Menuju konten utama

Puasa Sunnah Bulan Muharram Apa Saja? Simak Penjelasannya

Puasa di bulan Muharram yang termasuk sunah meliputi Tasu'a, Asyura, Senin-Kamis, dan Ayyamul Bidh. Berikut keutamaan dan hukum puasa Sunnah Muharram.

Puasa Sunnah Bulan Muharram Apa Saja? Simak Penjelasannya
Ilustrasi Islam. Adapun umat Islam bisa melaksanakan puasa di bulan Muharram tertentu, baik itu Tasua, Asyura, dan lain-lain. foto/Istockphoto

tirto.id - Puasa di bulan Muharram menjadi salah satu ibadah sunah yang dianjurkan dalam Islam. Ibadah puasa sunnah Muharram ini merujuk kepada hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah.

Umat Islam dapat menjalankan amalan puasa ini karena Muharram merupakan salah satu bulan istimewa. Sejumlah ahli tafsir bahkan menyebut bahwa pahala ibadah akan berlipat ganda selama Muharram.

Demikian pula balasan untuk mereka yang melakukan perbuatan buruk. Hal ini termaktub dalam penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir sebagai berikut.

"Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa disamping melipatgandakan perbuatan baik."

Puasa Sunnah di Bulan Muharram, Apa Saja Macamnya?

Muharram merupakan salah satu bulan mulia. Dalam QS At-Taubah ayat 36, Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

Adapun Rasulullah SAW berkata, "Puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Sementara salat paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.”

Sebagaimana dikutip dari laman NU Online, puasa Muharram ada tiga bentuk.

Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Berdasarkan keterangan tersebut, umat Islam dapat berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram.

Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Dengan begitu, muslimin dan muslimat hanya perlu menjalankan ibadah puasa sunah Muharram pada tanggal 9 dan 10 sesuai penanggalan Hijriah.

Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja. Tiga tawaran ini setidaknya menjadi opsi yang baik dalam mengamalkan puasa sunah di bulan Muharram.

Istilah puasa pada hari kesepuluh Muharram sering mendapatkan sebutan lain sebagai puasa Asyura. Pada bulan ini, umat Islam juga mengenal istilah puasa Tasu'a yang dilaksanakan pada 9 Muharram.

Muslimin maupun muslimat juga bisa melaksanakan ibadah sunah puasa Senin-Kamis atau puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 (Ayyamul Bidh) di bulan Muharram. Kedua jenis puasa Muharram ini bisa juga menjadi amalan di bulan lain.

Keutamaan Puasa Sunnah Bulan Muharram dan Hukumnya

Hukum puasa Tasu'a dan Asyura adalah sunah. Puasa ini dianjurkan karena ibadah dapat memberikan keutamaan tertentu bagi muslim yang menjalankan, tetapi tidak apa-apa jika seseorang tidak melakukannya.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai memuat penjelasan bahwa Rasulullah melaksanakan puasa di bulan Muharram setelah bulan Ramadan. Dalam Hadis itu, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Sesungguhnya Muharram adalah bulannya Allah yang di dalamnya tepat menjadi hari bertobat umat Islam atas dosa-dosa yang terdahulu."

Sedangkan keutamaan puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram ada di dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa:

"Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas," (HR Muslim).

Dalam Hadis lainnya, Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Qatadah RA. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa di hari Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu."

Adapun puasa Tasu`a pada tanggal 9 Muharram mengacu pada salah satu Hadis riwayat Imam Muslim. Dalam Hadis tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

"Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa Tasu`a (pada 9 Muharram)."

Akan tetapi, Rasulullah SAW wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba.

Sementara itu, ketentuan puasa Ayyamul Bidh merujuk kepada teladan Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA:

“Rasulullah SAW biasa berpuasa pada Ayyamul Bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar,” (HR Nasai).

Selain itu, riwayat juga menyebutkan bahwa berpuasa Ayyamul Bidh setiap bulannya akan memberikan keutamaan pahala yang sama seperti orang yang berpuasa sepanjang tahun.

Hal ini termaktub dalam sabda Nabi Muhammad SAW berikut.

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun,” (HR Bukhari).

Dalam lafaz hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari di setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kamu lakukan. Karena itu, maka puasa Ayyamul Bidh sama dengan berpuasa setahun penuh," (HR Muslim).

Demikian penjelasan mengenai puasa-puasa di bulan Muharram yang dapat menjadi amalan sunah bagi umat Islam. Pastikan juga untuk melihat informasi terbaru terkait Muharram lainnya di sini.

Informasi Muharram Terbaru

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU ISLAM atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Edusains
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Yuda Prinada