Resensi Buku

Perihal Lokalitas Riau dan Tradisi Keislamannya

Penulis: Abdul Hadi - 16 Des 2021 21:45 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Ulasan dan resensi kumpulan cerpen Nisan-Nisan Berbunga (2021) karya Griven H. Putera
tirto.id - Bisa jadi sudah banyak kumpulan cerpen yang membahas mengenai lokalitas dan keislaman, namun tidak banyak penulis yang menjalin-kaitkan dua unsur itu menjadi padu dalam sebuah kumpulan cerita.

Griven H. Putera (GHP) berupaya menasionalisasi sastra pinggiran (lokalitas) tersebut, meminjam pernyataan Damhuri Muhammad. Dalam konstelasi sastra Indonesia, amat jarang dijumpai sastrawan Riau tampil di panggung sastra nasional dengan membawa ke-Riau-annya. GHP mengisi lubang tersebut dengan apik melalui Nisan-Nisan Berbunga ini.

Lokalitas yang diangkat GHP sangat erat dengan tradisi Islam yang hadir di komunitas masyarakat di Riau. Oleh GHP, ritual agama ditafsirkan ulang dengan pendekatan sufistik. Praktik ibadah seperti salat, haji, khotbah, dan sebagainya, menjadi pintu masuk untuk mendedah moral masyarakat. Dalam pandangan GHP, praktik ibadah ini hanyalah laku fisik, jika tidak diiringi dengan pemurnian batin, gerakan ibadah tak bermakna apa-apa.

Karena itulah, GHP mengangkat tokohnya sebagai sosok yang ambigu dan kadang bertentangan dengan konsensus moral masyarakat. Sebut saja, tokoh cerpen Imam Sira (hlm. 34) yang dihinarendahkan masyarakat karena bacaan imamnya selalu melenceng dari kaidah tajwid Al-Quran, kendati demikian ia tetap bisa menjadi imam masjid karena dana pembangunan rumah ibadah itu berasal dari kantongnya. Namun, karena ia bersikeras dan memaksakan kehendaknya menjadi imam, rumah ibadah itu menjadi kosong ditinggal jemaahnya.

Pada mulanya, pembaca digiring pada asumsi bahwa Imam Sira adalah sosok egois. Orang kaya yang membangun rumah ibadah megah, namun membiarkan tetangganya miskin. Selain itu, ia pun keras kepala, tidak ingin melepaskan posisinya sebagai imam di masjid kampungnya. Suatu waktu, ketika masjid itu dibakar oleh orang tak dikenal, ternyata Imam Sira sedang salat di masjid itu, meninggal dengan husnulkhatimah, sujud menghadap Tuhan.

GHP seakan menyindir laku beragama (sebagian) orang Indonesia yang merasa benar sendiri, suka menghakimi orang lain, bahkan dalam taraf ekstrem (membakar rumah ibadah) untuk memusnahkan orang-orang yang berbeda pandangan dengannya.

Tema ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang. Kepekaan GHP merekam situasi zamannya patut diapresiasi, menjadi sindiran halus terhadap dinamika toleransi di tengah masyarakat. Inilah cermin hidup, meminjam ungkapan Mohamad Sobary, pantulan realitas yang dipampangkan oleh GHP. Realita pahit, meskipun tidak nyaman, harus kita saksikan sebagai bagian dari kenyataan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita.


Estetika dan Lokalitas


Warna lokal Melayu Riau sangat erat dalam cerpen-cerpen GHP. Abdul Hamid Nasution (2015) pernah berujar ketika mengulas karya GHP dengan menyatakan bahwa cerpen GHP berlandaskan sosial-budaya Melayu yang bermoral. Islam adalah ruh cerita, sementara jasadnya adalah budaya Melayu.

Corak warna lokal ini, dalam pandangan saya, bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menampilkan sensasi estetik, namun juga berpretensi sekadar ornamentasi diktum dan peribahasa khas Melayu sehingga memerlukan deretan catatan kaki untuk menjelaskan maksudnya.

Sebut saja kata-kata yang diungkap GHP, "menjejak bulan”, "lansik", dan "sasau" (Ke Langit Bersama Azan Magrib) atau "berbebat bak barau", "menghela" dan "hencut" (Elegi Cikgu Leman). Sesekali juga dijumpai kata-kata yang tak ditemukan di KBBI, tak ada juga di catatan kaki sehingga membuat kening pembaca berkerut, khususnya bagi pembaca non-Melayu seperti saya. Namun, kelebihannya, GHP bisa menggiring pembaca memahami maksud kata tersebut dengan latar konteks ceritanya. Bisa jadi, GHP bermaksud menggali pemakaian bahasa Indonesia dari daerah, alih-alih sekadar mengcangkok bahasa asing sebagai serapannya.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah kesadaran ekologis daerah yang diangkat oleh GHP. Cerpen bertajuk “Sesat di Rimba Brosmann” (hlm. 160) adalah sindiran tajam terhadap kerakusan manusia dalam mengeksploitasi lingkungan di Riau. GHP menampilkannya dalam wujud simbolik “Tuan Brosmann” yang merupakan lelembut penunggu hutan, mengingatkan tokoh cerita untuk tidak menjarah harta karun di hutan tersebut.

Barangkali GHP sadar bahwasanya hidup di zaman sekarang adalah benturan antara hidup modern (mendayagunakan seefisien mungkin sumber daya alam) dan masa silam (kearifan lokal). Simbol mitologi, kepercayaan, tradisi, adat, dan moralitas masyarakat setempat dapat ditafsirkan ulang sebagai bagian dari nilai universal yang harus dihayati agar tidak tersesat dalam laku eksplotasi liar.

Di tengah gempitanya perubahan zaman, banyak orang bermaksud meninggalkan kampung kelahiran, merantau, menyambut modernitas, GHP justru kembali ke adat setempat, merangkul lokalitas daerahnya. Bisa jadi, hal inilah yang menjadikan Nisan-Nisan Berbunga istimewa. Adat dan mitos yang sebagian telah dilupakan orang, diolah kembali oleh GHP, ditafsirkan ulang menjadi cerita-cerita yang apik dibaca.

Judul: Nisan-Nisan Berbunga

Penulis:
Griven H. Putera

Penerbit: Gambang Buku Budaya

Cetakan: Pertama, Juni 2021

Jumlah Halaman: 183 Halaman

ISBN: 978-623-7761-12-9

Baca juga artikel terkait RESENSI BUKU atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Abdul Hadi
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight