Perjuangan Warga Pilang Memulihkan Ekosistem Bakau Probolinggo

Reporter: Gisela Swaragita, tirto.id - 12 Okt 2022 07:16 WIB | Diperbarui 21 Okt 2022 16:29 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Ekosistem hutan bakau amatlah penting buat kelestarian lingkungan, warga di Probolinggo kini berjuang melestarikannya.
tirto.id - Sutarto Adi, atau yang biasa dipanggil Pak To oleh tetangga-tetangga dekatnya, dengan bangga memamerkan segenggam biji bakau jenis api-api yang baru saja ia petik dari hutan bakau di Pantai Permata, kelurahan Pilang, Probolinggo.

“Ini nanti dijemur, disangrai, lalu ditumbuk,” ujarnya pada Tirto pada Selasa (30/8) di pusat pembibitan bakau Pantai Permata. “Lalu dicampur bubuk kopi yang saya beli di pasar. Dicampur rempah-rempah, lalu dikemas.”

Campuran ini, dipasarkan dengan merek dagang Kopi Mangrove, diseduh air mendidih untuk membuat wedang yang nikmat. Pak To telah bertahun-tahun memproduksi dan memasarkan Kopi Mangrove lewat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Pilang dengan bantuan Dinas Pertanian. Kemasan, merk dagang, dan cap halal MUI juga disediakan oleh Dinas tersebut, sedangkan Pak To tinggal melakukan usahanya saja. Sebungkus kopi dengan berat 100 gram ia pasarkan dengan harga Rp 15,000.

Pemasukan dari Kopi Mangrove tidak seberapa jika dibandingkan dengan jasa Pak To melestarikan hutan bakau yang membatasi pesisir Pantai Permata dengan daratan. Pak To adalah salah satu warga lokal yang paling getol dengan kegiatan pembibitan, pemeliharaan, dan penanaman kembali bakau. Pria yang tadinya seorang nelayan ini tidak pernah masuk laboratorium atau mengenakan jubah peneliti, bahkan ia tidak dapat baca tulis. Namun tangan ajaibnya tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat bakau tumbuh subur dan kembali menghijaukan area pantai yang sempat hancur dihajar abu vulkanik.

Ketika Gunung Bromo erupsi di tahun 2010, abunya menyebar ke seluruh kota dan mematikan sebagian besar area hutan bakau. Pantai Permata menjadi area yang paling rusak di antara 12 km garis pantai Probolinggo yang ditumbuhi bakau. Berhektar-hektar hutan bakau tertutup abu panas, membunuh berbagai biota, dan menghentikan berbagai kegiatan yang berpusat di area tersebut. Yang paling terdampak adalah nelayan, pemburu kerang, dan petambak ikan.

“Kegiatan belajar mengajar saya juga terdampak,” Sulastri, 54, seorang guru Biologi di MAN 2 Probolinggo berkata. “Sebelum erupsi saya suka mengajak murid-murid belajar sambil jalan-jalan dan menebar bibit ikan di hutan bakau. Tapi setelah erupsi ya tidak berani lagi.”

Sulastri yang juga aktif di Pokdarwis ini mengatakan berbagai upaya dilakukan warga lokal untuk mengembalikan ekosistem bakau. Hal ini termasuk usaha tanpa henti untuk membibitkan dan menanam kembali berbagai jenis bakau, serta eksperimen dengan berbagai tanaman lain untuk berkompromi dengan lanskap yang telah berubah.

“Setelah erupsi kami terus-menerus mencoba menanam kembali bakau, tapi sering mati dan gagal. Ternyata tanahnya masih terlalu panas untuk bakau tumbuh,” katanya. “Baru setelah kami tanam cemara udang, tanahnya jadi lebih jinak dan mau menumbuhkan bakau.”

