Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang

Oleh: Patresia Kirnandita - 1 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Benturan antara cita-cita dan kenyataan membuat kaum muda mengalami krisis.
tirto.id - “Aku pikir aku bakal jadi sesuatu yang besar pada umur 23.”

“Kamu cuma mesti menjadi diri kamu sendiri pada usia segitu.”

“Aku tak tahu lagi siapa diriku itu.”

Petikan dialog ini diambil dari film Reality Bites yang dirilis pada 1994 silam. Sinema yang disutradarai aktor Ben Stiller ini berkisah tentang anak-anak muda yang baru saja lulus kuliah dan menghadapi beragam problem saat menjajaki awal fase menjadi dewasa.

Dalam film tersebut, kisah terpusat pada Lelaina, perempuan yang menyenangi videografi dan punya idealisme tinggi dalam karier. Hal tersebut membuat perempuan ini kesulitan mencari dan bertahan di tempat kerja. Buat dia, bekerja bukan sekadar untuk mencari uang dan oke saja tunduk pada atasan, melainkan sebagai cara mengaktualisasi diri.

Ketidaksesuaian antara harapan pribadi dengan situasi nyata kerjanya membuat ia dipecat, kesulitan finansial, dan menciptakan konflik-konflik relasional dengan keluarga dan teman-temannya.

Pengalaman Lelaina ini bukanlah hal langka di kalangan orang usia 20-an. Periode ketika pada seseorang terjadi krisis emosional yang melibatkan perasaan kesedihan, terisolasi, ketidakcukupan, keraguan terhadap diri, kecemasan, tak termotivasi, kebingungan, serta ketakutan akan kegagalan sebagaimana tergambar dari tokoh tersebut kerap dikenal sebagai quarter life crisis (QLC). Biasanya, ia dipicu permasalahan finansial, relasi, karier, serta nilai-nilai yang diyakini.

Menurut peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr. Oliver Robinson, ada empat fase dalam QLC. Pertama, perasaan terjebak dalam suatu situasi, entah itu pekerjaan, relasi, atau hal lainnya. Kedua, pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi.

Selanjutnya, periode membangun kembali hidup yang baru. Yang terakhir adalah fase mengukuhkan komitmen anyar terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang seseorang.

Umumnya, QLC dialami orang pada umur 20-an, baik awal, tengah, maupun akhir dekade ketiga dalam hidup seseorang. Namun, perasaan cemas, bingung, dan sedih yang terdapat dalam krisis memasuki tahap kedewasaan bisa saja berlanjut sampai usia 30-an.

“QLC tidak secara harfiah terjadi saat Anda memasuki usia seperempat dari total hidup Anda, tetapi terjadi pada seperempat tahap awal perjalanan Anda menuju kedewasaan. Biasanya pada periode antara umur 25-35 dan paling banyak pada usia sekitar 30,” ujar Robinson kepada The Guardian.

“It’s All About The Money”

Selain dari Reality Bites, QLC juga tergambar dari pengalaman dua narasumber yang Tirto wawancarai. Teddy (23)—bukan nama sebenarnya—bercerita dirinya merasa mengalami QLC sejak usia 22.

Teddy bercerita bahwa pada umur 19-an, ia merasa berada di dunia korporat bikin bego. "Tapi seiring berjalannya waktu, gue mikir [bahwa] jadi pragmatis [itu] enggak bodoh. Malah, mungkin jadi pemimpi [itu] bodoh,” tutur laki-laki yang baru merampungkan studi magisternya ini.

Peralihan cara pandangnya didorong pula oleh realitas yang menuntutnya lebih menjejak. Keadaan tidak punya banyak uang menjelang lulus kuliah serta kisah teman-teman S1-nya yang sudah bergaji dua digit dan mampu mencicil rumah ambil andil di dalamnya. Kondisi keluarga juga membuat Teddy merasa perlu menyokong mereka secara finansial.

