Perang Dagang Korsel-Jepang

Presiden Korsel Buka Peluang Berdamai dengan Jepang

Oleh: Rachma Dania - 15 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Korsel buka peluang berdamai dengan Jepang terkait pertikaian dagang.
tirto.id - Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in mengatakan Korea Selatan akan dengan senang hari “bergandengan tangan” dengan Jepang demi kemakmuran Asia Timur jika Jepang memilih jalan dialog dan kerja sama.

Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (15/8/2019). Hal ini ia utarakan untuk mengakhiri pertikaian perdagangan antara Jepang dan Korea Selatan yang berakar dalam sejarah perang keduanya.

Pidato ini ia sampainkan pada peringatan hari pembebasan yang menandai berakhirnya pemerintah kolonial Jepang di Korea pada tahun 1945.

Selain itu, dilansir dari YNA, Moon juga menjabarkan visi untuk membuat Korea Selatan menjadi "kekuatan ekonomi yang tak tergoyahkan dan bertanggung jawab" dan bekerja sama dengan Jepang dengan pijakan yang "setara".

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali: Jika Jepang memilih jalur dialog dan kerja sama, kami dengan senang hati akan bergandengan tangan," kata Moon.

"Kami akan berusaha dengan Jepang untuk menciptakan Asia Timur yang terlibat dalam perdagangan dan kerja sama yang adil.”

Pernyataan ini disiarkan di televisi dan menjadi salah satu penawarannya semenjak Tokyo melakukan pembalasan ekonomi kepada Korea Selatan pada awal Juli yang turut membawa isu kerja paksa pada masa perang dulu.

Moon berulang kali menggunakan kata-kata kerja sama, kemakmuran dan perdamaian di sepanjang pidatonya yang hampir setengah jam. Upacara tersebut diadakan di Aula Kemerdekaan Korea, yang terletak di Cheonan, 85 kilometer selatan Seoul.

Presiden menekankan para tetangga harus mengatasi masa lalu dan bergerak menuju masa depan bersama.

"Kami berharap bahwa Jepang akan memainkan peran utama bersama dalam memfasilitasi perdamaian dan kemakmuran di Asia Timur, sementara itu merenungkan masa lalu akan membawa kemalangan bagi negara-negara tetangganya," katanya.

Dia juga turut menyebutkan Olimpiade Tokyo akan berlangsung tahun depan, yang sebelumnya diadakan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 dan Olimpiade Musim Dingin Beijing yang akan dilaksanakan tahun 2022.

"Ini akan menandai serangkaian Olimpiade yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diadakan di Asia Timur," katanya. "Ini akan menjadi peluang emas bagi Asia Timur untuk memperkuat kerangka persahabatan dan kerja sama, dan untuk maju di sepanjang jalan menuju kesejahteraan bersama."

Dia menambahkan, bagaimanapun, Jepang pertama-tama harus berhenti menggunakan perdagangan sebagai "senjata."


"Dalam pembagian kerja internasional, jika ada negara yang mempersenjatai sektor yang memiliki keunggulan komparatif, tatanan perdagangan bebas yang damai pasti akan mengalami kerusakan," kata Moon.

"Sebuah negara yang mencapai pertumbuhan pertama tidak harus menendang tangga menjauh."


Ia menambahkan Jepang baru-baru ini menghapus Korea Selatan dari daftar putih mitra dagang favoritnya. Penghapusan itu sebagai balasan terkait penanganan Seoul atas keputusan pengadilan Korea Selatan yang memerintahkan perusahaan-perusahaan Jepang memberi kompensasi kepada sejumlah warga Korea Selatan yang menjalani kerja paksa selama Perang Dunia ke-2.

Tidak mau kalah Korea Selatan juga membalas dengan menghapus Tokyo dari daftar putihnya sendiri. Konflik dagang sekali lagi menunjukkan bahwa peninggalan penjajahan masih menghantui hubungan kedua negara tersebut.

Warga Korea Selatan percaya Jepang tidak menebus dengan tulus atas kesalahan masa lalunya, sementara Jepang mengatakan itu sudah cukup. Moon menekankan perlunya kerja sama "adil" di antara negara-negara regional.

"Komunitas Asia tidak akan dipimpin oleh satu negara tetapi akan menjadi komunitas di mana beragam kerja sama berkembang di antara negara-negara dengan pijakan yang sama," kata Moon.

Selain itu dilansir dari Japan Times, meningkatnya ketegangan antara Jepang dan Korea Selatan dapat menyebabkan mengubah struktur ekonomi dan keamanan yang sudah lama ada di kawasan itu secara keseluruhan.

Para para pakar urusan luar negeri telah memperingatkan bahwa ketegangan ini bisa menyebabkan keuntungan bagi kepentingan potensial China dan Korea Utara.

Selama Tokyo dan Seoul tetap berselisih mengenai masalah bilateral, melemahnya kerja sama trilateral dengan Washington dapat memungkinkan Beijing untuk meningkatkan pengaruhnya di bidang ekonomi, teknologi, dan keamanan di Asia Timur, kata mereka.

Hubungan keamanan yang timpang antara Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat juga dapat menyebabkan kegagalan mencegah Korea Utara mengembangkan senjata baru, yang akan merusak upaya multilateral untuk menahan ancaman nuklir dari Pyongyang.

Dalam beberapa bulan terakhir hubungan kedua negara tersebut kembali memburuk setelah dinormalisasi pada tahun 1965 silam.

Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG atau tulisan menarik lainnya Rachma Dania
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Rachma Dania
Editor: Yantina Debora
Kontributor: Rachma Dania
DarkLight