Hutan Bakau Probolinggo
Pak To di antara bibit bakau yang ia pelihara. foto/Gisella Swaragita


Di tahun 2013, warga mencoba menanam pohon cemara udang (Casuarina equisetifolia) di area pantai, dan ternyata hasilnya baik. Pohon-pohon cemara yang rindang itu mulai menyelimuti area dekat pantai, dan membantu merubah struktur tanah sehingga bakau bisa tumbuh lebih baik di area rawa. Hanya sedikit bagian dari area Pantai Permata yang tetap tandus dengan hamparan abu tebal dan tidak lagi bisa ditumbuhi tanaman.

Area itu kemudian dimanfaatkan warga sebagai area terbuka untuk berbagai kegiatan seperti upacara bendera, pentas seni, dan bahkan festival
layang-layang. Beberapa kali pihak luar menyewa tempat tersebut untuk berkemah, berfoto pre-wedding, bahkan sebagai venue untuk kompetisi memanah dan kavaleri. Selain itu, warga juga memanfaatkan area terbuka ini untuk memasang panel surya yang menyuplai listrik ke warung-warung sekitar.

Keajaiban Tanaman Bakau

Seperti seorang guru yang baik, Sulastri dengan bersemangat memandu saya berjalan-jalan di Pantai Permata yang kini telah kembali asri dan ramai dikunjungi orang. Turun dari mobil, pengunjung akan disambut keteduhan ratusan pohon cemara udang yang menjadi area duduk dan berkumpul. Pohon-pohon ini dihiasi dekorasi anyaman warna-warni hasil kerajinan warga menggunakan plastik daur ulang. Ada juga beberapa rumah burung yang dipasang di ketinggian pucuk pohon cemara untuk tempat bagi beristirahat burung-burung tepi pantai. Di area ini pengunjung dapat duduk-duduk di gazebo atau menggelar tikar di tanah, menikmati keteduhan pohon cemara sambil menyesap kopi mangrove hangat yang dibuat di warung-warung sekitar.

Melewati area ini, pengunjung akan melihat hamparan terbuka bertanahkan abu vulkanik –area inilah yang tidak lagi dapat ditumbuhi bakau namun akhirnya menjadi pusat kegiatan warga untuk melakukan upacara, kemah, atau berbagai festival. Di ujung padang ini, terletak pintu masuk ke kedalaman hutan bakau. Bentuknya seperti terowongan sempit dan gelap, dengan tanah berlumpur abu-abu, berdindingkan jalinan akar dan batang bakau yang rapat, serta beratapkan daun yang gemerisik. Makin ke sana, lumpur di bawah akan semakin basah dan dalam. Kepiting kecil dan kerang makin sering terlihat bersembunyi di antara akar-akar bakau yang seperti tiang. Baru setelah berjalan sejauh kira-kira 500 meter, pengunjung akan bertemu tangga naik ke atas semacam anjungan sederhana dari kayu yang menjorok ke tengah teluk dengan pandangan lepas ke Laut Jawa.

Saat itu laut sedang sangat surut. Dari atas anjungan terlihat beberapa remaja menghabiskan sore di pantai di bawah anjungan, berjalan kaki sambil mengumpulkan kerang teritip yang menempel di akar dan batang bakau.

“Mencari kerang adalah bagian dari budaya kami,” kata Sulastri. “Orang-orang keluar rumah pukul dua siang, kembali ke rumah jam 5 sore sudah membawa seember besar teritip. Dibersihkan lalu dijual.”

Hutan bakau adalah ekosistem yang luar biasa, kata Sulastri. “Mangrove itu menyediakan tempat untuk berbagai makhluk dari rantai makanan untuk hidup dan berkembang.”

Hutan Bakau Probolinggo
Anak-anak menghabiskan sore mencari kerang di tepi pantai. Kerang kembali banyak di pantai setelah hutan bakau kembali rimbun. foto/Gisella Swaragita


Mikroorganisme laut berkembang dengan baik di rawa-rawa bakau. Karena jalinan akarnya menyediakan air yang relatif tenang, binatang-binatang laut dapat nyaman singgah dan berkembang biak di situ. Berbagai kerang dan binatang bercangkang senang bercokol di bakau dan berburu plankton, sedangkan ikan dan berbagai reptil air memanfaatkannya sebagai tempat pemijahan dan tempat persembunyian dari predator. Burung-burung air bisa mencari mangsa dengan mudah dan beristirahat di antara batang mangrove.

Selain itu, mangrove meregulasi komposisi partikel dalam udara. Rawa bakau bertindak sebagai sabuk biru yang mengatur karbon di udara, sehingga menjadi bagian yang penting dalam usaha-usaha melawan pemanasan global. Jalinan bakau juga berguna sebagai saringan air alami.

“Bahkan warga yang tinggal hanya 500 meter dari sini bisa minum air tawar yang benar-benar bersih tanpa ada rasa garamnya, langsung dari sumur mereka,” kata Sulastri.

Juga, bakau penting untuk melindungi kota dari banjir pasang laut. Jalinan akar dan batangnya yang rapat meredam gempuran ombak, serta melindungi daratan dari air pasang dan bahaya abrasi.

Setelah usaha tanpa lelah selama lebih dari satu dekade, warga kelurahan Pilang kini dapat memetik hasil mereka. Pantai Permata telah kembali rimbun dengan berbagai spesies bakau. Menurut data Departemen Pertanian di tahun 2021, hutan bakau telah tumbuh di 60,05 hektar area Pantai Permata, atau kurang lebih 45,75 persen permukaan tanah.

Hutan Bakau Probolinggo
Bu Sulastri memandu rombongan ke dalam hutan bakau.. foto/Gisella Swaragita


Masa Depan Bakau

Kesetiaan warga lokal dalam mengembangkan bakau tidak boleh dikhianati oleh kebijakan dan prospek investasi yang akan menihilkan peran masyarakat. Semua usaha untuk mengembangkan aspek wisata dan ekonomi Pantai Permata harus melalui rembuk dengan warga serta meliputi nilai edukasi, konservasi, dan berbasis masyarakat.

“Jadi kita berusaha tetap menjaga ketebalan mangrove [sambil] mengembangkan tempat wisata. Kalau ada investor masuk ya konservasinya harus dipikirin. Kami sebagai masyarakat harus dilibatkan utk tetap menjaga konservasinya ini,” kata
Sulastri. “Kami pernah diajak omong-omong sama calon investor bahwa Pantai akan dijadikan sirkuit balap internasional. Tapi ya perlu kajian ulang ya karena muka lahan akan berubah drastis. Tidak semua investor boleh masuk.”

Selain itu, Sulastri berharap kepedulian pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat yang berwisata di Pantai Permata tidak sebatas seremonial saja. Banyak anggota dinas atau komunitas yang datang dan bermalam di Pantai untuk merayakan hari jadi atau sekedar berekreasi, kemudian melakukan penanaman bakau secara seremonial.

Namun, Sulastri menyayangkan hanya sedikit dari mereka yang benar-benar peduli apakah bakau tersebut berhasil tumbuh atau tidak.

“Jadi harapan kami supaya kepeduliannya ditingkatkan. Level kepeduliannya tidak sekedar hari itu ramai-ramai menanam, difoto, dan diberitakan. Tapi juga setelah itu lebih baik dicek, berapa persen tanamannya yang hidup?” katanya. “Bakau itu tidak hanya ditanam lalu tumbuh sendiri. Harus dirawat. Tidak hanya hari itu menanam, seremonial, diberitakan, selesai. Yang konservasi kan kita-kita ini ya. Jadi ya mbok ditengok lah yang Anda tanam itu tumbuh apa tidak. Kami juga butuh komitmennya.”

Komitmen adalah hal yang paling mahal dalam mengembalikan kelestarian bakau, ungkap Sulastri. “Kalau berbicara konservasi kami tidak terlalu berharap sarana dan prasarana. Yang sulit itu membangun komitmen untuk terus menerus peduli dengan bakau,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait HUTAN MANGROVE atau tulisan menarik lainnya Gisela Swaragita
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Gisela Swaragita
Penulis: Gisela Swaragita
Editor: Adi Renaldi

DarkLight