Penjara Bintang Lima di Skandinavia

Interior Penjara Halden di Norwegia. [Foto/designandviolence.moma.org/]
Oleh: Tony Firman - 26 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Penjara kerap dianggap tempat paling buruk, tak manusiawi, dan penuh aksi kekerasan di dalamnya. Tapi tak demikian di Norwegia dan Finlandia. Ada studio mixing di sana jika Anda tertarik menjadi penyanyi rekaman, selain fasilitas lain seperti gym.
tirto.id - "Saya benar-benar hidup dalam teror. Selama 70 hari berikutnya saya tidak akan tahu rasanya tidur terlelap. Interogasi ini memakan waktu 24 jam dalam sehari, dengan tiga dan terkadang empat kali dalam sehari," tulis Mohamedou Ould Slahi dalam Guantanamo Diary, seperti dikutip CNN Indonesia.

Buku berjudul “Guantanamo Diary” sempat menjadi buku terlaris di Amazon. Sesuai judulnya, buku itu mengisahkan tentang bagaimana kehidupan keji di balik kandang miskin manusiawi itu. Mohamedou Ould Slahi, penulisnya, pria asal Mauritania yang mendekam di Guantanamo sejak tahun 2002 atas dugaan merencanakan pengeboman di bandar udara Los Angeles sesaat setelah serangan 9/11.

"Mereka memasukkan sejumlah es batu ke dalam pakaian saya. Es batu tersebut memenuhi tubuh saya, dari leher hingga pergelangan kaki. Setiap kali es mencair, mereka memasukkan es batu yang baru. Para penjaga kerap memukuli wajah saya.” Memoar ini menjadi bahan perbincangan publik sekaligus menebalkan dugaan tindakan kekejaman militer Amerika Serikat di penjara Guantanamo yang tertutup dan terisolir.

Namun terlepas dari keadaan di Guantanamo, penjara memang identik dengan kekerasan fisik dan mental yang dilakukan oknum aparat maupun sesama narapidana. Termasuk di Indonesia. Tetapi di negara-negara kawasan Skandinavia, penjara bahkan tak tampak seperti ruang bagi pelaku kriminal.

Penjara Halden di Norwegia misalnya. Dengan berfokus pada rehabilitasi, kegiatan di penjara tampak seperti komunitas yang saling berinteraksi, bahkan dengan para staf yang tidak bersenjata.

Menempati lahan seluas 30 hektar, penjara Halden menjadi yang terbesar kedua di negara itu. Ia dibangun pada 2010 dan menelan biaya $252 juta dengan kapasitas 248-252 tahanan. Penjara ini memiliki tiga unit utama dan menerima tahanan dari seluruh dunia. Tampilannya seperti ruang umum, ruang kelas bahkan lokakarya, sehingga meraih Arnstein Arneberg Award pada 2010 lalu.

Semua aspek desain penjara bertujuan untuk menghindari tekanan psikologis, konflik, dan gesekan antarindividu. Itu sebabnya ada studio musik. Meski demikian, dinding penjara tetap dirancang untuk keamanan. Dinding yang masih ada dimana-mana juga menjadi simbol bahwa para tahanan tetap adalah tahanan.

The Guardian pada 2012 lalu melaporkan, para tahanan di penjara itu memiliki datang dengan kasus kriminal yang tidak ringan, bahkan berbahaya. Mereka di antaranya adalah pemerkosa, pembunuh, dan penganiaya anak dan menyusun setengah dari populasi. Adapun para pelaku kejahatan seksual dipisahkan dan berada di unit A guna mendapat penanganan psikiatris dan juga menghindari kemungkinan amuk dari para tahanan lainnya.

Selain pelaku kriminal, penjara itu sepertiga pengisinya adalah pelaku penyalahgunaan narkoba. Ada unit khusus seperti C8 yang difokuskan untuk pemulihan para pecandu. Namun, meski ada unit-unit khusus, kebanyakan tahanan berada di Unit B dan C yang lebih bebas dan telah bercampur.

Setiap sel penjara berukuran 10 meter persegi dan di dalamnya ada televisi layar datar, meja, mini kulkas, toilet dengan shower, dan jendela vertikal yang memungkinkan lebih banyak cahaya matahari masuk. Setiap 10 sampai 12 sel terdapat dapur dan ruang tamu umum dengan sofa dan video game. Ada pula satu perpustakaan dengan buku-buku, majalah, CD dan DVD, juga gym dengan dinding panjat tebing.

Lalu kapan para tahanan benar-benar diisolasi? Setiap harinya para narapidana terkunci dalam sel tahanan selama 12 jam. Namun selebihnya, sesuai dengan tujuan yang diusung, mereka mendorong tahanan beraktivitas ketika berada di luar sel tahanan.

Kegiatan di luar sel yang dimaksud misalnya memasak, mengikuti kelas musik, jogging, dan kegiatan olahraga lainnya. Bahkan di studio mixing, para narapidana dapat merekam musik dan program bulanan yang disiarkan oleh stasiun radio lokal.

Menurut data dari World Prison Brief, secara keseluruhan Norwegia memiliki 3.676 narapidana dengan kapasitas total sebesar 4.097 orang. Data tersebut juga menunjukkan pada 2015 sebanyak 35,2 persen dari keseluruhan narapidana berasal dari luar Norwegia. Tahanan praperadilan atau tahanan sementara menyumbang 26.3 persen dari total tahanan.

TV2 juga merilis statistik yang menyebut persentase warga asing yang dipenjara di Norwegia telah meningkat dari 8,6 persen pada 2000 menjadi 34,2 persen di akhir Mei 2014. Berarti terjadi peningkatan sebesar 35,2 persen selama kurun waktu itu. Ini disebabkan kriminal asing yang tidak memiliki tempat tinggal secara hukum di Norwegia tetap memiliki hak yang sama, termasuk perawatan medis penuh dan kelayakan untuk mendapat hibah dari Layanan Kesejahteraan Norwegia.



Di Norwegia, hukuman maksimal adalah 21 tahun. Tidak ada penerapan hukuman mati di sana, sebab penjara adalah wadah untuk membina para narapidana agar hidup layak lewat berbagai fasilitas penunjang sampai akses pendidikan.

Pada 2014 lalu, Norwegia juga menjadi salah satu negara dengan tingkat residivis terendah di dunia dengan, yakni 20 persen. Di Amerika Serikat, 76,6 persen tahanan kembali ditangkap dalam waktu lima tahun.

Di Finlandia, kawasan negara Skandinavia lainnya, penjara terbuka telah dibuka di Pulau Suomenlinna. Wilayah yang menjadi bagian dari Helsinki, ibukota Finlandia ini juga tercatat sebagai situs warisan dunia UNESCO. Penjara terbuka ini menghabiskan dana sebesar €4 juta pada 2012. Orang yang baru melihatnya mungkin akan mengira bahwa sebagian warganya berharap untuk meninggalkannya karena status mereka adalah narapidana.

"Cukup santai berada di sini," kata Hannu Kallio, penyelundup narkoba di penjara Suomenlinna seperti dikutip Public Radio International. Setiap harinya, 70 napi dipekerjakan di greenhouse. Mereka menyiapkan bibit di pot untuk penjualan besar di musim semi. Mereka juga memiliki peliharaan seperti kelinci sampai domba. Tidak ada gerbang, kunci, atau seragam di penjara terbuka tersebut.

Mereka juga memperoleh sekitar $8 per jam, memiliki ponsel, melakukan belanja di kota dan mendapatkan tiga hari liburan setiap beberapa bulan. Mereka juga membayar sewa ke penjara, belajar di universitas, dan mendapatkan subsidi untuk itu. Mereka juga mendapatkan fasilitas olahraga, kursus keterampilan, pelatihan komputer, sampai grup diskusi.

Hukuman maksimal di Finlandia adalah hukuman seumur hidup, dan itu dikenakan bagi kejahatan luar biasa seperti tindak spionase, kejahatan perang, genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan tindakan terorisme.

Data dari World Prison Brief menyebut Finlandia secara keseluruhan memiliki 3.002 tahanan dengan kapasitas total penjara untuk 3.156 orang. Sebanyak 15,3 persen tahanan adalah warga asing dan 19,9 persen lainnya berstatus tahanan sementara atau praperadilan. Yang menarik adalah mencermati populasi narapidana di Finlandia yang terus mengalami penurunan dalam sepuluh tahun terakhir. Pada 2006 tercatat 3.778 tahanan dan berangsur menurun perlahan seperti jumlah saat ini.

Secara umum, negara-negara Skandinavia lain juga menerapkan sistem penjara yang lebh manusiawi dibanding penjara di negara-negara lainnya.

Dikritik Politikus Sayap Kanan

Tapi bagaimanapun, model penjara dengan segudang fasilitas seperti di Norwegia tidak luput dari kritikan. Kritik tersebut datang dari kaum konservatif partai sayap kanan. Mereka mengungkit kritik itu sehubungan peningkatan signifikan angka tahanan dari negara asing sejak 2000.

Per Sandberg, wakil pemimpin Progress Party menyampaikan bahwa fasilitas seperti itu seharusnya khusus untuk warga Norwegia. Partai ini juga berpendapat kualitas Halden lebih baik dibanding tempat keperawatan dan rumah pensiun.

“Penjahat asing datang ke Norwegia karena mereka tahu ada fasilitas yang baik bagi mereka dan hukuman yang pendek dibandingkan dengan mereka di Rumania atau Bulgaria” ujarnya lagi.

Bagaimana, tertarik berbuat kriminal di negara-negara Skandinavia?

Baca juga artikel terkait HUMANIORA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight