tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan, meskipun mobil dinas kepresidenan MV3 Garuda Limousine yang baru dibangun 1-2 tahun belakangan tidak sebagus BMW maupun Mercedes Benz, ia tetap bangga. Sebab mobil Maung merupakan buatan anak bangsa.
Meskipun Maung tidak luput dari kekurangan, sebagai pemimpin negara, ia harus memberikan contoh kepada masyarakat untuk bangga dengan buatan Indonesia.
“Suka tidak suka, karena saya presiden, saya harus kasih contoh, saya harus pakai mobil buatan anak-anak Indonesia. Jadi, dari saya mengerti ini kan mobil baru 1-2 tahun kita bangun, ya kan. Ya, namanya suatu yang baru ya mungkin tidak sebagus kalau saya pakai BMW atau Mercedes, ya kan,” ungkapnya dalam Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) XVIII, di Lampung, dikutip YouTube Sekretariat Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026).
Prabowo pun menceritakan kisahnya saat mengendarai Maung. Kata dia, ketika tidur di dalam mobil, ia merasakan ada sesuatu yang menetes. Ternyata, atap mobil Maung bocor saat hujan deras.
“Saya suka tidur di mobil. Jadi, suatu saat saya lagi tidur di mobil, tahu-tahu karena hujan keras di luar, saya tidur. Tahu-tahu, tek tek tek tek... Saya bangun, rupanya bocor! Ya namanya baru ya kan? Ya, aku kirim kembalilah ke ini ... kan buatan Pindad,” kisahnya.
Sembari mengembalikan mobil dinas kepresidenan tersebut, Prabowo menyampaikan kritiknya kepada PT Pindad (Persero). Dia meminta agar produsen Maung tersebut dapat memperkuat atap mobil, sehingga kebocoran tidak terjadi lagi.
“Aku bilang, ‘Eh Pindad, tolonglah bocornya dikurangi gitu loh’,” kata dia.
Tidak hanya soal kebocoran, saat digunakan untuk naik gunung, Maung juga mengeluarkan bunyi “gredek gredek”.
Namun, menurut Prabowo, hal ini tidak menjadi masalah. Sebab, Maung adalah mobil buatan anak bangsa. Menggunakan Maung juga menunjukkan nasionalismenya.
“Habis itu pakai mobil ya ke naik gunung, gredek gredek gredek gredek... Tapi gredek nggak apa-apa, demi nasionalisme saya tetap pakai mobil Indonesia!” tegasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id



























