Menuju konten utama
Waisak 2018

Perbedaan Tanggal Waisak Bukan Halangan Meneladani Sang Buddha

Pesan toleransi diusung dalam peringatan Waisak 2018 di Indonesia, yang diambil dari inti ajaran Siddharta Gautama.

Perbedaan Tanggal Waisak Bukan Halangan Meneladani Sang Buddha
Biksu menyalakan api pelita dharma menjelang puncak perayaan Waisak 2562 BE/2018 di Vihara Sakyakirti, Jambi, Senin (28/5/2018). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

tirto.id - "Hidup bertoleransi adalah hidup dengan bijaksana memilih sesuatu yang dianggap membawa diri terbebas dari penderitaan. Itu adalah pilihan. Ini adalah bentuk toleransi yang paling besar dari agama Buddha."

Kalimat itu diucapkan Bhiksu Sakya Sugata atau Suhu Neng Xiu dari Sangha Mahayana Indonesia (SMI). Toleransi dan kasih adalah tema khusus yang dicanangkan SMI dalam hari Waisak yang secara resmi diperingati di Indonesia pada Selasa (29/5/2018).

Tema tersebut penting karena toleransi antar umat beragama di Indonesia, menurut Suhu Neng Xiu, tampak hampir punah dengan adanya rangkaian teror berturutan di Mako Brimob Depok, bom di tiga gereja di Surabaya, dan bom di Mapolda Riau sekitar dua pekan lalu.

Menurut Suhu Neng Xiu, aksi sejumlah kelompok yang ingin memaksakan ajaran agamanya kepada orang lain tidak sesuai dengan ajaran Buddha. "Dharma berarti ajaran (dalam agama Buddha). Ajaran mengenai kekerasan tidak sesuai dengan Buddha, apalagi kebencian dan mencelakakan orang lain juga tidak cocok. Ajaran untuk berbuat tidak bijaksana juga tidak sesuai dengan ajaran Buddha," ujar Suhu Neng Xiu kepada Tirto, Senin (28/5/2018).

SMI bukan satu-satunya organisasi penghimpun umat Buddha di Indonesia yang menelaah situasi tersebut. Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia (STI) Bhante Subhapanno Mahathera mengatakan melalui rilisnya kepada Tirto bahwa pertengkaran, baik dalam kehidupan bersosial maupun beragama, menjadi bagian dari kehidupan akhir-akhir ini.

"(Padahal) setiap ajaran agama mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan menjauhi segala kejahatan, semestinya umat beragama memiliki rasa malu berbuat buruk dan takut akibat perbuatan buruknya. Pertengkaran didasarkan pada ketidaktahuan dan dilakukan karena tidak melihat bahaya dari pertengkaran," ujar Bhante Subhapanno Mahathera.

Oleh karena itu, STI mengangkat tema "Bertindak, Berucap, Berpikir Baik, Memperkokoh Keutuhan Bangsa" pada peringatan Waisak 2018.

"Buddha Gautama memberi nasihat perihal kerukunan hidup bagaimana agar supaya saling dikenang, saling mencintai, saling dihormati, saling menolong, memiliki kepedulian, menjaga keutuhan persatuan," sebut Bhante Subhapanno Mahathera.

Meneladani Hidup Siddharta Gautama

Siddharta Gautama adalah anak seorang raja bernama Suddhodana yang memerintah kota Kapilavastu, sebuah daerah yang disebut berada di Nepal bagian selatan, dekat perbatasan Nepal-India.

Istri Suddhodana, Mahamaya, pergi ke wilayah kekuasaan ayahnya di Devadaha saat janin Siddharta yang dikandungnya berusia sepuluh bulan. Tetapi, belum sampai di Devadaha, Mahamaya melahirkan Siddharta di Taman Lumbini.

Tujuh hari setelah melahirkan Siddharta, Mahamaya meninggal. Siddharta pun tumbuh besar dalam didikan sang ayah. Ayahnya ingin Siddharta kelak menjadi raja. Siddharta dirawat secara khusus dan dibuatkan tiga istana. Dia juga dinikahkan dengan seorang putri bernama Yasodhara.

Tetapi, empat penampakan saat melakukan perjalanan keliling kota membuatnya tergugah untuk meninggalkan hal-hal keduniaan: Jinna (seorang tua renta), Byadhita (seorang sakit parah), Kalakata (seorang yang mati), dan Pabbajita (seorang petapa). Bagi Siddharta, manusia lahir dalam keadaan anicca (tidak kekal) yang menimbulkan dukkha (derita).

Saat menginjak usia ke-29, Siddharta keluar istana untuk menjadi petapa. Semasa pengembaraannya itu, ada masa selama enam tahun yang digunakan Siddharta untuk menyiksa dirinya demi mendapatkan kebenaran. "Ternyata, jalan yang ekstrem tidak bisa membawa pembebasan," ujar Suhu Neng Xiu.

Akhirnya, Siddharta pun menempuh majjhimapatipada, yakni jalan tengah—tidak ke kanan yang terlalu bahagia, atau ke kiri yang terlalu menderita. Lalu, pada usia ke-35, Siddharta mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi dan meraih ke-Buddha-an.

"[Siddharta] Mencapai penerangan sempurna, dari sosok manusia biasa yang kemudian berjuang untuk mencari jawaban atas kehidupan," sebut Suhu Neng Xiu.

Buddha Gautama, begitu orang-orang menyebut namanya, sejak itu mengajarkan dhamma di mana-mana. Mula-mula ia mengajarkannya di Isipathana, Sarnath kepada lima petapa yang dulu bersamanya menyiksa diri. Kemudian, sang Buddha mengajar orang-orang di Kapilavastu dan wilayah-wilayah lain.

Pada usia ke-80, sang Buddha tutup usia atau parinibbana. Murid-murid, penganut ajaran, dan biksu (pemuka agama Buddha), lalu menyebarkan ajaran sang Buddha ke seluruh dunia.

Infografik Lentera Perdamaian Buddha

Ragam Cara Peringati Waisak

Berdasarkan sensus pada 2011, ada 7.955.207 (0,8%) penduduk India beragama Buddha. Di Indonesia, ada 1.703.254 (0,72%) penduduk beragama Buddha menurut sensus pada 2010.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menjadi negara dengan penduduk beragama Buddha terbanyak di dunia, disusul Thailand, Jepang, Myanmar, dan Sri Lanka. Riset PEW Research Center memperkirakan ada 244.110.000 penduduk RRT beragama Buddha pada 2010. Itu mengisi 50% populasi pemeluk Buddha di dunia yang diperkirakan berjumlah 487.760.000 orang pada 2010.

Salah satu hari suci yang diperingati umat Buddha adalah Waisak. Secara umum, Waisak merupakan nama bulan dalam sistem kalender lunar India yang jatuh pada April atau Mei kalender masehi.

Pada 2018, pemerintah Indonesia secara resmi memeringati Waisak pada 29 Mei 2018. Waisak tersebut merupakan peringatan tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama yang seluruhnya terjadi saat purnama di bulan Waisak: kelahiran, pencerahan sempurna, dan parnibbana.

Namun, tidak semua negara serupa dengan Indonesia dalam merayakan Waisak. Bahkan di Indonesia pun Waisak diperingati secara beragam.

Waisak, bagi Sangha Mahayana Indonesia (SMI), adalah hanya hari peringatan kelahiran Siddharta Gautama. Menurut sistem kalender lunar Tiongkok yang mereka gunakan, Siddharta lahir tanggal 8 bulan ke-4 kalender lunar Tiongkok. Pada 2018, SMI memperingati hari tersebut pada 20 Mei 2018.

Suhu Neng Xiu juga menjelaskan bahwa SMI meyakini hanya peristiwa parinibbana yang berlangsung saat purnama, yakni pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender lunar Tiongkok. Dengan kalender yang sama, SMI meyakini Siddharta mencapai kesempurnaan pada hari ke-8 bulan ke-12.

Secara umum, kalender lunar Tiongkok digunakan di Korea Selatan, RRT, dan Taiwan.

Sementara itu, orang-orang Jepang mengkombinasikan perayaan kelahiran sang Buddha dengan tradisi setempat. Kelahiran Siddharta Gautama diperingati tanggal 8 April setiap tahun di Jepang. Perayaan itu menyatu dengan upacara khas Shinto, agama tradisional Jepang, yang dikenal dengan sebutan Hanamatsuri.

Korea Selatan pun dikenal mengkombinasikan Waisak dengan tradisi lokal, yaitu perayaan festival lampion lotus yang dianamakan Yeondeunghoe. Tahun ini, perayaan tersebut diselenggarakan pada 12-23 Mei. Semasa perayaan Yeondeunghoe, dari gerbang Dongdaemun ke Vihara Jogye dipenuhi lampion.

Perbedaan tanggal dalam memperingati peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan Siddharta memang terjadi di mana-mana. Namun, itu bukan penghalang umat Buddha dan manusia pada umumnya untuk meneladani sikap welas asih sang Buddha Gautama.

Baca juga artikel terkait HARI WAISAK atau tulisan lainnya dari Husein Abdulsalam

tirto.id - Humaniora
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan