Revolver Pitung dan Tuak Manis Terakhirnya

Rumah peninggalan Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara. TIRTO/Andrey Gromico
Oleh: Petrik Matanasi - 22 Juni 2016
Dibaca Normal 6 menit
Pitung memang jago silat Betawi Jakarta yang bisa melumpuhkan jawara-jawara atau opas-opas polisi kolonial. Rupanya, Pitung tidak ketinggalan zaman. Menurut surat kabar Hindia Olanda, Pitung juga beraksi pakai pistol.
tirto.id - Pitung adalah legenda penting masyarakat Betawi. Begitu banyak yang mengidolakan dan ingin mengetahui kehidupannya. Kisah hidup Pitung pernah empat kali difilmkan. Mulai dari Si Pitung (1970), Banteng Betawi (1971), Si Pitung Beraksi Kembali (1976), dan Pembalasan Si Pitung (1977). Dicky Zulkarnaen berhasil memerankan Pitung sebagai sosok yang gagah dan santun.

Dalam film itu, Pitung digambarkan sebagai seorang jagoan silat. Bisa jadi hal itu memang benar karena untuk melawan hukum kolonial, nyali saja tidak cukup. Butuh banyak jurus, jika perlu kebal peluru.

Keahlian silat Pitung didapat dari Haji Naipin, seorang guru silat yang juga memberinya ilmu kebal. Menurut beberapa versi cerita soal Pitung, dia belajar silat hingga jago setelah uang hasil jual kambingnya dicuri sekelompok begal pimpinan Rais. Setelah bisa bersilat, Pitung berhasil mengalahkan perampok yang mencuri uangnya. Rais dan kawan-kawannya bahkan jadi pengikut Pitung juga.

Di zamannya, Pitung tak sekondang saat ini. Barangkali setelah kematiannya, cerita tentangnya beredar dari mulut ke mulut rakyat Betawi. Namun, koran Hindia Olanda, yang berbasis di Betawi, beberapa kali menyebut nama Pitung dalam berita pendeknya. Hanya berita tertembaknya Pitung yang dibuatkan artikel agak panjang dengan judul Pitoeng Tertangkap, Hindia Olanda edisi 19 Oktober 1893. Koran ini berbahasa Melayu. Ejaannya mirip dengan Ejaan van Ophuijsen, yang sebenarnya baru diterapkan pada tahun 1901.

Dengan Pistol Melawan Rust en Orde

Di zaman Pitung hidup, perampokan adalah hal sering terjadi. Ini dikarenakan kemiskinan yang merajalela dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah kolonial. Tak heran jika banyak perampok macam Pitung. Namun, cerita rakyat Betawi begitu menguatkan Pitung sebagai perampok budiman macam Robin Hood dari Hutan Sherwood.

“Pitung memang perampok...Pitung itu pengacau, dan dicari oleh pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin.” Demikian ditulis Palupi Danardhini dalam tesisnya, Cerita Si Pitung Sebagai Sastra Lisan. Pendapat ini dikutip oleh Margreet van Till dalam jurnalnya In Search of Pitung The History of Indonesian Legend (1996) yang diterbitkan KITLV.

Pitung memang bukan satu-satunya perampok ala Robin Hood. Barangkali, tiap daerah punya perampok legendaris yang dipuja seperti Pitung. Seperti orang Bagelen, Purworejo, kenal Bagus Kendo atau orang Takalar dan Jeneponto di Sulawesi Selatan kenal dengan Tollo.

Tak dapat dipastikan kapan Pitung mulai merampok. Setidaknya, nama Pitung mulai disebut di koran sejak 29 Juni 1892. Dalam pemberitaan itu dituliskan, Pitung dan saudaranya tidak ditemukan ketika rumahnya, di Sukabumi, Rawabelong, Jakarta digeledah polisi. Mereka diperkirakan kabur dan bersembunyi di tempat lain. Di rumah itu, ditemukan hasil jarahan Pitung. Mulai dari sarung, pakaian, topi mirip kepala polisi, dan sepucuk pistol revolver.

Pitung tak beraksi sendirian. Ia punya komplotan, yakni Golok, Djian dan Pian. Sialnya, kawan-kawannya ini telah tertangkap ketika berita penggeledahan itu dimuat oleh Hindia Olanda. Koran ini, beberapa kali memakai tiga nama agak berbeda dalam ketika menulis tentang Pitung. Mulai dari Bitoeng, Pitang lalu Pitoeng.

“Menurut kabar, Bitoeng (maksudnya: Pitung) itu ada berniat akan pakai ini jas serta topi dan pergi ke Kampung Kuning dan kampung Penjaringan dengan dianter oleh beberapa orang yang berpakaian seperti opas polisi; dan mencuri di kampung-kampung itu dengan mennyaru sabagaimana tersebut itu,” tulis koran Hindia Olanda pada 29 Juni 1892.

Setiap ada kasus perampokan, polisi selalu menggeledah rumah Pitung di Sukabumi, Rawabelong. Tak hanya opas-opas polisi kolonial rendahan yang datang menggeledah, tapi juga Hoofd Djaksa (Jaksa Kepala), Adjunct Djaksa (pembantu), dan pastinya Schout (kepala polisi wilayah sherriff) Tanah Abang.

Suatu kali, Pitung tertangkap setelah diburu karena mencuri rumah Nyonya d. C di Kebon Jahe. Aparat polisi kolonial tak hanya memeriksa si Pitung, tapi juga menggeledah rumahnya di Sukabumi, Rawabelong. Bukan di rumah si Pitung yang dikenal sekarang di Marunda, yang sebenarnya rumah korban perampokan di tahun 1883.

“Polisi di Meester Cornelis (Jatinegara) telah geledah rumahnya Pitung itu di Sukabumi, tapi tidak dapatken satu apa(pun), kemudian rumah itu digeledah kembali oleh Hoofd dan Adjunct Djaksa disini serta Schout Tanah Abang. Segala pojok diperiksa dengan teliti, akhir-akhir ditemukan di lubang bambu, di bawah rumah uang sejumlah f125. Lain dari terduga telah mencuri di rumah Nyonya de C. Pitoeng itoe ada dituduh merampok di rumah Haji Sapioedin di Kampung Maroenda,” begitu kira-kira tulis Hindia Olanda pada 10 Agustus 1892. Meester Cornelis yang dimaksud adalah distrik Jatinegara dan sekitarnya.

Pitung diburu karena dianggap mengganggu ketenangan dan ketertiban atau Rust en Orde masyarakat kolonial yang kaya raya. Mereka tentu takut jadi korban perampokan Pitung. Demi Rust en Orde, Pitung harus ditangkap.

Kabur dari Tiang Gantungan

Sepandai-padai tupat melompat akhirnya jatuh juga. Begitu pun Pitung. Selicin-licinnya Pitung lolos, akhirnya tertangkap juga. Bulan Agustus 1892, Pitung berhasil dibekuk. Tentu saja dengan bantuan mata-mata pemerintah kolonial yang dipasang dimana-mana. Imbalan menanti bagi mereka yang bisa beri informasi tentang Pitung.

“Polisi sudah tangkap 6 orang. dengan seorang di antaranya bernama Pitang (maksudnya Pitung juga) dari Kebayoran. Sehingga kepala (kampung) pada mendapat hadiah uang 50 ringgit,” tulis Hindia Olanda pada jumat, 26 Agustus 1892.

Bukan Pitung namanya jika pasrah di dalam penjara. Pitung merencanakan pelarian dari penjara. Setelah mendekam delapan bulan di penjara, Pitung berhasil kabur dengan naik ke atap dan membongkar atap.

Pemerintah kolonial kalang kabut dan segera melakukan penyelidikan soal pelarian Pitung itu. Sanak keluarga pitung dipanggil dan ditekan agar tidak membantu dan berhubungan dengan Pitung. Hindia Olanda tentu saja tak lupa tulis berita pelariannya.

“Dari Meester Cornelis ada kabar, bahwa 4 orang telah ditangkap, tetap saja tidak mau mengaku sudah kasih pinjam perkakas pada Pitoeng dan Dji'i, supaja orang-orang ini boleh dapet minggat dengan gampang dari dalem penjara. Kemudian ada jadi ketahuan bahwa satu orang hukuman yang tertutup di pembuian (bui atau penjara) itu, telah kasih satu tambang pada mereka ite. Ada terkabar juga, yang sekalian keluarganya dua orang yang minggat itu, telah ditahan oleh politie Meester Cornelis, supaja dia orang nanti tidak boleh memberi pertolongan apa-apa pada itu pesakitan-pesakitan yang minggat,” tulis Hindia Olanda edisi 26 April 1893.

Perburuan dilakukan. Ada yang seorang perempuan melihat Pitung hendak menumpang kapal Prasman. Konon, Pitung berpakaian ala perempuan agar tidak ketahuan. Polisi segera bergerak mengejarnya.

“Dalam hari-hari ini polisi telah dapet kabar. Bahawa itu orang hukuman mati bernama Pitoeng, yang telah minggat dari penjara, hendak kabur dengan mengikut kapal mail Prasman dan berpakaian seperti perempuan. Dua pegawai polisi yang berpakaian preman, disuruh cegat pelari itu; tapi pelari itu tidak terdapet di antara orang-orang yang (hendak) pergi berlayar dengan itu kapal, tulis Hindia Olanda edisi 12 Mei 1893.

Pitung tidak berangkat meninggalkan Jakarta. Meski ada yang menyebut jika Dji'i sudah kabur ke Singapura. Bulan agustus 1893, Dji'i yang sedang sakit berat tertangkap. Bukan karena kerja heroik polisi, tetapi karena Dji'i tak berdaya dan rela menyerahkan diri kepada Demang Kebayoran.

“Tempo penjahat itu ditangkep, ia ada sakit dan sudah delapan hari lamanya; tempo ia mulai sakit, ia terpisah dari Pitoeng..... Penjahat itu terkejut tempo dapat lihat demang dateng, tapi ia tidak bergerak akan gunakan itu senjata api. Tempo demang tanya apa ia mau menyerah dengan baik pada polisi, ia meyahut ia mau menyerah. Maka ia lantas diikat dan diantar ke pembuian. Nyatalahorang-orang kampung ada memberi pertolongan pada itu penjahat. Si Pitoeng juga tentu ada mendapat pertolongan,” Hindia Olanda edisi 19 Agustus 1893. Surat kabar Java Bode 15 Agustus 1893 juga memberitakan soal Dji'i yang tertangkap.

“Kemaren di Meester Cornelis telah diperiksa seorang Slam nama Sairin, saudara dari si Pitoeng, dan hukum pesakitan itu dengan 12 tahun kerja paksa di dalm rantai, sebab sudah coba membunuh pada mata-mata (reserse) nama Djaeran Latip dengan senjata api dan dengan berkawan (berkomplot) sama Pitoeng dan Dji'i,” Hindia Olanda edisi 23 September 1893.



Segelas Tuak Manis Sebelum Ajal Menjemput


Berkali-kali Pitung bisa lolos dari kejaran Polisi Kolonial. Tanu Thr, seorang jurnalis dan juga sineas, pernah mendapatkan cerita tentang Pitung dari ibunya. Suatu kali, Pitung berkunjung ke rumah kakek Tanu. Lalu Polisi datang menggeledah rumah kakeknya. Pitung tak ditemukan. Setelah Polisi pergi, Pitung baru muncul.

“Dengan tubuhnya yang kecil, Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di di sudut-sudut yang sempit bagi orang-orang lain,” ujar ibunya Tanu.

Sabtu tanggal 14 Oktober 1893, AW van Hinne yang merupakan schout (Kepala Polisi Wilayah) Tanah Abang dan polisi lain yang memburu Pitung menerima kabar penting. Seorang informan melapor Pitung ada di sebuah kuburan di daerah yang dulunya disebut Kota Bambu. Menurut koran itu, Kota Bambu berada di antara Meester Cornelis alias Jatinegara dengan Tanjung Priuk.

Hinne segera menggerakkan dua opas polisi dan dua reserse, yang disebut mata-mata, menuju lokasi Pitung berada. Sampai di lokasi, Hinne atur pasukan polisinya untuk mengepung kuburan. Hinne menutup semua penjuru agar Pitung tidak bisa lolos lagi. Dua reserse disuruhnya mengintai Pitung di kuburan, sementara yang lain berpencar.

Ketika dikepung itu, Pitung hanya mengenakan kolor pendek dan bersabuk. Dia tidak berbaju, di pinggangnya terselip juga sebuah pistol revolver. Kehadiran dua reserse itu segera disadari Pitung. Pistolnya segera dicabut dan Pitung mulai menembak. Sayangnya, tembakan Pitung tak sejago Billy the Kids atau Lucky Luke. Salah satu polisi reserse kolonial, yang di koran Hindia Olanda ditulis sebagai mata-mata, berhasil menembak betis Pitung hingga terjatuh. Cerita yang beredar menyebut, Pitung sudah kehilangan jimatnya.

Pitung tak menyerah. Dia bangkit lagi. Sambil berusaha berlari dia sempat melepaskan tembakan ke dua polisi itu. Sialnya ketika mencoba lari, Pitung justru berpapasan dengan Hinne. Pitung lebih dulu menembak ke arah Hinne.

Konon, Hinne tak langsung menembak. Hinne mencoba bernegosiasi, berharap Pitung mau menyerahkan diri. Tak adanya niatan untuk menyerah, bahkan Pitung melepaskan satu tembakan lagi. Hinne lalu membalas satu tembakan yang merobohkan Pitung. Dada kanan Pitung kena tembak Hinne.

Seorang opas polisi yang bersama Hinne menembak pinggangnya. Opas yang satu lagi memberi satu tembakan timah panas ke bokong Pitung. Pitung segera diringkus dan dibopong karena menerima banyak luka tembakan. Setidaknya empat timah panas bersarang di tubuhnya hingga tak bisa bangkit lagi. Pitung lalu dibawa ke Balaikota.

Polisi membawa Pitung melewati Pasar Senen. Orang-orang melihat bagaimana rambutnya dicukur ketika sekarat. Ketika ditangkap, sepucuk pistol revolver tua dan sepucuk revolver canggih yang kala itu dipakai pasukan berkuda (Kavaleri) KNIL, disita dari Pitung.

Pukul tujuh malam, Pitung meninggal dunia karena lukanya yang sangat parah. Sebelum meninggal, menurut koran Hindia Olanda, Pitung punya permintaan terakhir. Ketika itu kondisinya sedang sekarat.

“Ketika ia mau mati, cuma ia bisa minta pada penjaganya, satu gelas tuak manis dan es, tetapi tidak sampai dikasih,” tulis Hindia Olanda edisi 18 Oktober 1893. Tuak manis belum tentu beralkohol. Tuak adalah minuman yang biasa diminum di masa lalu.

Keluarga Pitung sempat meminta jenazah Pitung untuk dimakamkan, tetapi tidak dikabulkan oleh aparat kolonial. Menurut artikel Hindia Olanda, Pitung dimakamkan di Krekot, Kampung Baru.

Pitung meninggal di usia 30an tahun. Ada yang menyebut dia lahir tahun 1866. Di film Benteng Betawi, Pitung digambarkan sudah menikah dengan Aisyah yang belakangan diperkosa demang dan bunuh diri. Namun, ada yang menyebut Pitung tidak pernah kawin, terkait dengan ilmu sakti yang jika dia kawin ilmu itu hilang.

Setelah kematian Pitung, Hinne naik daun. Rust en Orde alias ketentraman masyarakat kolonial Belanda di Betawi sudah dia kembalikan. Tahun 1912, Hinne pulang ke Negeri Belanda. Hinne sudah dapat Bintang Penghargaan Broeder van den Nederlansche Leeuw atas jasanya menghabisi riwayat si Pitung. Namun demikian, cerita tentang Pitung sebagai jagoan tak pernah mati di kalangan rakyat Betawi.

Baca juga artikel terkait PITUNG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight