Riuh Rendah Porsi LGBTI di Media Massa

Oleh: Aulia Adam - 28 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Siapa yang paling banyak melakukan kekerasan terhadap kaum LGBTI? Pertama, Ormas. Kedua, aparat pemerintah. Ketiga, media massa. Bagaimana bisa?
tirto.id - Phesi Ester Julikawati adalah seorang wartawan pemberani. Pada 8 April lalu ia menulis kisah unik dengan tema kontroversial di media tempatnya bekerja, Tempo. Phesi yang berdomisili di kota Bengkulu berangkat ke Lebong, berjarak 150 kilometer atau 5 jam perjalanan darat, untuk meliput kisah itu.

Di Lebong, ia menemukan keharmonisan hidup para waria yang termasuk dalam kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual, dan Interseks (LGBTI) di tengah masyarakat. Dalam laporannya, Phesi bertemu Syahrial, seorang guru dan mantan kepala sekolah yang juga seorang waria. Ia juga bertemu waria lain yang sedang menjabat sebagai kepala desa waktu itu, bernama Dalimi.

Kisah yang dilaporkan Phesi menjadi unik di tengah diskriminasi masif yang diterima LGBTI. Dalam laman Facebooknya, tempat ia menyebarkan tautan laporan tersebut, sejumlah kawan mengapresiasi liputannya. Tapi lebih banyak yang menghujat. Bahkan ada yang berniat memusnahkan Phesi dan media tempatnya menulis.

Dalam riset yang dilakukan selama 35 hari, sejak 15 Juli hingga 30 Agustus lalu itu, Aliansi Jurnalis Independen menemukan bahwa media Indonesia masih belum memberi ruang cukup pada kelompok minoritas satu ini. Di 20 media besar lokal maupun nasional, AJI tak jarang menemukan frasa-frasa kebencian yang memang ditujukan kepada LGBTI.

Rendahnya jumlah narasumber LGBTI juga jadi penanda timpangnya pemberitaan terhadap kelompok ini. Dari empat jenis narasumber yang dibagi AJI, LGBTI yang harusnya menjadi narasumber utama pada 123 berita yang diteliti malah menempati posisi buncit.

Setelah melakukan pertemuan dengan 20 editor dari berbagai media, baik siar, daring, dan cetak pada November 2015 lalu, AJI mengetahui ada tiga faktor utama yang memengaruhi terjadinya hal ini. Pertama, sebagian media belum mendidik reporter, bahkan editor, soal bagaimana menulis isu yang sensitif. Sehingga pemberitaan yang tidak merangkum semua pihak masih dominan dalam temuan pada 123 berita yang diteliti.

Kedua, kebanyakan media tidak memiliki panduan bagaimana menulis isu LGBTI. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang isu ini. Stigma dan label negatif yang kepalang melekat pada kaum LGBTI akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi sang jurnalis.

“Hanya wartawan pemberani yang berani menulis isu ini dengan berimbang,” kata Agung Sedayu, anggota AJI. “Contohnya, Phesi. Di laman Facebook-nya sendiri saja ada orang yang tidak paham berani langsung mengeluarkan ujaran kebencian.”

Ditambahkan Agung, jurnalis yang berani mengambil isu sensitif biasanya terjebak dalam dua ketakutan. Pertama, takut dicap jelek karena membela minoritas. Kedua, tulisan-tulisan yang baik tentang kaum minoritas yang didiskriminasi cenderung tidak laku.

“Besar sekali tantangan jurnalis melakukan hal ini. Belum lagi, kalau punya atasan yang tidak paham bagaimana harusnya media meliput isu sensitif,” tambah Agung.

IInfografik Riuh Rendah Suara LGBT Indonesia di Media


Faktor ketiga adalah yang paling mendasar, yakni kurang memahami Kode Etik Jurnalistik. Padahal, dalam KEJ, pelaku jurnalistik diwajibkan untuk tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Poin terakhir jadi poin paling penting. Di ujung risetnya AJI menganjurkan media-media untuk melakukan pelatihan kepada wartawan-wartawannya. Demi menghindari kekerasan simbolik media karena diksi-diksi yang muncul dalam pemberitaan.

Dalam laporan berjudul “Kekerasan pada LGBT” yang disampaikan Forum LGBT Indonesia dalam seminar Refleksi 10 Tahun Yogyakarta Principles, media di Indonesia menempati posisi kedua pelaku kekerasan pada LGBT, setelah Aparatur Negara dan Ormas. Persentasenya mencapai 22 persen, selisih sedikit dari posisi pertama yang masing-masing mencapai 27 persen.

Dede Oetomo, pejuang hak LGBTI, sudah mafhum dengan keadaan ini. Menurutnya, saran yang dihaturkan AJI adalah salah satu jalan yang harus dijalankan di masa-masa ini. Ia juga mengapresiasi tulisan Phesi.

“Hebat juga itu yang di Lebong. Berita luar biasa begitu bisa juga tidak sampai ke telinga kita (lembaga swadaya perjuangan hak LGBT). Padahal itu kabar baik. Bahwa masih banyak orang-orang baik yang penuh toleransi di negeri ini. Harusnya, berita baik begini yang dibesarkan,” kata Dede.

Tapi menurutnya wajar saja hal ini terjadi. Akibat stigma negatif yang lekat pada LGBTI, masih banyak pribadi yang tidak berani terbuka pada publik. Sehingga lebih memilih tidak mendekati media. Mereka belum berani jika pribadinya muncul di media.

Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Zen RS