Perda Manokwari Kota Injil: Demo Menolak Pembangunan Masjid

Oleh: Mawa Kresna - 8 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Cerita demonstrasi menolak pembangunan masjid di Manokwari yang nyaris berujung rusuh pada 2015.
tirto.id - Sore itu Frans Abidondifu masih berkebun di pekarangan rumah ketika telepon genggam berdering. Ia buru-buru mengangkatnya. Di ujung telepon, perintah datang dari seorang pendeta. Ia harus datang ke gereja GKI Manggoapi untuk ikut rapat.

Dengan tergopoh-gopoh Abidondifu menuju ke gereja, masih dengan celana pendek dan badan penuh keringat. Perjalanan menuju gereja sekitar 20 menit. Setiba di sana, orang-orang sudah berkumpul, dari pendeta, majelis, jemaat sampai aktivis Kristen.

Malam itu mereka tengah rapat persiapan demonstrasi menolak pembangunan Masjid Rahmatan Lil 'alamin di Andai, sebuah perkampungan di Distrik Manokwari Selatan, Kamis, 29 Oktober 2015. Rencana aksi itu nyaris surut lantaran beberapa pendeta takut tampil. Sementara desakan warga gereja menguat. Beberapa orang dalam rapat khawatir bakal terjadi bentrok.

Abidondifu diminta sumbang saran. Ia salah satu yang berpengalaman untuk urusan demo. Pada 2005, ia pernah memimpin aksi demonstrasi penolakan masjid raya dan Islamic Center di Kota Manokwari. Selain itu, ia juga aktivis pemuda gereja dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).

“Kita harus perketat keamanan, jangan sampai ada provokasi. Ingat, aksi kita aksi damai,” katanya.

"Bapak-bapak pendeta yang hari ini tidak ada keputusan, besok tidak akan saya kasih panggung untuk bicara,” tegasnya.

Dua minggu sebelumnya, informasi soal demonstrasi menolak pembangunan masjid itu sudah dibacakan di gereja-gereja. Pada ibadah Minggu hingga ibadah rayon, informasi itu dibacakan berulang-ulang untuk menggaet massa.

Dua Hari Sebelum Aksi: Respons Warga Muslim

Dua hari sebelum aksi, aula Pondok Pesantren Salafiyah milik Abdul Kholik Bukhori dipenuhi orang. Pondok pesantren itu berada di SP3, pemukiman transmigrasi yang sebagian besar dari Jawa Timur. Abdul Kholik adalah tokoh Nahdlatul Ulama yang dituakan di sana. Mereka yang berkumpul malam itu adalah tokoh-tokoh masyarakat, ulama, serta aparat kepolisian dan tentara.

Pertemuan itu membahas rencana merespons aksi warga gereja yang menolak masjid Rahmatan Lil 'alamin. Komunitas Islam di Manokwari sudah berniat untuk mengadang aksi itu. Warga sudah menyediakan 118 truk dan 17 Toyota Hilux untuk mengangkut massa.

“Kalau begini bagaimana? Warga ini yang minta,” kata Abdul Kholik kepada aparat keamanan untuk meredam aksi.

Situasi telah diciptakan untuk tegang antara dua komunitas: Kristen dan Islam. Bila terjadi bentrok, Abdul Kholik tidak bisa membayangkan situasi terburuk Manokwari.


Abdul Kholik sebenarnya sudah berusaha meredam, tapi warga menilai penolakan terhadap masjid kali ini sudah tidak bisa dibiarkan. Penolakan terhadap pembangunan masjid di Manokwari bukan pertama kali terjadi. Pada 2005, warga Kristen pernah menolak pembangunan masjid raya Manokwari.

“Karena kami ini datang dengan sponsor damai, kenapa dizalimi? Tidak ada pilihan selain siap,” kata Abdul Kholik.

Ia menyampaikan kepada personel Koramil agar Dandim Manokwari dan polisi untuk datang besok malam ke rumah. Ia mau minta ketegasan aparat.

“Dandim dan kapolres siapakan, amankan Andai atau tidak. Kalau Dandim siap mengamankan, kami tidak akan turun. Tapi kalau tidak, kami akan turun. Apa boleh ... kami siap berjihad,” ujarnya.

Malam Sebelum Aksi: Diliputi Kecemasan

Rapat koordinasi aksi baru selesai malam hari. Segala detail keperluan dan keamanan sudah disiapkan secara matang. Semua atribut aksi sudah dibagikan. Barisan sudah diatur.

Barisan terdepan adalah para pendeta dengan atribut toga dan kelengkapan lain, lalu disusul majelis dan pengurus gereja, paling belakang jemaat. Estimasi masa sekitar 5.000 orang.

Tengah malam setelah rapat koordinasi, Frans Abidondifu berkeliling sepanjang rute demonstrasi. Dari Gereja Manggoapi sampai ke Kantor Bupati Manokwari di Sowi. Sepanjang jalan itu beberapa pemuda gereja sudah berjaga di beberapa titik.

Abidondifu sejatinya cemas. Ia tahu ini bukan demo pertama kali, tapi kali ini ia merasa berbeda. Ia teringat istri dan anaknya di rumah.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu besok? Bagaimana istri dan anaknya? Hal itu yang belum ia pikirkan ketika aksi tahun 2005 karena belum berkeluarga.

Istrinya pun sudah mengingatkan. Namun, ia meyakinkan sang istri bahwa aksi akan aman dan damai. Ia memastikan setiap peserta aksi harus memakai tali hitam di lengan kanan untuk menghindari penyusup.

Saat Frans menelusuri rute aksi, Abdul Kholik melakukan hal serupa tapi beda tujuan. Malam itu, sesuai kesepakatan dengan Kodim 1703/Manokwari dan polisi, warga tidak akan turun ke lapangan menghalau massa. Kesepakatan ini dicapai dengan syarat TNI dan polisi harus mengamankan para demonstran agar tidak mendekati masjid.

Meski kesepakatan dicapai, beberapa warga sudah telanjur turun. Sepanjang jalan, Abdul Kholik melihat beberapa orang bergerombol di beberapa titik.

Abdul Kholik, yang terlibat dalam Forum Kerukunan Umat Beragama, khawatir atas kondisi yang tegang itu. Ia tak ingin ada bentrok, sebab selama ini ia menilai bahwa kehidupan antar-umat beragama di Manokwari berjalan dengan baik.


Infografik HL Indepth Manokwari
Infografik: Penolakan masjid di Manokwari pada 2015. tirto/Lugas

Hari Aksi: Kedua Pihak Bisa Meredam Potensi Rusuh

Kamis, 29 Oktober 2015. Cuaca pada hari aksi cukup terik. Sekitar pukul 9 pagi, jalan menuju Kantor Bupati Manokwari sudah dipenuhi massa. Lalu lintas tertutup, jalan raya berubah jadi lautan manusia. Poster dan spanduk dibentangkan. Isinya dari penolakan terhadap masjid hingga menuntut pengesahan Perda Manokwari Kota Injil.

Frans Abidondifu berada di barisan depan massa. Ia mengamati ada banyak polisi dan TNI dengan senjata api.

“Jangan sampai ada provokasi. Kita aksi damai,” kata Abidondifu mengingatkan kawan-kawannya. Kalimat itu terus diulanginya kepada massa aksi. Ia khawatir, bila rusuh sedikit bisa memicu kekerasan dan penembakan.

Untuk menjaga massa tetap terkendali, mereka menyanyikan lagu-lagu gereja di sepanjang jalan. Kondisi mulai memanas ketika massa mendapati pintu gerbang Kantor Bupati ditutup. Massa memaksa masuk dan bertemu dengan bupati.

Saat massa mulai bergerak, Abdul Kholik gelisah. Ia takut bila ada provokator yang memancing bentrokan. Jaminan dari polisi mengamankan masjid tak bikin ia seketika tenang. Terlintas dalam pikirannya untuk melakukan sesuatu agar situasi tetap terjaga.

Ia memerintahkan orang-orang untuk turun ke lokasi aksi, tapi bukan untuk menyerang, justru sebaliknya, membantu. Ia meminta agar umat Islam membagikan air minum kemasan kepada massa aksi di sepanjang jalan. Ibu-ibu pengajian berjejer di sepanjang jalan, membagikan air minum bagi siapa saja dari peserta demo.

Tindakan itu menurunkan tensi dan demonstrasi berlangsung damai tanpa ada kekerasan.

Baik Frans Abidondifu dan Abdul Kholik bersyukur. Hari itu, meski ada perbedaan kepentingan umat beragama, provokasi dan pertikaian kekerasan yang mereka khawatirkan tidak terjadi di Manokwari.

“Saya ngeri membayangkan kalau itu terjadi. Tapi saya yakin, Manokwari masih bisa menerima perbedaan,” kata Abdul Kholik.

Sampai saat ini, peristiwa besar yang menyulut Manokwari jadi panggung kekerasan bersumbu agama bisa dihindari. Masjid Rahmatan Lil 'alamin di Andai telah berdiri menjadi salah satu masjid terbesar di Manokwari. Sampai kini umat Kristen tidak pernah mengusik bangunan masjid tersebut.

Baca juga artikel terkait PERDA KEAGAMAAN atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan