Penyanderaan di Tembagapura Adalah Kasus Lama

Oleh: Yulaika Ramadhani - 9 November 2017
Dibaca Normal 1 menit
Kasus penyanderaan di Mimika bukan yang pertama, tetapi sudah berulang kali terjadi
tirto.id - Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan adanya ‘penyanderaan’ yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Kimbely dan Desa Banti, Mimika, Papua. Menurutnya, kasus tersebut bukan yang pertama, tetapi sudah berulang kali terjadi. Dikabarkan terdapat 1.300 orang yang tidak diperbolehkan untuk bepergian.

Mantan Kapolda Papua ini menjelaskan bahwa saat dirinya bertugas di tahun 2012-2014, KKB sudah ada di daerah Tembagapura, Mimika. Menurutnya, mereka merupakan bagian dari pekerja tambang di sana—atau lebih tepatnya para pendulang emas di dekat lokasi tambang Ertsberg dan tambang Grasberg.

Tambang Grasberg tersebut mempunyai cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Kedua tambang ini dinaungi oleh PT Freeport-McMoRan.

“Di bawah tambang Freeport terdapat yang namanya Kali Kabur. Di tempat itu terdapat 8 ribu sampai 10 ribu pendulang liar. Pendulang liar ini merupakan warga lokal dan juga pendatang. KKB ada di tengah-tengah mereka,” terang Tito kepada Tirto, Kamis (9/11/2017).

Di Mapolda Metro Jaya, Tito juga menegaskan bahwa hal ini bukan terjadi kali pertama. Masalah sosial ini sudah terjadi bertahun-tahun. Ribuan orang juga sudah mendulang dari daerah Kali Kabur.

Kelompok KKB ini, dikatakan Tito, pernah melakukan penyerangan kepada petugas polisi yang ada di situ. Tidak hanya luka ringan, petugas bahkan sampai mengalami luka tembak. Mereka berebut hasil limbahan Freeport bernama tailing.

“Kadang-kadang mereka (KKB) sebetulnya mendulang juga, tapi kadang-kadang mereka (KKB) juga melakukan pemerasan kepada pendulang liar ini,” lanjutnya.

Anggota KKB di sana hanya sekitar 20 sampai 25 orang. Senjata yang dimiliki pun relatif sedikit, yakni 5 sampai 10 pucuk yang paling banyak. Dalam pemalakan dan penyerangan tersebut, modus yang biasa dilakukan KKB adalah menjadikan pendulang liar lainnya sebagai tameng.

“Jadi yang tadi dikatakan penyanderaan itu sebetulnya para pendulang yang kemudian dijadikan tameng,” papar Tito.

Tito melanjutkan bahwa sampai sekarang, ada beberapa pihak yang sudah diamankan. Dari penyelidikan, motif tindakan mereka adalah ekonomi. Sampai sekarang, kelompok tersebut tidak meminta tebusan. Tito yang mengaku akrab dengan kelompok tersebut menukaskan bahwa modus yang biasa dilakukan adalah hit and run. Setelah menjadikan pendulang liar sebagai tameng, mereka melarikan diri.

Demi menciptakan situasi yang kondusif, Tito mengaku bahwa petugas di Tembagapura sudah berdiskusi mengenai KKB dengan pejabat Freeport, tokoh agama, tokoh adat, dan juga Polsek setempat.

“Sekarang dengan adanya langkah-langkah bersama antara Polri dan TNI yang ada di sana, kita lakukan penguatan sekaligus pengejaran kepada mereka. Sambil negosiasi dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh adat di sana. Kita lihat mudah-mudahan bisa diatasi,” tandasnya lagi.

Baca juga artikel terkait PAPUA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani