Pusaran Skandal Neo Nazi di Tubuh Militer Jerman

Oleh: Taufiq Nur Shiddiq - 14 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sepekan terakhir militer Jerman tengah dihebohkan rencana serangan teror dan temuan simbol-simbol Nazi di salah satu satuan militernya. Masalah ini menambah daftar skandal yang tengah dihadapi militer Jerman.
tirto.id - “Adalah tanggung jawab saya untuk mengobati perlakuan yang kita ketahui bersama,” ujar Ursula von der Leyen, Menteri Pertahanan Jerman. “Sedang saya usahakan.”

Perlakuan yang Von der Leyen maksud adalah komentarnya terhadap Bundeswehr, satuan angkatan bersenjata Jerman. Ketika diketahui terdapat ekstremis kanan radikal dalam militer Jerman, Von der Leyen berkata bahwa “militer Jerman memiliki masalah sikap, dan tampak memiliki kepemimpinan yang lemah di beragam tingkatan.”

Komentar von der Leyen dibalas dengan sama kerasnya. Hans-Peter Bartels, Komisaris Parlementer untuk Angkatan Bersenjata, berujar: “Jika Nyonya von der Leyen berkata bahwa kami memiliki masalah kepemimpinan, maka harus kami katakan bahwa ‘kepemimpinan berjalan dari atas ke bawah.”

Dua letnan (Franco A dan Maximilian T) dan seorang pelajar (Matthias F) telah diamankan atas tuduhan rencana serangan terhadap beberapa sosok senior dalam pemerintahan Jerman. Mereka didapati memiliki daftar nama target, amunisi, dan rencana serangan.

Rencana yang disusun sudah sedemikian matang sehingga, andai serangan ini berhasil dilancarkan, yang akan disalahkan adalah para pengungsi. Franco A, dari markas militer di Illkirch wilayah perbatasan Jerman-Perancis, menyamar sebagai pengungsi Suriah dengan nama samaran David Benjamin. Franco A mengaku sebagai penjual buah yang berasal dari daerah multi-etnis berbahasa Perancis di Damaskus.

Dalam alibinya Franco A sebagai David Benjamin mengaku terpaksa meninggalkan Suriah karena terluka oleh pecahan granat ISIS. Ia mengurus permohonan suaka kepada Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF) di Nürnberg pada akhir 2015 dan awal 2016, pada masa puncak kesibukan BAMF. Permohonan suakanya dikabulkan akhir tahun lalu. Fakta bahwa Franco A tidak pernah menjalani pemeriksaan kesehatan wajib walau mengaku terluka dalam konflik membuat BAMF menjadi sorotan. Yang juga menjadi sorotan adalah militer Jerman.

Pemeriksaan terhadap Franco A dan Maximilian T (juga dari markas Illkirch) bukan hanya mendapati keduanya berhasil menyelundupkan amunisi Bundeswehr dan menimbunnya di kediaman Matthias F, tapi juga mengungkap keberadaan simpatisan Nazi dalam tubuh militer, yang ternyata adalah cerita lama. “Bundeswehr memang penuh dengan para nasionalis-konservatif, para rasis sehingga menjadi agak menggelikan semua pihak tiba-tiba berpura-pura bahwa ini adalah sesuatu yang baru,” ujar Christian Weissgerber, seorang neo-Nazi dan eks tentara.

Bukti-bukti lain mengenai keberadaan simpatisan Nazi dalam militer Jerman ditemukan di markas Illkirch dan Donaueschingen, dekat perbatasan Jerman-Swiss. Di keduanya didapati memorabilia Wehrmacht (nama satuan angkatan bersenjata Jerman era Nazi); di markas Illkirch, memorabilia ini dipajang di ruang bersama tanpa ada upaya nyata untuk menyingkirkannya.

Infografik Neo Nazi Bundeswehr

Dukungan dari Angela Merkel


“Bundeswehr tidak terbiasa dipimpin dengan cara seperti itu,” ujar Sebastian Schulte, analis pertahanan, kepada Deutsche Welle mengenai situasi antara Ursula von der Leyen dan Bundeswehr.

“Kepemimpinan militer yang ideal adalah memimpin dari depan – jika Anda melakukan kesalahan, akuilah, dan belajar darinya. Kepemimpinan Von der Leyen dipandang merendahkan. Ia harusnya membela Bundeswehr, tapi ia malah tampak buru-buru menyalahkan seluruh organisasi.”

Von der Leyen sudah mengakui kesalahannya dan sedang dalam proses memperbaiki hubungan dengan Bundeswehr sembari menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi keduanya. Walau demikian, langkah awal Von der Leyen mendapat dukungan dari Angela Merkel, Kanselir Jerman.

“Ini cerita yang sukar dipercaya dengan latar belakang ekstremis sayap kanan dan sudah benar menteri pertahanan tidak berusaha mengecilkannya tetapi menyebut keadaan ini sebagaimana adanya,” ujar Merkel kepada WDR.

“Kami harus menginvestigasi apakah hal semacam ini sering terjadi.” Selasa (10/5) lalu Von der Leyen di hadapan Komite
Pertahanan Parlementer mengumumkan rencana reformasi komprehensif untuk mengatasi permasalahan ekstremis sayap kanan dalam angkatan bersenjata Jerman.

Von der Leyen berkata bahwa Bundeswehr perlu meningkatkan pendidikan politik dan menyiapkan cara yang lebih cepat dan lebih efisien untuk melaporkan insiden-insiden kanan radikal. Dalam kesempatan yang sama, sang menteri pertahanan juga mengatakan bahwa dekrit Bundeswehr akan diperbarui sebelum musim gugur tahun ini. Dekrit Bundeswehr, yang menetapkan nilai-nilai bersama angkatan bersenjata Jerman dan mengatur cara militer menyikapi masa lalu Nazi-nya, terakhir kali diperbarui pada 1982.

Per Juli, semua pelamar Bundeswehr akan diharuskan menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk menyaring para pelamar yang memiliki kecenderungan ekstremis kanan. Cara ini mungkin akan membersihkan Bundeswehr dari pengaruh ekstremis kanan di antara para anggota barunya, tapi belum tentu dari mereka yang sudah berada di dalam.

Masalahnya memang tidak sesederhana itu. Investigasi terhadap Bundeswehr dilakukan oleh Badan Intelijen Militer Jerman (MAD) dan dalam MAD pun terdapat individu neo-Nazi. Satu yang diketahui adalah Hendrik Rottmann, salah seorang agen MAD yang juga bertugas sebagai Penasihat Dewan Kota Köln dan politisi AfD, partai politik kanan radikal Jerman.

Barangkali itulah yang membuat Franco A dan Maximilian T memiliki cukup banyak waktu untuk membeli senjata di Austria, mengumpulkan sampai seribu amunisi, dan menyamar sebagai pengungsi. Padahal sebelum akhirnya ditahan atas tuduhan serangan berencana, Franco A dan Maximilian T sudah sejak lama menjadi perhatian MAD karena memiliki kecenderungan ekstrem kanan – Terutama Franco A, yang pada 2014 menulis tesis master dengan tema ideologi radikal.

Baca juga artikel terkait NAZI atau tulisan menarik lainnya Taufiq Nur Shiddiq
(tirto.id - Politik)

Reporter: Taufiq Nur Shiddiq
Penulis: Taufiq Nur Shiddiq
Editor: Suhendra