Ia juga meminggirkan impian untuk berkarier dalam bidang musik. Baginya, meneruskan bekerja di bidang yang disenanginya tersebut akan sulit membuatnya cepat mapan, apalagi menurutnya kemampuan dia masih harus diasah lebih lanjut jika ingin sukses. Butuh uang lebih untuk mengembangkan minat dan bakatnya itu.

Ada kalanya Teddy merasa kehilangan dirinya sendiri setelah mengulas seberapa jauh ia berbelok arah. Seperti halnya Lelaina, perasaan putus asa selama sekitar enam bulan sempat merundungi Teddy ketika harus menghadapkan cita-cita dengan kenyataan.

Nilai-Nilai Hidup dan Masalah Keluarga

Selain masalah uang, idealisme seseorang dapat pula terbentur oleh harapan-harapan keluarganya. Tengok kisah Linda (28) yang beberapa kali berkonflik dengan orangtuanya lantaran perbedaan cara pandang dan pilihan tindakan saat menghadapi suatu perkara.

“Keluarga saya datang dari latar belakang yang religius banget, ayah saya bahkan seorang tokoh agama. Hal-hal kecil aja diatur, kayak saya yang selalu pakai baju tertutup dan jilbab saat di luar, ditegur sekalinya pakai celana pendek meski di rumah doang. Lalu, kalau saya adu argumen sama orangtua, adik saya bisa memandang saya sebagai kakak yang buruk, durhaka sama orangtua,” jelas perempuan.

Krisis dipicu oleh tegangan keinginannya dengan keinginan keluarga. Ketika Linda masih ingin mengejar aneka target di luar pernikahan, orangtuanya sering mendesaknya agar segera membangun rumah tangga.

Orangtua Linda juga lebih ingin putri sulungnya ini kembali ke rumah mereka di Jawa Tengah daripada tinggal merantau di Jakarta. Desakan tersebut kian besar begitu ayah Linda sakit keras, sementara ibu Linda menganggap dirinya gagal mengurus suaminya.

“Saya kayak harus milih, mengorbankan mimpi [karier] atau keluarga. Saat Ayah sakit, saya mengetahui pemicu utamanya adalah stres. Setelah cari tahu ke anggota keluarga lain, rupanya Ayah stres karena mikirin saya belum nikah-nikah juga di umur segini,” terang Linda.

Aspek pernikahan memang menjadi hal yang kerap disebutkan sebagai sumber kecemasan orang-orang yang mengalami QLC. Dalam survei yang dilakukan Gumtree.com, 86 persen dari 1.100 responden di Inggris menyatakan pernah melalui QLC, dan 32 persen di antara mereka berpendapat ada tekanan besar untuk menikah dan punya anak, maksimal pada usia 30.

Terkait tekanan dari orangtua, dalam studi tentang QLC yang dimuat di jurnal Contemporary Family Therapy (2008, PDF) disebutkan: ada kecenderungan bahwa capaian anak-anak muda memengaruhi cara orangtuanya memandang harga diri mereka. Sementara orangtua berharap bisa memastikan kebahagiaan untuk anaknya, si anak terus mencari capaian demi menyenangkan mereka.

Pemicu-Pemicu QLC

Jika ditilik lebih dalam, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus dalam krisis selama transisi menuju tahap kedewasaan.

Aneka fasilitas dan pilihan kemungkinan yang tersedia menyebabkan orang justru stagnan. Jika dibandingkan generasi-generasi terdahulu, milenial dan generasi setelahnya tergolong beruntung karena dapat mengecap beragam kemudahan atau akses yang membuat hidup lebih baik: dari segi peluang kerja, pendidikan, akses kesehatan, keamanan, dan sebagainya.

Soal pekerjaan, seperti ditulis Forbes, generasi terdahulu boleh jadi memandang tujuan bekerja utamanya adalah untuk mendapat uang semata, sementara sebagian milenial merasa pekerjaan adalah sesuatu yang mesti memenuhi kebutuhan aktualisasinya, harus terkait hal yang disuka atau bisa mewujudkan mimpi-mimpinya.

Cari uang dirasa sebagai hal yang jamak, lapangan kerja bermacam-macam tersedia, tapi mendapat pekerjaan sesuai idamanlah yang patut dikejar menurut mereka. Pergeseran ekspektasi ini memberi sumbangsih pada ketidakpuasan mereka dalam dunia karier, kekecewaan, kecemasan, dan ujung-ujungnya QLC.

Saat segalanya cenderung gampang didapat, suatu hal tak lagi dirasa istimewa, kepuasan seseorang pun semakin susah terpenuhi, demikian dinyatakan Atwood & Scholtz, penulis studi tentang QLC tadi. Mereka membuat analogi: bila setiap orang bisa memakai jam Rolex dan hal itu gampang didapat, status dan kesenangan saat memiliki Rolex akan berkurang, bahkan tiada.

Aneka pilihan yang tersaji juga berarti ada tanggung jawab-tanggung jawab yang harus diemban. Tidak semua orang sanggup menerima hal tersebut, apalagi bila mereka belum benar-benar matang secara mental, tetapi segi usia sudah dituntut masyarakat untuk bertanggung jawab dalam hal pekerjaan dan relasi. Kesenjangan antara kesiapan diri dengan ekspektasi sosial inilah yang mengakibatkan QLC.


QLC berkisar pada masalah identitas seseorang: seperti apa nilai-nilai yang dipercayanya, dengan apa ia mengafiliasikan diri, hal apa saja yang prinsipil buatnya. Bagaimana ia membentuk dan kemudian menunjukkan identitasnya itu tidak lepas dari teknologi yang ada sekarang. Karenanya, hal ini menjadi faktor kedua yang potensial memicu QLC.



Infografik Galau di Umur 20an
undefined


Melihat QLC dari Perspektif Lain

Sebagian anak muda memandang QLC sebagai hal yang menyebalkan dan ingin cepat-cepat mereka lalui. Namun sebenarnya, ada keuntungan yang bisa mereka dapatkan jika krisis ini pernah menghampiri mereka.

Atwood & Scholtz berargumen bahwa perasaan hilang arah atau tak punya pegangan, bahkan tujuan hidup, bisa menjadi titik awal seseorang untuk melakukan pencarian jati diri. Setelah melakukan evaluasi dari situasi yang ada, ia dapat menentukan dengan jujur apa yang sebenarnya ingin dicari, apa yang bisa membahagiakan dirinya sekalipun hal itu berbeda dengan kemauan orang-orang terdekat.

“Anak-anak muda mungkin beralih dari satu relasi ke relasi lain, pekerjaan demi pekerjaan, bukan karena mereka tak mampu berkomitmen, melainkan komitmen mereka berbeda. Mereka berkomitmen justru kepada diri mereka sendiri—untuk mencari makna dan tujuan hidup, mengejar kebahagiaan dan kebebasan masing-masing apa pun bentuknya,” tulis Atwood & Scholtz dalam makalah mereka.

Senada dengan para peneliti ini, dalam tulisannya yang bertajuk “Why Millenials Need Quarter Life Crisis” di Psychology Today, Caroline Beaton menyatakan QLC bisa menjadi pengingat bagi seseorang untuk terus berjuang maju dalam hidupnya. QLC adalah tentang ketidakpastian, dan dari situ pula, seseorang dapat menangkap bahwa tidak ada hal yang permanen di dunia ini, termasuk krisis yang dialaminya sendiri.

Terkadang, QLC membuat orang ingin terus berlari atau melawan. Namun, semakin jauh atau cepat orang berlari demi keluar dari krisis tersebut, bisa semakin nihil hasilnya. Alternatif tindakan yang bisa dilakukan saat badai QLC menerpa adalah mencoba menerima hidup pada saat ini walaupun belum benar-benar sesuai kehendak seseorang.

Itulah yang dilakukan Linda dan Teddy terkait isu keluarga atau situasi finansialnya. Mereka mengaku lebih banyak mengalah dan bernegosiasi dengan tujuan mencegah keadaan menjadi semakin rumit. Formulanya sederhana: mustahil seseorang melulu mendapatkan hal yang dimau.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani