Menuju konten utama

Pesan Konjen RI dalam Bimtek 700 Tenaga Pendukung Haji 2026

Menurut Yusron, kesuksesan penyelenggaraan haji 2026 sepenuhnya bergantung pada soliditas tim, bukan kerja individu.

Pesan Konjen RI dalam Bimtek 700 Tenaga Pendukung Haji 2026
Bimtek tenaga pendukung PPIH Arab Saudi di Hotel Alwahda Towers, Makkah (27/4/2026). Kredit foto: Tim MCH 2026

tirto.id - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Yusron B. Ambary, membuka bimbingan teknis (bimtek) 700-an tenaga pendukung (Tepung) dalam pelaksanaan haji 2026 di Makkah, Senin (27/4/2026). Yusron menekankan pentingnya membangun super tim untuk memastikan pelayanan maksimal bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Menurut Yusron, kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji 2026 sepenuhnya bergantung pada soliditas tim, bukan kerja individu. Karena itu, ia meminta semua petugas bekerja sama, mulai dari PPIH Arab Saudi hingga tenaga pendukung yang terdiri dari mahasiswa Timur Tengah dan mukimin.

“PPIH dari pusat maupun tenaga pendukung adalah sebuah keluarga, yang mana kita harus memperkuat satu sama lain. Saya tidak pernah percaya yang namanya Superman, yang ada adalah super tim,” kata Yusron di Hotel Alwahda Towers, Makkah, Senin (27/4/2026).

Para tenaga pendukung ini berasal dari kalangan mukimin atau WNI yang tinggal di Arab Saudi, serta mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di kawasan Timur Tengah. Keunggulan utama mereka terletak pada penguasaan Bahasa Arab yang fasih dan pemahaman medan yang baik.

Tugas mereka mencakup pengaturan hotel, konsumsi, transportasi, hingga pengawasan di wilayah Markaziah guna mengantisipasi jemaah yang tersesat. Dalam arahannya, Yusron juga menekankan filosofi “Tepung”, sebutan bagi petugas mukimin dan mahasiswa di Timur Tengah.

"Tepung itu artinya mereka harus siap berantakan seperti tepung di dapur. Bekerja keras, pontang-panting, bahkan lari jika dibutuhkan. Namun, dari proses yang berantakan itu, lahir kue yang indah dan lezat. Dalam konteks ini, hasilnya adalah jemaah haji yang mabrur," ujar Yusron.

Yusron juga memberikan catatan khusus terkait kemampuan tenaga pendukung dalam menangani persoalan di lapangan.

"Ada tren menarik di sini. Kasus hukum yang dikomunikasikan dengan baik sejak awal kepada petugas lokal biasanya bisa selesai di tempat tanpa lanjut ke proses formal. Namun, jika sudah masuk ke sistem hukum, kita tidak bisa lagi bernegosiasi dan harus mengikuti prosedur yang ada," kata dia.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fadrik Aziz Firdausi