27 Desember 1923

Riwayat Gustave Eiffel: Penyihir Besi yang Tersandung Kasus Korupsi

Oleh: Muhammad Fakhriansyah - 27 Desember 2021
Dibaca Normal 4 menit
Menara karya Eiffel hingga kiwari masih kokoh berdiri di kota Paris. Namun, bagaimana kesudahan hidup perancangnya?
tirto.id - Alexandre Gustave Eiffel tidak pernah menyangka jika dirinya akan dikenal sebagai orang yang berkecimpung di dunia konstruksi. Dari kecil hingga remaja, ia sangat berminat dalam bidang kimia karena sering menghabiskan waktu di pabrik cuka dan spiritus milik pamannya. Di sana ia belajar memproduksi barang sekaligus menerapkan ilmu-ilmu akademis yang didapatkan dari sekolah, khususnya kimia. Ketertarikan terhadap ilmu pasti membuatnya berhasil menempuh pendidikan tinggi dan berhak menyandang gelar insinyur kimia pada 1855.

Meski demikian, perhatiannya pada kimia beralih tidak lama setelah ia lulus. Sekali waktu di pertengahan tahun 1855, kota tempat tinggalnya, Dijon, ramai dengan pemberitaan pameran internasional terbesar yang diadakan di Paris: Exposition Universelle. Sebagai pemuda yang baru lulus kuliah, pria kelahiran 15 Desember 1832 itu sangat ingin pergi ke Paris dan yakin lawatannya akan membuka pemikiran dan mengubah hidupnya.

Sesampainya di pameran, ia melihat riuhnya perkembangan industri-industri global dan mulai menyadari bahwa dirinya harus mengikuti arus perkembangan dunia dan tidak bisa hanya menggeluti kimia. Alhasil, ia pun keluar dari zona nyamannya dan memilih industri metalurgi sebagai jalan hidup selanjutnya.

Sebagai lulusan kimia yang tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan di luar ilmu tersebut, terjun ke metalurgi adalah suatu hal yang sulit. Sebagai awalan dalam menekuni karier baru, ia magang kepada saudaranya yang mengelola pabrik pembuatan besi. Di sanalah ia mulai memahami mekanisme metalurgi.

Setahun berselang tepatnya pada Februari 1856, Eiffel bekerja dengan teknisi kereta api ternama di Prancis, Charles Nepveu. Profesi barunya sebagai sekretaris pribadi Nepveu menjadi titik balik kehidupan Eiffel. Ia menemani bosnya kemana pun pergi sekaligus menyerap banyak ilmu darinya. ada 1860 ia diikutsertakan sebagai perancang dalam proyek bersama kontraktor La Compagnie des Chemins de Fer de l'Ouest (Perusahaan Kereta Api Prancis) untuk membangun jembatan besi di Bordeaux.

Kala itu, pembangunan jembatan besi adalah sesuatu yang baru dan sulit. Di seluruh Prancis tidak ada satupun konstruksi jembatan yang sepenuhnya menggunakan besi dengan ukuran yang panjang—kebanyakan menggunakan kombinasi kayu dan batu bata. Apalagi pembangunan dengan sistem seperti itu seringkali mengalami kendala teknis selama proses pembuatan. Belum lagi permasalahan biaya dan waktu yang semakin membuat kontraktor enggan melakukannya.

Kondisi ini yang menjadi tantangan bagi Eiffel dalam pembuatan rancangan. Beruntungnya, dari sekian banyak rancangan yang diterima, milik Eiffel-lah yang dipilih. Ia lantas dipromosikan sebagai penanggung jawab proyek. Dalam pekerjaan ini, ia tidak hanya memulai proyek perdananya sekaligus juga memulai proyek yang menjadi catatan awal terhadap transformasi struktur bangunan, tapi juga menjadi pertaruhan reputasi Eiffel.

Ia mengawasi dengan ketat proses produksi, distribusi, hingga pemasangan sambungan-sambungan besi dengan panjang 500 meter yang membentang di atas Sungai Garonne. Hingga akhirnya pada 1861 proyek dinyatakan selesai tanpa ada kegagalan sedikit pun.

Menurut David I. Harvie dalam Eiffel: The Genius Who Reinvented Himself (2004), keberhasilan ini membuat nama Eiffel melambung. Ia sukses membangun jembatan dengan cara-cara inovatif dengan perhitungan matematis yang tepat serta pelaksanaan yang terkontrol. Eiffel membuat perusahaan konstruksinya meraih keuntungan lebih. Dari sini, tawaran sebagai pemimpin proyek jembatan semakin banyak.

Mengutip Britannica, dalam kurun waktu 1860-1877 Eiffel tercatat memimpin berbagai pembangunan proyek jembatan dengan menggunakan bentuk, modal, dan metode terbarukan. Salah satu yang paling ikonik adalah Jembatan Garabit yang berlokasi di Pegunungan Massif Central. Jembatan ini memiliki bentuk dasar melengkung dengan panjang hampir 600 meter yang menghubungkan dua bukit.

Sang Penyihir Besi

Setelah berpengalaman membangun jembatan, Eiffel hendak menjalani tantangan baru: memulai proyek bangunan tinggi berbahan dasar besi. Pekerjaan pertamanya dimulai pada tahun 1881. Kala itu, Frederic Auguste Bartholdi yang sedang menggarap patung dalam rangka peringatan satu abad kemerdekaan AS dilanda kesulitan dalam merumuskan bentuk patung yang “ramah” terhadap hambatan angin. Bartholdi kemudian meminta Eiffel untuk membantunya merancang bentuk patung.

Keduanya berdikusi intens dan melakukan perhitungan ulang secara cermat hingga menghasilkan bentuk patung yang masih berdiri tegak sampai sekarang—yang dikenal sebagai Patung Liberty. Keikutsertaannya dalam proyek tersebut berhasil membuat reputasi Eiffel kian melambung dan menjadi perbincangan banyak arsitek dan insinyur.

Tidak lama berselang, Eiffel ikut serta dalam pameran internasional: Paris Exposition Universelle International 1889. Dalam gelaran tersebut, pemerintah Prancis ingin perhelatan tidak hanya memamerkan karya seni dan pengetahuan, tapi juga menampilkan ikon fisik berupa monumen yang dapat mencerminkan kekuatan Prancis. Maka itu, pemerintah mengadakan sayembara pembangunan monumen pada 1886. Eiffel tertarik mengikutinya.

Melalui perusahaan konstruksinya, ia dan ketiga anak buahnya: Stephen Sauvestre, Nouguier, dan Koechlin, berdiskusi menentukan cetak biru yang hendak diserahkan kepada panitia. Lalu lahirlah sebuah rancangan bangunan besi setinggi 300 meter yang terdiri dari empat pondasi yang melengkung di bagian bawah dan menyatu di bagian atas yang disambungkan dengan kerangka hingga menjulang ke atas. Semua dihitung dengan cermat oleh Eiffel agar rancangan dapat dibangun secara cepat, mengingat proyek menara yang harus selesai dalam waktu tiga tahun.

Dari perhitungannya, Eiffel melampirkan bahwa berat total rancangannya mencapai 7.000 ton dan memakan biaya 6,5 juta franc. Untuk lebih meyakinkan panitia, ia memastikan bahwa menara dapat dibongkar pasang dan dipindahkan ke lokasi lain—satu hal yang tidak mungkin terjadi jika menara dibangun di atas tumpukan batu.

Eiffel percaya diri rancangannya akan diterima oleh panitia karena ia memiliki pengalaman konstruksi yang sukses dan gagasannya akan menara itu cukup antimainstream. Baginya, menara rancangannya dapat menjadi pertanda kemajuan industri dan pengetahuan modern sekaligus melambangkan kejayaan Prancis dalam rangka peringatan 100 tahun Revolusi Prancis pada 1889.

Pada Juni 1886 rancangan Eiffel terpilih dan berhak untuk dibangun. Akan tetapi, akibat banyaknya pertentangan dalam pembangunan, proyek itu baru digarap pada bulan November dan selesai pada 31 Maret 1889. Berdiri tegaknya menara itu menjadi titik tertinggi dalam karier Eiffel. Dari sinilah sebutan “Magicion of Iron” atau “Penyihir Besi” disematkan kepadanya sebagai bentuk apresiasi dalam membangun menara besi yang spektakuler.


Infografik Mozaik Gustave Eiffel
Infografik Mozaik Gustave Eiffel. tirto.id/Sabit

Skandal Terusan Panama

Beberapa tahun kemudian, Eiffel kembali menjadi bahan perbincangan karena terlibat dalam salah satu skandal terbesar di Prancis: Skandal Panama. Alkisah, pada 1888 Eiffel diajak oleh inisiator proyek Terusan Suez, Ferdinand de Lesseps, untuk ikut merancang dan menjadi pimpinan proyek terusan yang menghubungkan Atlantik dengan Pasifik (kelak disebut Terusan Panama).
Rancangan dana proyek ini berasal dari para investor di seluruh dunia yang gagal dikelola dengan baik. Uang yang terkumpul malah dipakai untuk membuka usaha baru dan menyogok anggota parlemen.

Ketika kabar ini mencuat, para petinggi proyek termasuk Eiffel langsung diadili. Pada Februari 1893, ia didakwa telah menerima sejumlah uang yang dipakai dalam pekerjaan yang dia tidak lakukan serta dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan denda 20.000 franc. Meskipun beberapa bulan kemudian dirinya direhabilitasi dan dibebaskan dari penjara, namun namanya sudah terlanjur meredup dan ternodai. Ia pun keluar dari hiruk dunia usaha dan menjauhi urusan konstruksi.

Eiffel lalu memilih bekerja di balik laboratorium: kembali menekuni dan melakukan eksperimen kimia, fisika, dan aerodinamika. Dari sini kemudian lahir karya barunya di luar konstruksi bangunan yang juga bermanfaat untuk kehidupan. Warsa 1920 ia memutuskan pensiun dari pekerjaannya. Tiga tahun setelahnya, yakni pada 27 Desember 1923, tepat hari ini 98 tahun lalu, Eiffel meninggal dunia.

Baca juga artikel terkait MENARA EIFFEL atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight