Pride New York Jadi Salah Satu Pawai Terbesar di Pergerakan LGBTQ

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ribuan orang berkumpul di New York City untuk melakukan Pride Parade, salah satu pawai kesetaraan untuk LGBTQ.
tirto.id - Jalan-jalan di New York City pada Minggu (30/6/2019) dipenuhi orang-orang dengan membawa ornamen bendera pelangi dalam Pride Parade terbesar dalam sejarah gerakan hak asasi LGBTQ.

Peserta pawai dan penonton memadati kota Manhattan, dalam kegiatan yang berlangsung selama beberapa jam untuk mengingatkan peserta parade tentang kerusuhan antara pengunjung bar dan polisi setempat pada 28 Juni 1969.

Eraina Clay (63) warga kota New Rochelle kepada Associated Press News (AP News) mengatakan ia datang untuk ikut merayakan setengah abad perjuangan mencapai kesetaraan.

“Saya berpikir kami [LGBTQ] sudah berada di sini cukup lama, dan LGBTQ sudah seharusnya memiliki kesempatan untuk menikmati hidup dan menjadi diri mereka apa adanya. Saya punya keluarga. Saya membesarkan buah hati saya. Saya seperti orang-orang lain pada umumnya,” kata Clay, seperti dikutip AP News.

Alyssa Christianson (29) bertelanjang dada, hanya menggunakan celana pendek dan berjubahkan bendera pelangi dalam pawai tersebut.

“Saya sudah beberapa kali mengikuti pawai Pride, tetapi kali ini, saya memutuskan untuk lebih mendalami pawai ini,” ungkapnya.

Christianson mengatakan, ia khawatir gerakan ini akan mengalami kemunduran di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang bergerak untuk mencabut perlindungan terhadap transgender, mengurangi jumlah LGBTQ dalam militer, dan mencabut kebebasan siswa transgender dalam memilih kamar mandi sesuai dengan pilihan mereka.

“Saya benar-benar takut, bagaimana hal-hal seperti ini akan berlanjut ke depannya. Hanya kebencian dan kekerasan yang keluar [dari pemerintahan]. Kami sudah berjalan cukup jauh, terlebih beberapa dekade belakangan ini. Dan aku tidak ingin kesetaraan kami ditekan dalam bentuk apa pun,” ujarnya.

Bulan Mei kemarin, Trump mencuit dalam akun Twitter tentang Pride Month dan memuji “kontribusi luar biasa” yang dilakukan orang-orang LGBTQ.

Akan tetapi, kepemimpinan Trump juga berafiliasi dengan beberapa konservatif agama yang berargumen perlindungan untuk orang-orang transgender dapat menyalahi keyakinan agama orang lain yang menentang pernikahan sejenis dan transgender.

Kerumunan massa berjumlah sekitar 2.000 orang berkumpul di depan Stonewall In. Sementara itu, di Queer Liberation, dekat kedai minuman, beberapa partisipan meneriakkan Pride Parade semakin membesar dan menjadi terlalu komersial sehingga menjadi sangat diawasi.

“Yang perlu diingat adalah ini sebuah protes terhadap monetisasi dari Pride Parade, juga terhadap kebrutalan yang dilakukan polisi terhadap komunitas kami, terhadap perlakuan buruk yang kami terima, kaum kulit hitam, dan para Imigran,” kata Jake (24) Seller, seorang penuduk asli Indiana.

Para pendemo membawa simbol-simbol Queer dan anti-Trump sambil berteriak “Jalan siapa? Jalan kita!”

“Kami berbaris untuk kebebasan komunitas kami, jadi mereka bisa hidup dan merayakan identitas mereka. Supaya mereka bisa merebutnya kembali. Ini akan selalu menjadi sebuah protes, bukan iklan!” kata seorang penjual.

Pemerintah setempat mengerahkan polisi dalam jumlah besar untuk mengamankan parade. Barikade logam juga didirikan di sepanjang rute. Hal ini juga sejalan dengan parade yang ada di San Francisco.

Sekitar 40 orang terpaksa dihentikan dari pawai. Berdasarkan laporan dari San Francisco Chronicle, belum ada satu jam, sudah ada dua orang yang ditangkap ketika memprotes kehadiran polisi di San Francisco.

Hal ini karena para demonstran merusak barikade dan melempari petugas dengan botol plastik. Setidaknya ada satu orang demonstran dan satu orang petugas terluka karena hal ini.

Masih di San Fransisco, sekelompok karyawan Google mengajukan petisi kepada penyelenggara Pride Parade untuk mencabut sponsor atas tindakan yang mereka anggap pelecehan dan ujaran kebencian yang ditujukan untuk orang-orang LGBT dalam platform-platform Google.

Namun, penyelenggara Pride Parade menolak untuk membatalkan sponsor dan mengeluarkan Google dari daftar pihak pendukung acara tersebut.

Dalam Parade Chicago, kota yang memiliki wali kota gay pertama, Lori Lightfoot, adalah salah satu dari tujuh grand marshal. Lightfoot, yang menjabat pada Mei, berjalan bersama istrinya dan mengenakan kaus "Chicago Proud" dengan huruf pelangi.

Pasangan itu saling berpegangan tangan, bersorak-sorai bersama demonstran. Sayangnya, prosesi itu dipersingkat ketika badai menggulung seluruh wilayah, memaksa polisi untuk membatalkan acara sekitar tiga jam setelah dimulai.

Pride New York yang lebih besar memiliki 677 kontingen, termasuk kelompok-kelompok masyarakat, perusahaan-perusahaan besar dan para anggota dari "Pose" FX. Penyelenggara berharap setidaknya 150 ribu orang berbaris, dengan ratusan ribu lainnya berjejer di jalanan untuk menonton.

Peringatan Stonewall lainnya di New York termasuk demonstrasi, pesta, pertunjukan film, dan konferensi hak asasi manusia. Perayaan bertepatan dengan World, acara LGBTQ internasional yang dimulai di Roma pada 2000 dan diadakan di New York minggu lalu.

Perayaan di New York City ditutup pada Minggu malam dengan upacara di Times Square yang menampilkan pidato dan pertunjukan oleh Melissa Etheridge, Deborah Cox, Melanie C, MNEK, Jake Shears, dan lainnya.


Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight