Rock N Roll dan Bagaimana Kamu Memilih Untuk Mati

Jim Morrison. FOTO/Joel Brodsky
Oleh: Nuran Wibisono - 29 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Manusia-manusia penghuni dunia bernama rock n roll ini seolah menolak meninggal dengan cara wajar. Karena rock adalah panggung sandiwara, maka bintangnya pun harus meninggal dengan cara yang patut dikenang
tirto.id - Pada suatu masa di dekade 60-an, seorang reporter bertanya pada John Lennon, "Kamu ingin mati dengan cara apa?"

"Entahlah. Mungkin aku akan ditembak oleh orang gila," kata Lennon.

Entah dia cenayang, atau kalimat itu dia ucapkan saat ada malaikat lewat di sebelahnya. Pada 8 Desember 1980, John Lennon yang sedang berjalan pulang menuju apartemennya bersama Yoko Ono, ditembak lima kali dari belakang oleh Mark David Chapman. Tim hukum pembela Chapman, berdalih kalau klien mereka adalah orang gila dan karenanya tak layak dihukum. Chapman sendiri pernah beberapa kali bilang ke pengacaranya kalau membunuh Lennon adalah perintah tuhan. Tapi toh akhirnya wong edan ini dihukum 20 tahun penjara yang dibarengi dengan perawatan mental.

Bagi manusia, kematian adalah sebuah keniscayaan. Tapi dalam rock n roll, kematian punya banyak arti: komedi, tragedi, juga histeria. Manusia-manusia penghuni dunia bernama rock n roll ini seolah menolak meninggal dengan cara wajar. Karena rock adalah panggung sandiwara, maka bintangnya pun harus meninggal dengan cara yang patut dikenang. Mulai dari mati tenggelam di kolam renang, kesetrum saat bermain gitar, keselek ceri, hingga tak sengaja menembak kepala sendiri. Di luar kematian aneh itu, kematian di dunia rock n roll banyak terkait dengan gaya hidup yang ugal-ugalan. Entah itu karena overdosis heroin, kecelakaan, bunuh diri, atau mati tercekik muntahannya sendiri.

Dunia musik pernah mengalami duka penuh seluruh pada dekade 1970-1971. Saat itu, dalam rentang 11 bulan, tiga musisi rock ikonik meninggal dunia. Jimi Hendrix pada September 1970, Janis Joplin sebulan kemudian, dan Jim Morrison pada Juli 1971. Tiga orang rock star ini meninggal dengan sebab yang berbeda-beda. Hendrix meninggal karena asphyxia (kekurangan oksigen dalam tubuh). Joplin mangkat karena overdosis heroin. Dan Jim, meski tidak diotopsi, dianggap meninggal karena serangan jantung.

Pada 2015, Dianna Theadora Kenny, profesor di jurusan Psychology and Music, Universitas Sydney, menerbitkan hasil penelitiannya tentang kematian dalam dunia musik. Untuk penelitian yang terdiri dari tiga seri ini, Dianna mengambil data dari 12.665 musisi populer dari segala jenis genre yang meninggal dalam rentang 1950 hingga Juni 2014. Sekitar 90 persennya adalah lelaki. Data umur dan penyebab kematian dihimpun dari 200 sumber, mulai dari buku, situs genre musik tertentu, hingga sumber ensiklopedi digital seperti Wikipedia.

Ada banyak temuan menarik dari penelitian Dianna. Misalkan untuk kematian karena kecelakaan. Dalam rentang 2001-2010, 12 persen penyebab kematian musisi adalah kecelakaan. Sedangkan kematian musisi karena bunuh diri mencapai 4,6 persen dalam rentang serupa. Di waktu yang sama, sekitar 4,9 persennya meninggal karena pembunuhan.

"Hasil dari kajian ini amat menggelisahkan. Dalam 7 dekade penelitian, angka harapan musisi populer ini 25 tahun lebih singkat ketimbang angka harapan hidup warga AS pada umumnya," tulis Dianna. "Angka bunuh dirinya lebih tinggi 2 hingga 7 kali, dan pembunuhannya 8 kali lebih tinggi."

Temuan menarik lain adalah terkait genre. Musisi dari genre "tua", seperti blues, jazz (termasuk bebop), country, dan gospel, rata-rata meninggal di usia 60 hingga 68 tahun. Tak jauh berbeda dengan warga AS pada umumnya. Sedangkan antonimnya adalah musisi dari genre yang lebih muda, seperti rock, punk, metal, rap, juga hip-hop. Dari penelitian Dianna, rata-rata musisi genre itu, meninggal di usia 28 hingga 45 tahun. Yang paling rendah adalah musisi perempuan di genre rap, yang rata-rata meninggal di usia 28 tahun.

Dianna belum menemukan jawaban soal hal itu. Tapi secara tersurat, dia mengaitkannya dengan pola gaya hidup. Dalam dunia rock, metal, hip-hop, artisnya banyak yang menjalani gaya hidup ugal-ugalan yang tentu punya imbas besar bagi kesehatan.

"Dunia musik pop gagal menyediakan batasan, juga gagal menyediakan pola perilaku yang dapat diterima. Malah kebalikannya, para bintangnya bertingkah agresif, impulsif, bebas perkara seks, dan destruktif, sebuah gaya hidup yang bagi orang kebanyakan hanya ada dalam dunia fantasi," kata Dianna.

Ada banyak penyebab kematian di dunia musik. Dianna membuat lima kelompok penyebab kematian para musisi: kecelakaan (termasuk overdosis), bunuh diri, pembunuhan, jantung (termasuk penyakit lain yang berkaitan), dan kanker. Persentase penyebab kematian ini berbeda untuk tiap genre.

Misalkan untuk musisi di genre blues. Sekitar 28 persennya meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan serangan jantung. Sedangkan untuk musisi rock, penyebab kematian terbesarnya ada dua, yakni kecelakaan sebesar 24,4 persen dan kanker 24,7 persen. Di genre rap dan hip hop, masing-masing penyebab kematian terbesar adalah pembunuhan, mencapai 51 persen.

"Tingginya kematian karena pembunuhan di genre rap dan hip-hop bisa jadi karena kuatnya asosiasi genre tersebut dengan kriminalitas terkait drugs, juga kultur geng," kata Dianna.

Bunuh diri juga menjadi penyebab kematian yang cukup umum. Di genre punk, 11 persen kematian disebabkan oleh bunuh diri. Kematian karena bunuh diri paling banyak terjadi di musisi metal, dengan angka 19,3 persen. Sedangkan yang paling kecil ada pada musisi gospel hanya sekitar 0,9 persen. Tentu saja. Bagi mereka yang dekat dengan agama, bunuh diri adalah cara mati yang dibenci tuhan.

Dari semua genre, kematian karena penyakit jantung mencapai 17 persen. Di tahun ini, musisi George Michael dikabarkan meninggal karena serangan jantung. Begitu pula musisi Paul Kantner dan Leon Russel.

Kanker juga menjadi momok yang menakutkan. Penyebab kematiannya mencapai 23,4 persen dari semua genre musik. Yang paling besar terjadi di genre folk (32,3 persen) dan jazz (30,6 persen). Tahun ini, setidaknya empat orang musisi meninggal karena kanker. Yakni David Bowie, Leonard Cohen, Sharon Jones, dan Greg Lake.

Menurut Dianna, penelitiannya adalah kuantitatif yang bertujuan mengenali risiko kerja dalam dunia musik populer. Karenanya, Dianna hanya bisa berspekulasi tentang penyebab risiko. Tapi apa yang dikira-kira oleh Dianna, sudah menjadi pengetahuan umum.



Musisi bukanlah manusia biasa. Mulai dari gaya hidup hingga rutinitas, nyaris amat berbeda dengan manusia pada umumnya. Tingginya konsumsi alkohol, kecanduan obat-obatan, jam biologis yang terbalik, tur, tingginya tingkat stress, amat berpengaruh terhadap kesehatan, dan pada akhirnya umur.

Temuan serupa juga bisa dibaca di penelitian yang dilakukan oleh Bellis MA dan para sekondannya. Di jurnal berjudul Elvis to Eminem: Quantifying the Price of Fame Through Early Mortality of European and North American Rock and Pop Stars, para peneliti itu mengamati tentang kematian prematur. Partisipan penelitiannya adalah para musisi dari Amerika Utara dan Eropa yang bermain di semua album yang masuk dalam daftar All Time Top 1000 Albums, baik dari genre rock, punk, rap, hingga elektronika. Salah satu hasil dari penelitiannya adalah, rata-rata angka kematian musisi adalah 41,8 tahun dan 45,2 tahun.

"Banyak musisi dari genre yang lebih muda, tampaknya tidak hidup begitu lama untuk bisa mengalami sakit di usia pertengahan dan usia tua," kata Dianna.

Baca juga artikel terkait KEMATIAN MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight