun 1941-1952, ia telah menerjemahkan karya-karya dari penulis luar negeri, seperti Jalan Pengasingan karya F. A. Volkers, Pengalaman Huckleberry Finn karya Mark Twain, Rahasia Bilik Kuning karya Diet Kramer, Jacob si Lurus Hati karya Kapitein Marryat, hingga karya dari penulis perempuan Amerika yang pernah mendapat hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1938, Pearl S. Buck yang berjudul Angin Barat Angin Timur.

Infografik Mozaik Saadah Alim
Infografik Mozaik Saadah Alim. tirto.id/Ecun


Selain aktif dalam penerbitan dan penerjemahan, Saadah juga dikenal sebagai pengarang. Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1976), memasukkan Saadah sebagai salah satu pengarang perempuan periode 1933-1942. Ia tercatat pernah menulis naskah drama berjudul Pembalasannja yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1940 dan sudah mengalami tiga kali cetak ulang.

Tema yang diangkat dalam naskah drama tersebut tentang konflik suami istri yang terjadi akibat pernikahan yang dipaksakan (perjodohan).

Setelah itu, Saadah menulis kumpulan cerpen berjudul Taman Penghibur Hati yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1941. Menurut Ajip Rosidi (1976), sebagai karya "[...] yang diberinya keterangan ‘beberapa cerita pergaulan’ tidaklah berhasil sebagai cerpen."

Hal itu dilihatnya dari cara Saadah mengangkat persoalan dalam cerita dan cara mengisahkannya yang tidak terlalu baik. Lebih dari itu, kumpulan cerpennya cenderung menampilkan sifat menutup diri pada pengaruh Barat dan mengarah pada upaya untuk mempertahankan tradisi dan adat lama.

Di masa tuanya, pengarang yang memiliki nama pena Aida S.A tersebut banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai pelindung yang baik bagi para perantau, khususnya mahasiswa dari Minangkabau.

Saadah Alim tutup usia pada tanggal 18 Agustus 1968. Jenazahnya dimakamkan TPU Karet.

Baca juga artikel terkait EMANSIPASI PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Andika Yudhistira Pratama
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama
Penulis: Andika Yudhistira Pratama
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight