Menuju konten utama

Risiko Ibu Hamil Melahirkan di Pesawat

Melahirkan di pesawat mungkin tampak keren dan membuat bayi Anda mendapat penerbangan gratis seumur hidupnya. Meski begitu, melahirkan di pesawat sebaiknya dihindari.

Risiko Ibu Hamil Melahirkan di Pesawat
Ilustrasi seorang ibu setelah melahirkan. GETTY IMAGES

tirto.id - Dalam perjalanan dari Arab Saudi ke India pada 19 Juni 2017 kemarin, seorang ibu hamil menunjukkan tanda-tanda segera melahirkan. Pesawat masih mengudara dan belum saatnya mendarat. Penerbangan Jet Airways yang tadinya bertujuan ke Kochi, mengubah rutenya ke bandara terdekat di Mumbai.

Sang bayi enggan menunggu pesawat mendarat. Dengan bantuan awak kabin dan seorang penumpang yang kebetulan adalah perawat, si ibu melahirkan bayi secara prematur di dalam pesawat. Ibu dan bayi dilaporkan selamat. Setelah tiba di bandara, keduanya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

Meski mengganggu penerbangan dan jadwal para penumpang, bayi prematur itu mendapat hadiah khusus dari maskapai berupa penerbangan gratis kemanapun, seumur hidup. Ia adalah bayi pertama yang lahir dalam penerbangan Jet Airways.

Peristiwa melahirkan di pesawat sering terjadi. Tahun 1990, Debbie Owen, terbang dari Ghana ke London. Waktu itu, ia sedang hamil dan diprediksikan akan melahirkan enam minggu kemudian. Di ketinggian 30.000 kaki, ia mulai merasakan kontraksi dan pendarahan. Ia segera menyadari waktu melahirkan segera tiba.

Sang pilot tak langsung merencanakan pendaratan darurat sebab tak ada rumah sakit di bandara terdekat. Lagipula, Debbie masih mengalami kontraksi awal. Meski demikian, seluruh bandara yang akan mereka lewati sudah siap untuk pendaratan darurat, jika diperlukan.

Hampir empat jam kemudian, saat pesawat sudah terbang di atas Perancis, dan akan segera tiba di Inggris, bayi perempuan Debbie tak sabar untuk keluar. Dibantu awak kabin dan seorang penumpang yang kebetulan adalah dokter, ia melahirkan dengan selamat di dalam pesawat. Pihak maskapai memberikan putrinya dua tiket pulang-pergi kemana saja saat usianya 18 tahun.

April lalu, penumpang lion Air juga melahirkan di pesawat dalam penerbangan dari Medan ke Batam. Hanya saja, kelahiran terjadi saat pesawat sudah mendarat.

Tahun lalu, setidaknya lima bayi lahir dalam penerbangan komersial di seluruh dunia. Semuanya mendapat hadiah khusus dari maskapai meskipun tak semuanya mendapat mendapatkan “tiket emas” untuk terbang gratis sepanjang hidup. Beberapa maskapai sedikit lebih pelit. Virgin Atlantic, misalnya, hanya memberikan terbang gratis hingga usia bayi 21 tahun. Sementara Cebu Pacific Air cuma memberikan satu juta mil frequent flyer.

Meski mengharukan dan mendapat cukup hadiah spesial, melahirkan di pesawat, sebaiknya dihindari. Maskapai sebenarnya menghindari kejadian seperti ini. Masing-masing maskapai memiliki aturan tersendiri tentang penumpang yang sedang hamil.

Di Citilink misalnya, penumpang yang usia kehamilannya antara 32 hingga 35 minggu hanya boleh melakukan penerbangan tidak lebih dari tiga jam. Sementara mereka yang hamil 35 minggu tak diperbolehkan terbang sama sekali.

Di Singapore Airline, untuk kehamilan pertama, batas usia kehamilan tak boleh terbang adalah 36 minggu. Sedangkan untuk perempuan yang telah hamil lebih dari sekali, batas usia kehamilan boleh terbang adalah 32 minggu. Bagi penumpang hamil yang usia kehamilannya di bawah batas itu, perlu menunjukkan izin terbang dari dokter jika kehamilan sudah di atas 29 minggu. Apabila masih di bawah 29 pekan, tak diperlukan surat apapun.

Di Jet Airways aturannya lebih longgar. Batas maksimum tak boleh terbang mencapai 38 minggu. Padahal, di usia 38 minggu, janin sudah dikatakan cukup bulan atau sudah siap dilahirkan.

infografik melahirkan di pesawat

Kendatipun sudah dibuatkan aturan, faktanya secara global, satu dari sepuluh ibu hamil, melahirkan lebih cepat dari perkiraan, sekitar 37 minggu. Itu mengapa seketat apapun aturan penerbangan, masih saja terjadi kelahiran di dalam pesawat. Di tambah lagi, tak semua penumpang mematuhi itu dan tidak mungkin pula maskapai memeriksa satu per satu usia kandungan ibu hamil saat check-in.

Melahirkan dalam penerbangan jelas lebih berbahaya sebab awak kabin tak dilatih untuk membantu proses persalinan. Jadi, jika hal itu terjadi, yang dilakukan awak kabin adalah mencari penumpang yang berpengalaman sebagai tenaga medis. Bayangkan jika tak satupun dari penumpang bekerja sebagai dokter atau perawat.

Menurut Airline Passenger Experience Association (APEX), beberapa maskapai seperti Emirates, memiliki layanan konsultasi medis yang menghubungkan awak kabin dengan konsultan medis di lapangan. Mereka memberikan bantuan real-time. Walaupun begitu, tetap saja, tenaga medis di lapangan itu tak melihat langsung dengan jelas.

Risiko lainnya adalah jika muncul komplikasi-komplikasi selama melahirkan yang menuntut peralatan medis yang lengkap. Pesawat terbang sudah pasti tidak dilengkapi dengan peralatan yang mumpuni. Penanganan yang seadanya untuk komplikasi saat melahirkan sudah pasti akan berbahaya bagi kondisi bayi dan ibunya.

Apa jadinya jika ada masalah dalam proses persalinan yang membuat perlu dilakukan operasi caesar? Jika persalinan diyakini tidak dapat berakhir selamat dalam penerbangan, awak kabin akan meminta agar pesawat dialihkan untuk pendaratan darurat agar penumpang yang hamil bisa segera dilarikan ke rumah sakit.

APEX memaparkan bahwa pendaratan darurat itu adalah langkah terakhir, pilot biasanya mencoba menghindari pengalihan pendaratan sebisa mungkin. Sebab biaya pengalihan ini cukup mahal, sekitar $200.000. Belum lagi nasib penumpang lain yang terganggu jadwalnya. Jadi, daripada menghadapi berbagai kemungkinan buruk dari melahirkan dalam penerbangan, lebih baik menunda melakukan perjalanan di usia kehamilan tua.

Baca juga artikel terkait MELAHIRKAN atau tulisan lainnya dari Wan Ulfa Nur Zuhra

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Wan Ulfa Nur Zuhra