Razia Buku Makassar: Beraksi karena Sampul Marx, tapi Tak Paham Isi

Oleh: Haris Prabowo - 7 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Frans Magnis-Suseno menilai razia buku merupakan tanda kebodohan dan kekurangajaran terhadap ilmu pengetahuan.
tirto.id - Razia buku yang dilakukan Brigade Muslim Indonesia di Gramedia Trans Mall Makassar, Sulawesi Selatan, disoroti sejumlah kalangan. Razia dilakukan terhadap buku yang dianggap "berpaham komunis dan kiri".

Dalam video yang viral di Instagram, mereka memberikan pernyataan sikap sembari memegang beberapa buku yang diminta untuk dikembalikan ke penerbit.

"Sedang melakukan pancarian buku buku berpaham radikal yang sebenarnya telah dilarang undang-undang," kata salah seorang pria dalam video tersebut.

Salah satu buku yang dirazia adalah karya Frans Magnis-Suseno berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Isi buku itu sebetulnya justru mengkritik Marxisme. Frans Magnis-Suseno merupakan penulis, guru besar filsafat di STF Driyarkara, juga rohaniawan Katolik.

Dalam kata pengantar buku tersebut, pria yang karib disapa Romo Magnis itu menuliskan bahwa melalui buku itu ia ingin membuka pembahasan Marxisme yang tabu dibicarakan masyarakat Indonesia selama lebih kurang 32 tahun di bawah pemerintah Orde Baru.

"Coba menyajikan pemikiran Marx dan mengembangkan pemikiran itu selanjutnya secara objektif dan kritis, dengan tujuan agar pembaca dapat memperoleh orientasi dasar tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Marx serta dengan bantuan untuk mengevaluasikannya," tulis Romo Magnis dalam pengantar buku tersebut.

Magnis pun mengajukan tanggapan dan argumentasi atas teori-teori Karl Marx dalam buku tersebut.

"Karl Marx sendiri mengajukan teori-teorinya, dengan klaim atas kebenaran. Dengan menghormati format intelektual Marx, klaim itu perlu diperiksa dengan tajam," tulisnya lagi.


Mempertontonkan Kebodohan


Kepada reporter Tirto, Magnis mengatakan razia yang dilakukan di Makassar merupakan tindakan yang salah dan tidak dapat dibenarkan. Razia tersebut, kata dia, terlebih dilakukan hanya karena di sampul buku terdapat gambar dan tulisan "Karl Marx".

"Saya sendiri menganggap razia itu adalah suatu tanda kebodohan dan kekurangajaran terhadap ilmu pengetahuan. Hanya melihat cover saja tanpa membaca isinya. Justru, siapa pun yang membaca dan mengamalkan buku itu tak akan menganut Marxisme dan Leninisme karena saya mengkritik itu," kata Magnis, Selasa (6/8/2019).

Magnis menyebut mereka yang merazia buku tak punya maksud dan niat yang bersih. Ini termasuk bagi aparat yang ikut-ikutan merazia buku.

"Mereka hanya ingin menyebarkan ketakutan akan adanya Marxisme di Indonesia. Saya juga mengkritik Marxisme tapi saya tidak ikutan main dengan mereka. Polisi juga jangan ikut main-main harusnya. Jangan ikut-ikut razia," kata dia.

Yang bikin Magnis heran adalah razia itu dilakukan 20 tahun setelah buku Pemikiran Karl Marx terbit dan 17 tahun setelah buku Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka terbit.

Menurut Magnis, kedua buku itu sebaiknya dibaca mereka yang merazia, supaya mereka punya dasar untuk menolak Marxisme dan Lenninisme itu sendiri.

"Kritik saya akan ditemukan di dalamnya. Justru kalau buku saya dihilangkan, itu sama saja mendukung PKI kembali muncul karena masyarakat tak bisa memahami dan mengkritik Marxisme," tambahnya.



Kaji Secara Terbuka


Peneliti pada Institut Kajian Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif (INKRISPENA), Ken Budha Kusumandaru juga heran dengan kelompok yang merazia buku karya Franz Magniz-Suseno. kata Daru, sapaan akrabnya, buku itu berisi kritik terhadap pemikiran Marxisme.

"Perkara ini memang ruwet. Karena fobia anti-PKI atau anti-Marxisme itu sudah mendarah-daging. Dan semakin orang tak kenal dengan Marxisme atau komunisme, semakin mereka akan memandang pemikiran tersebut sebagai paham liyan," kata Daru saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (6/8/2019).

Sebagaimana pemikiran lainnya, kata Daru, Marxisme punya beragam aliran--yang juga saling berdebat satu sama lain.

"Komunisme hanya salah satu aliran besar di dalamnya. Dan bahkan komunisme itu sendiri bukanlah satu pandangan yang monolitik, interpretasinya bisa beragam," kata Daru.

Oleh karena itu, Daru mengatakan sangat wajar jika Frans Magnis mengkritik pemikiran Marxisme dalam buku yang dirazia itu. Daru sendiri bahkan pernah menulis buku Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme: Sanggahan Terhadap Frans Magnis-Suseno buat menyanggah kritik Magnis.

Menurut Daru, ketidaksepakatan terhadap suatu pemikiran harus disawalakan lewat tulisan atau forum terbuka, dan bukan razia atau pelarangan semata.

"Justru masyarakat harus kenal Marxisme supaya tahu di mana kekuatan dan kelemahannya. Yang baiknya bisa diambil, yang buruk ditolak," ujarnya.

Untuk itu, Daru mengapresiasi pernyataan Menristekdikti Mohamad Nasir yang mempersilakan kampus mengkaji Marxisme secara terbuka.

"Tapi memang harus lebih banyak lagi pernyataan seperti itu," kata dia. "Di samping itu, forum-forum kajian Marxisme harus terus diadakan terbuka. Walau pasti akan di-sweeping, tapi tetap mengadakan forum terbuka akan membiasakan masyarakat untuk menerimanya. Kalau perguruan tinggi mau diajak bekerja sama, akan lebih baik lagi," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait RAZIA BUKU atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight