Perang di Industri Kurir Makanan

Tampilan web UberEats. UberEats berencana memperluas layanan di belasan kota baru dalam 22 negara termasuk Jakarta. [Foto/ubereats.com]
Oleh: Nuran Wibisono - 30 September 2016
Dibaca Normal 4 menit
Meski masih mengandalkan bisnis transportasi, Uber, Grab, atau GoJek tidak akan berdiam di satu ceruk. Mereka terlalu besar untuk mendiami satu tempat saja. Di Indonesia, merek GoFood sudah sama terkenalnya dengan GoJek itu sendiri.
tirto.id - GoFood sekarang bisa dikatakan sebagai pemain utama dalam industri kurir makanan di Indonesia, terutama di kota-kota besar semacam Jakarta atau Bandung. Bahkan secara jemawa, GoJek bisa membuat Foodpanda hengkang dari Indonesia. Padahal Foodpanda bukan perusahaan ecek-ecek, pun sudah lebih dulu ada ketimbang GoFood. Didukung oleh puluhan ribu pengemudi, kini sudah ada 37.000 restoran dan rumah makan yang berpartner dengan GoFood.

Tapi penguasa akan selalu mendapatkan penantang. Grab, perusahaan rintisan asal Malaysia, melihat betapa besar pangsa pasar pengantaran makanan ini. Mereka pun membuat GrabFood. Tapi hingga sekarang, usaha mereka masih sekadar gelitikan kecil ke badan GoFood. Untuk area pengantaran saja, GrabFood hanya beroperasi di area Senayan, SCBD, Semanggi, dan Kuningan.

Yang tampaknya akan menjadi penantang serius bagi GoFood adalah UberEats. Bisa ditengok dari namanya, UberEats akan bergerak di bidang pengantaran makanan, ranah yang sama dengan Go Food atau GrabFood. Mereka pertama kali beroperasi di Paris, Perancis, pada Juni tahun lalu. Saat ini sudah ada layanan UberEats di 18 kota dan mereka akan berencana membuka layanan di belasan kota baru dalam 22 negara, termasuk di Jakarta.

Tak hanya itu, mereka berencana memperkuat sistem dan layanannya untuk melawan, "...rival lokal." Minggu lalu, di Amsterdam, Uber baru saja merilis layanan UberEats. Mereka akan menghadapi perusahaan kurir makanan yang sudah lebih dulu mapan di Belanda, Takeaway.com.

Saat ini di situs resmi Uber, ada sekitar 150 lowongan pekerjaan untuk UberEats. Di Jakarta, yang dicari untuk adalah Restaurant Operations Manager, Restaurant Partnerships Manager, hingga General Manager.

"Kami percaya diri UberEats akan berjaya di seluruh dunia dan meninggalkan jejak di kota-kota tempat Uber beroperasi," kata Jambu Palaniappan pada Reuters.

Meski namanya mengingatkan kita pada buah tropis, Jambu adalah orang yang ambisius. Dia sekarang menjabat sebagai pimpinan UberEats untuk Eropa, Timur Tengah, dan Eropa.




Palagan Besar: Amerika, Eropa, dan Asia

Di Eropa, UberEats tidak bisa melenggang santai. Bisnis pengantaran makanan sangatlah ketat. Bulan lalu, Deliveroo, perusahaan kurir makanan yang amat populer, baru saja mendapatkan investasi tambahan sebesar 275 juta dolar.

"Dana itu akan kami gunakan untuk memperluas layanan untuk pasar baru maupun yang sudah ada, sekaligus untuk layanan di masa depan seperti Roobox," tulis Deliveroo di situs resminya. Roobox adalah konsep dapur yang bisa berpindah-pindah.

Deliveroo bisa dibilang adalah satu dari banyak raksasa layanan antar makanan. Mereka sudah beroperasi di 84 kota di 12 negara. Termasuk Australia, Perancis, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Saat ini, perusahaan yang bermarkas di London ini sudah punya valuasi sekitar 1 miliar dolar. Setidaknya ada 4 investor besar yang menaruh uangnya di Deliveroo, mulai dari Greenoaks Capital, DST Global, General Catalyst, dan yang terbaru adalah Bridgepoint.

Pasar antar makanan memang amat menggiurkan secara angka. Menurut kajian dari Morgan Stanley, perusahaan layanan finansial, industri pengantaran makanan saat ini bernilai sekitar 30 miliar dolar. Ke depan, nilainya diperkirakan akan mencapai 210 miliar dolar. Kehadiran internet dan ponsel pintar juga berpengaruh terhadap pesatnya perkembangan layan antar.

Salah satu makanan yang paling dipengaruhi oleh sistem pengantaran makanan berbasis internet ini adalah pizza. Morgan Stanley menuliskan bahwa tiga restoran pizza terbesar di Amerika --Pizza Hut, Domino's, dan Papa John's-- mendapatkan pemasukan terbesar dari pemesanan online. Lompatannya, kata mereka, dari 0 persen menjadi 50 persen.

"Setelah melihat perkembangan besar di pasar pengantaran makanan, fokus baru kami adalah membuat inovasi baru untuk pengantaran makanan," kata pendiri dan CEO Deliveroo, Will Shu.

Eropa adalah pasar yang besar untuk industri ini. Selain Deliveroo, banyak sekali investor yang menaruh uang besar-besaran untuk perusahaan pengantaran makanan. Take Eat Easy, perusahaan yang bermarkas di Brussels, mendapatkan pendanaan dari Rocket Internet, perusahaan asal Jerman yang sudah mengeluarkan investasi sekitar 779 juta dolar untuk perusahaan kurir makanan di seluruh Eropa dan Asia.

Ada lagi perusahaan Inggris Just Eat, yang sekarang punya valuasi mendekati 3 miliar dolar. Perusahaan Jerman, Delivery Hero, baru-baru ini mendapatkan investasi total sekitar 1,8 miliar dari para investor. Dua perusahaan ini akan bersaing di pasar kelas menengah dengan harga yang lebih terjangkau.

Sedangkan di Asia, meski tampak belum merata, layanan ini sudah menjelma jadi raksasa. Salah satu yang terbesar adalah Ele.me. Perusahaan yang berbasis di Tiongkok baru-baru ini mendapatkan gerojokan investasi 1,25 miliar dolar dari dua perusahaan raksasa, Alibaba dan Ant Financial. Alibaba memasok sekitar 900 juta dolar, sisanya ditanggung oleh Ant Financial.

Padahal Alibaba sudah punya lini kurir makanan sendiri, yakni Koubei, kata dalam bahasa Tiongkok yang berarti "dari mulut ke mulut". Menurut Wall Street Journal, Ele.me --bahasa Tiongkok yang artinya, apakah kamu lapar?-- akan bekerjasama dengan Koubei yang tahun lalu mendapatkan investasi 464 juta dolar dari Alibaba dan Ant Financial.

Selain di Tiongkok dan Indonesia, India adalah salah satu negara Asia yang sedang bergairah menyambut bisnis kurir makanan berbasis aplikasi dan internet ini. Salah satu pemain kuat di India adalah Swiggy. Aplikasi ini sudah diunduh sebanyak 2,2 juta kali. Mereka hadir di 8 kota di India dan setiap hari melayani sekitar 45.000 order makanan.

Awal tahun 2016, mereka mendapat pendanaan sekitar 2 juta dolar. Saat ini mereka sedang bernegosiasi untuk mendapatkan investasi 12 juta dolar dari investor asal Amerika Serikat, Bessemer Venture Partner. Tak hanya itu, Amazon India juga tertarik untuk menaruh dana pada perusahaan asal Bangalore ini.

Namun, dari semua area itu, pertempuran terbesar mungkin ada di Amerika. Menurut perusahaan riset internet CB Insights ada setidaknya 40 perusahaan rintisan yang berada dalam ceruk kurir makanan. Gilanya, rata-rata punya valuasi yang besar. Yang terbesar adalah Blue Apron, punya valuasi sekitar 2 miliar. Diikuti oleh DoorDash (700 juta dolar), Postmates (500 juta dolar), dan Munchery (300 juta dolar). Pendanaan mereka juga besar. Instacart pada awal tahun ini mendapat pendanaan sekitar 275 juta dolar. Juni tahun lalu, Blue Apron dapat investasi tambahan sebesar 193 juta dolar.

Mereka yang Mengibarkan Bendera Putih

Dengan adanya ratusan perusahaan food delivery, wajar kalau investor sedikit kebingungan di mana harus menaruh dana. Akibatnya, investasi jadi tidak merata. Tak heran kalau ada beberapa rintisan food delivery yang tumbang hanya dalam waktu beberapa bulan sejak dimulai.

Kitchen Surfing mulai pada Januari 2016 dan tutup pada Maret. Kitch It berdiri pada Januari 2016 dan tutup pada April. Spoon Rocket memulai bisnis pada bulan September 2015, dan harus kemas piring pada Februari 2016. Padahal mereka semua sudah mendapat pendanaan awal lebih dari 5 juta dolar.

Pendanaan untuk perusahaan kurir makanan ini memang pernah besar. Menurut CBInsights, sejak 2014 para investor sudah mengguyur 10 miliar dolar kepada 421 perusahaan pengantar makanan. Namun di 6 bulan pertama, jumlah itu menurun hingga setengahnya. Wajar kalau perusahaan yang mengandalkan dana dari investor, kerap kembang kempis. Bahkan bangkrut seperti yang terjadi pada Take Eat Easy asal Belgia, yang beberapa bulan lalu mengibarkan bendera putih walau sudah mendapatkan pendanaan besar selama bertahun-tahun.

"Masalahnya, sebagian besar perusahaan pengantar makanan yang sekarang masih ada adalah perusahaan skala kecil dan menengah. Mereka tidak bisa berkompetisi tanpa logistik yang superior," kata Neil Campling, Pimpinan Riset Global di perusahaan investasi Norther Trust Capital Market, pada TIME.

Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah itu tentu tak bisa menandingi dalamnya dompet perusahaan raksasa seperti Uber atau Amazon. Karena itu sebagian besar perusahaan kecil menengah itu mulai mengubah strategi. Antara lain dengan menyempitkan area pelayanan, sehingga kualitas makanan tidak menurun dan bisa diantarkan dengan cepat.

Tapi UberEats pun tidak bisa lenggang kangkung. Bisnis pengantaran makanan ini memang besar secara nilai, tapi secara margin keuntungan, tidak sebesar yang dibayangkan. Ongkos produksinya pun bisa bikin cenat-cenut. Apalagi bagi perusahaan seperti Uber atau GoJek yang tidak membatasi lingkup area pelayanan. Bisa jadi ongkos untuk bensin jauh lebih besar ketimbang ongkos kurir yang dikutip. "Margin keuntungannya lebih mirip sebuah tantangan," kata Jitse Groen, direktur Takeaway.com pada Financial Times.

"Aku tidak melihat apa untungnya bagi Uber untuk bergerak ke bisnis pengantaran makanan. Hidangan cepat jadi dingin dan orang bergerak dengan cepat. Tapi kami menganggap mereka serius karena mereka punya uang. Bukan karena mereka lebih baik ketimbang, katakanlah JustEat.”

Pada akhirnya, perkembangan internet dan ponsel pintar tidak akan bisa dihalangi. Begitu pula bisnis yang bersandar padanya, termasuk usaha pengantaran makanan. Tinggal menunggu saja, siapa yang lebih cepat kehabisan uang dan harus mengibarkan bendera putih.

Baca juga artikel terkait GO-JEK atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight