Penyebab Kerusuhan Amerika di Capitol Usai Pemilihan Trump vs Biden

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 7 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kerusuhan di Capitol AS salah satunya disebabkan oleh twit Trump yang menghasut para pendukungnya.
tirto.id - Unjuk rasa yang dilakukan pendukung setia Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Capitol AS berujung kekerasan. Massa memaksa anggota parlemen bersembunyi, dalam upaya untuk membatalkan pemilihan presiden Amerika, melemahkan demokrasi negara dan mencegah Joe Biden dari Demokrat menggantikan Trump di Gedung Putih.

Dewan perwakilan bersembunyi di bawah meja dan polisi mencoba menghalangi massa yang hendak masuk ke gedung dewan perwakilan. Seorang wanita ditembak dan meninggal di dalam Capitol, mengakibatkan walikota Washington memberlakukan jam malam untuk menahan kekerasan.

Diwartakan AP News, kerusuhan ini diakibatkan oleh Trump, yang selama berminggu-minggu mengunggah informasi tidak benar soal pemilu AS dan telah mendesak para pendukungnya untuk turun ke Washington, memprotes persetujuan resmi Kongres atas kemenangan Biden.

Beberapa anggota parlemen Republik sedang mengajukan keberatan atas hasil atas namanya ketika persidangan tiba-tiba dihentikan oleh massa,

Kongres berkumpul kembali beberapa jam kemudian dan berniat untuk menyelesaikan pengesahan pemungutan suara dari Electoral College untuk pemilihan Biden, meskipun butuh waktu semalaman.

Wakil Presiden Mike Pence, membuka kembali sesi tersebut, langsung berbicara kepada para demonstran: "Anda tidak menang."

Trump mendorong para pendukungnya untuk beraksi pada Rabu (6/1/2021) pagi waktu setempat. Dia mendesak mereka untuk berbaris menuju Capitol.

Atas desakan stafnya, Trump kemudian mengeluarkan twit dan video yang memberi tahu para pendukungnya bahwa sudah waktunya untuk "pulang dengan damai" - namun dia masih mengatakan dia mendukung tujuan mereka.

Biden mengatakan demokrasi Amerika "berada di bawah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," sebuah sentimen yang digaungkan oleh banyak orang di Kongres, termasuk beberapa dari Partai Republik. Mantan Presiden George W. Bush mengatakan dia menyaksikan peristiwa itu dengan "tidak percaya dan cemas."

Gedung Capitol selama berabad-abad telah menjadi tempat protes dan kekerasan sesekali. Namun, peristiwa hari Rabu sangat mencengangkan baik karena terungkap setidaknya pada awalnya dengan restu implisit dari presiden dan karena tujuan mendasar untuk membalikkan hasil pemilihan presiden yang bebas dan adil.

Twit Trump Jadi Salah Satu Penyebab Kerusuhan di Amerika


Facebook dan Twitter menangguhkan unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (6/1/2020) waktu setempat setelah penyerbuan US Capitol oleh para pendukungnya atau Trump supporter.

Twitter menangguhkan atau menonaktifkan akun Trump selama 12 jam dan mengatakan, jika Trump melakukan pelanggaran lagi maka akunnya akan ditangguhkan permanen.

Perusahaan tersebut menghapuskan tiga twit Trump, termasuk video pendek di mana ia mendesak para pendukungnya untuk "pulang" sambil mengulangi kebohongan tentang integritas pemilihan presiden.

Akun Trump menghapus postingan itu; seandainya unggahan tersebut tetap ada, Twitter mengancam akan memperpanjang penangguhannya. Facebook juga melakukan hal yang sama, Trump tidak akan dapat memposting selama 24 jam setelah dua pelanggaran kebijakan.

Para ahli melihat tindakan Twitter dan Facebook ini terjadi setelah Trump dan para pendukungnya menyebarkan informasi yang salah, berbahaya dan mendorong kekerasan yang telah berkontribusi pada kerusuhan di US Capitol.

Jennifer Grygiel, seorang profesor komunikasi Syracuse University dan pakar media sosial, mengatakan peristiwa kerusuhan di di Washington, D.C. Amerika Serikat adalah akibat langsung dari penggunaan media sosial oleh Trump untuk menyebarkan propaganda dan disinformasi.

"Inilah yang terjadi. Kami tidak hanya melihat pembobolan di Capitol. Platform media sosial telah berulang kali dibobol oleh presiden. Ini adalah disinformasi. Ini adalah upaya kudeta di Amerika Serikat," ujarnya, seperti dikutip AP News.

Grygiel mengatakan keputusan platform media sosial untuk menghapus video - dan penangguhan Twitter - terlalu sedikit dan sudah terlambat.

"Media sosial terlibat dalam hal ini karena dia [Trump] berulang kali menggunakan media sosial untuk menghasut kekerasan. Ini adalah puncak dari propaganda dan penyalahgunaan media selama bertahun-tahun oleh presiden Amerika Serikat," ujar Grygiel.

Trump memposting video itu lebih dari dua jam setelah pengunjuk rasa memasuki Capitol, menghalangi pertemuan anggota parlemen dalam sesi bersama untuk mengonfirmasi hasil Electoral College dan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.

Guy Rosen, wakil presiden integritas Facebook, mengatakan di Twitter hari Rabu bahwa video Trump dihapus karena dianggap mendukung kerusuhan di Capitol, alih-alih mengurangi risiko kekerasan yang sedang berlangsung."

“Ini adalah situasi darurat dan kami mengambil tindakan darurat yang sesuai, termasuk menghapus video Presiden Trump,” kata Rosen di Twitter.

Twitter awalnya membiarkan video tersebut tetapi memblokir orang agar tidak dapat me-retweet atau mengomentarinya. Baru kemudian pada hari itu platform menghapus video itu sepenuhnya.

Trump membuka videonya dengan mengatakan, "Saya tahu rasa sakit Anda. Saya tahu sakit hati Anda. Tapi Anda harus pulang sekarang. ”

Setelah mengulangi klaim palsu tentang penipuan pemilih yang memengaruhi pemilu, Trump melanjutkan dengan mengatakan: "Kita tidak bisa bermain-main dengan orang-orang ini. Kita harus memiliki kedamaian. Jadi pulanglah. Saya sayang kalian. Kalian sangat spesial."

Anggota parlemen Republik dan pejabat pemerintahan sebelumnya telah meminta Trump untuk memberikan pernyataan agar para pendukungnya tidak melakukan kekerasan.

Pernyataan itu muncul ketika pihak berwenang berjuang untuk mengendalikan situasi kacau di Capitol yang menyebabkan evakuasi anggota parlemen dan kematian setidaknya satu orang.

Trump telah memanfaatkan media sosial - terutama Twitter - sebagai alat yang ampuh untuk menyebarkan informasi yang salah tentang pemilu. Kerusuhan hari Rabu hanya meningkatkan seruan untuk melarang Trump dari platform tersebut.


Baca juga artikel terkait PEMILU AMERIKA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Politik)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight