STOP PRESS! Polisi Ungkap Sindikat Bisnis Ujaran Kebencian

Perang Komikus Terkait Konten Porno dalam Komik

Perang Komikus Terkait Konten Porno dalam Komik
Konten komik dewasa yang diunggah di Instragram. Tirto.ID/Andrey Gromico
12 Januari, 2017 dibaca normal 4 menit
Dua komikus berdebat karena salah satu dari mereka membuat komik dengan konten sensualitas yang dianggap pornografi. Namun, pihak yang dituduh menangkis kecaman itu dengan mengatakan bahwa ada disclaimer, bahwa komik karyanya diperuntukkan bagi orang berusia di atas 18 tahun.
tirto.id - Komik-komik berkonten porno merajai pangsa pasar komik. Di Instagram, follower mereka melejit dengan cepat. Di pangsa pasar cetak, komik dengan sensualitas banyak dicetak dan dicari. Benarkah konten pornografi mendatangkan rezeki tersendiri bagi para komikus?

Senin malam, timeline akun Instagram memunculkan satu gambar dari akun komik @banggaber. Biasanya, kontennya sarat kritik sosial. Namun, kali ini ada yang berbeda: kolom komentarnya dipenuhi hujatan kepada komik karya Rizal Fahmi itu.

Dalam unggahan tersebut, terlihat satu panel dialog Gaber, tokoh utama komik yang mendapat pertanyaan dari temannya terkait konten yang disuguhkan untuk menarik follower. Gaber menjawab pertanyaan tersebut dengan merujuk @komikkipli sebagai contohnya.

“Ber, lo nggak mau bikin komik semi bokep aje? Biar cepet naek followers lo.”

“Lo kata gua kipli kali ya.”

Tak cukup sindiran dalam bentuk gambaran tangan, Gaber masih menambahkan caption yang singkat namun cukup sinis di bawah postingan tersebut: “Karya?”

Sontak unggahannya kali itu menuai banyak hujatan. Komikus yang disindirnya pun ikut bereaksi. Melalui akun @komikkipli, Okky Adrian Lola, sang komikus langsung membuat balasan. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa di akun Instagramnya jelas tertulis peringatan 18+ untuk menyaring para pembaca yang ingin menikmati coretan tangannya.

Kipli juga mengunggah ulang karya Gaber yang memberi pesan “Hanya orang kecil yang berusaha mengecilkan orang lain agar merasa jadi besar.” Namun, unggahan itu kemudian dihapus dan kemudian ada gambar Kipli yang merangkul Gaber sambil memberi nasehat sindiran. 

“Gambar ya gambar aja, jangan alay, jangan takut tersaingi. Rejeki udah masing-masing, mau tenar yuk bareng-bareng.”

Perang dua komikus ini bertambah ramai, ditandai dengan komentar yang terbelah menjadi dua di kolom komentar kedua komikus. Para komentator yang mengkategorikan diri sebagai #teamgaber atau #teamkipli ikut-ikutan berpendapat: mana karya yang dapat dikategorikan sebagai “karya” yang baik menurut versi mereka.

Gaber berdalih, pembuatan konten komik 18+ sah-sah saja dilakukan komikus, hanya saja harus dilakukan di forum-forum khusus dewasa. Penyedia konten juga dapat memfilter kategori pembacanya. Filterisasi tak cukup dilakukan pada distribusi konten komik 18+ di Instagram atau media sosial lainnya dengan hanya mencantumkan 18+ di bio akun, sebab di platform-platform itu karena semua umur leluasa membuat akun dan melihat akun apapun selama tidak diproteksi.

Komik Sensual dan Para Penggemarnya.

Akun @banggaber merupakan akun Instagram milik Rizal Fahmi yang kontennya banyak bertema kritiksosial. Mulai dari sindiran terkait situasi keagamaan, hingga sindiran bertema sosial dan politik.

Komik ini mulai ada di Instagram sejak 1 November 2014 dan sudah memuat  677 postingan. Followers-nya di Instagram mencapai 100 ribu sedangkan di Line Webtoon mencapai 8.500 pembaca tetap dengan rating 9,42.

Adapun @komikkipli merupakan komik yang menyuguhkan konten humor dengan menyelipkan sisi sensualitas dalam gambarnya, seperti ilustrasi perempuan dewasa bertubuh montok dengan pakaian minim. Jika ditengok ke belakang, komik besutan Okky Adrian Lola ini memang baru memulai ngomik di 7 September 2016. Ia sudah memiliki 249 ribu pengikut.

Kipli mampu melejit hanya dalam 4 bulan dengan konten sensualnya. Tapi mengenakah sindiran Gaber?

Hikmat Darmawan, pengamat komik dan budaya pop, mengatakan konten sensual bisa jadi mengangkat nama komikus namun bisa juga tidak. Contohnya adalah komik Jambu Madu yang memuat konten serupa Komik Kipli sempat nangkring di jajaran 5 besar genre komedi di Webtoon Challenge dan mampu meraih 35 ribu favorit pembaca di komik Webtoon.

Namun, tepat seminggu lalu harus rela kontennya dihapus oleh pihak Line Webtoon. Kabarnya, karya Jambu Madu dihapus karena kontennya dianggap terlalu vulgar. Contoh lainnya adalah polemik yang menghinggapi komik Kharisma Jati pada Oktober 2016 silam. Kharisma Jati sebenarnya terkenal dengan konten yang menyinggung isu-isu tentang pembunuhan meliputi mutilasi, dan juga seks yang tak kalah horor meliputi sodomi, incest, pemerkosaan, penyiksaan, kekerasan seksual terhadap anak kecil, dan sebagainya.

Sayangnya, ia, menjadi banyak diperbincangkan dan sempat menjadi Trending Topic di Google bukan karena prestasinya, melainkan karena perseteruannya dengan komikus lain, yakni Sheila Rooswitha Putri yang dikenal lewat komik Sheilasplayground. Jati, membuat komik terkait seks yang secara eksplisit menyerang Sheilasplayground karena menggambarkan tokoh Sheilasplayground beradegan seksual dengan anaknya. Dampaknya, Kharisma Jati mendapat sanksi sosial berupa pengucilan dari dunia perkomikan.

“Berapa banyak pembaca komik yang memuja karena konten pornografinya? Apa semua membeli karya sensual si komikus? Mungkin dia terkenal tapi hanya di lingkarannya sendiri,” kata Hikmat kepada Tirto.

Ia pun memberi contoh beberapa komikus yang kemungkinan dikenal karena konten sensualnya, misal Milo Manara dari Italia, atau Robert Crumb dari Amerika. Namun, setenar-tenarnya komik yang menampilkan sisi sensualitas, baginya tetap tak akan melampaui ketenaran komik yang menyajikan konten pop. Hikmat menyandingkan Komik Kharisma Jati dengan Komik Tahilalats sebagai pembandingnya.

Karakter Komik yang Kuat

Pernyataan ini terbukti benar, dilihat dari jajaran sepuluh manga terpopuler di dunia per Juli 2016 yang hanya menyisipkan satu slot bagi komik berbau sensualitas di dalamnya. Dari hasil cetakan, manga One Piece berhasil unggul dengan jumlah cetakan 380 juta eksemplar.

Kepopuleran ini disusul Goigo 13 dengan jumlah cetakan 280 juta eksemplar. Goigo 13 adalah manga seri yang ditulis dan diilustrasikan oleh Takao Saito. Manga ini secara implisit menyuguhkan tema sensualitas tetapi fokus pada cerita seorang pembunuh profesional. Ia memicu perdebatan: apakah ketenarannya dikarenakan konten sensual yang disuguhkan atau murni kualitas cerita utama yang memiliki kekuatan karakter?

Posisi ini kemudian disusul Dragon Ball sebanyak 230 juta eksemplar, Naruto 220 juta eksemplar, Black Jack 176 juta eksemplar, Kochira Katsushika-ku Kameari Koen-mae Hashutsujo 156.5 juta eksemplar, Case Closed 150 juta eksemplar, Oishinbo 130 juta eksemplar, Slam Dunk 120 juta eksemplar, Astro Boy 100 juta eksemplar, Doraemon 100 juta eksemplar, Fist of the North Star 100 juta eksemplar, dan Touch 100 juta eksemplar.

Pada Februari 2015 komik bernuansa sensual tak punya tempat di pasaran komik terlaris. Posisi pertama diduduki oleh komik Superman dengan jumlah cetakan 600 juta eksemplar, disusul Batman 460 juta eksemplar, Spiderman 360 juta eksemplar, X-men 270 juta eksemplar, Captain America 210 juta eksemplar, The Adventures of Tintin 200 juta eksemplar, Dragon Ball 200 juta eksemplar, dan The Phantom 150 juta eksemplar. 


Perang Komikus Terkait Konten Porno dalam Komik

Sebenarnya, jika diperiksa secara lebih rinci, pada jajaran komik maupun manga di atas banyak yang meminjam unsur sensualitas. Kerap ada wanita berbaju seksi di serial One Piece atau Dragon Ball. Namun, cerita yang disajikan pada umumnya adalah hal-hal yang tak terkait seks.

Di negara maju, ada penerapan kategori “dewasa” secara ketat. Para komikus berkonten sensual justru telah memilih untuk mengurangi jumlah pembaca dengan melabeli kontennya dengan pemberitahuan bahwa produk itu khusus dikonsumsi untuk umur 18 ke atas dan dipublikasikan secara terbatas. Pada negara maju, penanganan dilakukan dengan regulasi pembatasan bukan dengan peniadaan konten komik berbau pornografi.

“Itu mengapa di Jepang walaupun komiknya dijual di minimarket, tetap tidak ada anak-anak yang akses karena payung hukumnya berjalan dengan baik. Beda dengan di Indonesia.”

Kondisi ini bisa dianalogikan seperti pelabelan “R” atau “D” pada film. Ketika sebuah film diproduksi untuk dua label tersebut, maka secara sadar sutradara telah mengambil konsekuensi bahwa filmnya hanya ditonton golongan dalam label tersebut.

Sayangnya, di Indonesia, jangankan payung hukum yang berjalan, urusan kategorisasi konten saja negara kita belum rampung. Para komikus dan pembaca, menurut Hikmat, masih sering rancu menempatkan eksplorasi atau eksploitasi sensual pada karyanya.

“Pornografi adalah pornografi, ia berkaitan dengan industri. Sama halnya dengan industri film porno, banyak dinikmati tapi tak akan melampaui industri film Hollywood,” katanya

Baca juga artikel terkait KOMIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - adi/msh)

Keyword