Pengunduran Diri Mahathir, Langkah Taktis Menghempas Anwar Ibrahim

Oleh: Restu Diantina Putri - 25 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pengunduran diri Mahathir memungkinkan dirinya membentuk pemerintahan baru tanpa melibatkan Anwar Ibrahim.
tirto.id - “Dalam tahap awal, mungkin berlangsung selama satu atau dua tahun, sayalah perdana menterinya."

Ucapan itu meluncur dari mulut Mahathir Mohammad usai memenangkan Pemilu Malaysia, 15 Mei 2018. Janjinya saat itu ditujukan kepada Anwar Ibrahim, yang disebut-sebut bakal menjadi suksesornya menduduki jabatan perdana menteri.

Dalam Pemilu Malaysia 2018, baik Mahathir dan Anwar berada dalam satu barisan aliansi oposisi Pakatan Harapan (PH) yang berisi gabungan partai-partai yang melawan Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia petahana dari UMNO yang berkuasa sejak 2009. Mahathir sendiri sudah tidak lagi duduk di UMNO.

Agenda Anwar Ibrahim pada waktu itu memastikan posisi di parlemen agar bisa menerima mandat perdana menteri pengganti Mahathir kelak. Ada konsensus internal di antara mereka terkait hal itu.

Namun kemarin, secara resmi Mahathir justru mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Malaysia kendati belum genap dua tahun menjabat.

Mahathir telah mengirim surat pengunduran dirinya kepada Raja Malaysia Yang Dipertuan Agung pada pukul 13.00 waktu setempat. Pernyataan pengunduran diri Mahathir itu juga diunggah di akun Twitter miliknya.

Kendati sesuai dengan waktu yang dijanjikan, nyatanya pengunduran diri ini justru menutup jalan bagi Anwar Ibrahim menggantikan posisinya sebagai perdana menteri Malaysia.

Pengunduran diri PM berusia 94 tahun itu dilakukan menyusul dinamika politik seputar rencana partainya untuk membentuk koalisi baru tanpa politikus senior Anwar Ibrahim.

Anwar Ibrahim dijanjikan untuk menggantikan posisi Mahathir sebelum pemilihan berikutnya pada 2023. Setelah dijanjikan menjadi perdana menteri, Anwar bergabung dengan mantan saingannya Mahathir untuk memenangkan pemilihan umum 2018 dalam koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir.

Namun, saat ini, Koalisi Pakatan Harapan sudah tak memiliki kursi lagi untuk bisa menjadi partai berkuasa, menurut Bridget Welsh, peneliti University of Nottingham Malaysia’s Asia Research Institute.

“Satu-satunya cara mereka harus mendapat koalisi baru. Namun koalisi itu nampaknya sudah merapat ke Mahathir,” katanya seperti dikutip Guardian.


Langkah Kuda Mahathir

Mahathir rupanya tak sekadar mundur dari kursi perdana menteri. Langkah itu justru merupakan salah satu taktik politisnya demi menjegal Anwar Ibrahim.

Mengundurkan diri dan membentuk koalisi baru akan memungkinkan Mahathir untuk mengisi masa jabatan sepenuhnya alih-alih menyerahkannya kepada Anwar seperti yang dijanjikan. Mahathir sangat mungkin pula memberikan jabatan itu kepada orang lain, imbuh Welsh.

Keputusan Mahathir itu diikuti dengan mundurnya 26 anggota dewan Fraksi Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), partai besutan Mahathir, dari koalisi Pakatan Harapan.

Tak hanya itu, 11 anggota dewan dari partai pengusung Anwar Ibrahim, Partai Keadilan Rakyat (PKR) juga ikut keluar dari koalisi dan membentuk blok independen. Faksi itu dipimpin Wakil Ketua Umum PKR yang juga Menteri Perekonomian Azmin Ali dan Menteri Perumahan dan Pembangunan Lokal Zuraida Kamarudin.

Mundurnya para anggota dewan itu memangkas suara mayoritas di parlemen Malaysia saat ini. Itu artinya, koalisi PH sudah jatuh.

Koalisi baru itu dikabarkan mengadakan pertemuan pada Minggu, sehari sebelum pengumuman pengunduran diri Mahathir di sebuah hotel di Kuala Lumpur. Pertemuan itu membahas kemungkinan koalisi baru itu bergabung dengan partai oposisi, UMNO.

Dalam beberapa bulan terakhir, Mahathir nampak terus mengulur waktu dengan berdalih ia perlu waktu untuk merencanakan transisi kepemerintahan. Namun ia tak pernah mengungkap tanggal pasti masa transisi itu.

Anwar, di sisi lain, merasa dikhianati.

"Kami tahu ada upaya untuk menjatuhkan PH dan membentuk pemerintahan baru," kata Anwar dikutip dari Guardian.

“Dan itu melibatkan Partai Bersatu dan sekelompok kecil pengkhianat dari PKR,” imbuh Anwar.

Untuk membentuk pemerintahan baru di parlemen Malaysia, setidaknya membutuhkan 112 suara dari 222 anggota parlemen.

Seperti dijelaskan The Straits Times, pemerintahan baru ini sebenarnya sudah terbentuk dengan formasi 41 anggota dari Barisan Nasional (BN), 26 anggota dari PPBM, 18 suara dari Partai Islam Semalaysia (PAS), sembilan anggota dari Parakat Harapan Partai Warisan Sabah (PWS), kemudian dari oposisi Gabungan Partai Sarawak dengan 19 anggota dan 10 anggota dari PKR. Total koalisi ini berhasil mengumpulkan suara 123 anggota dewan.

Namun, rencana pengunduran diri Mahathir diperkirakan akan ditolak raja dengan alasan Mahathir masih didukung dari mayoritas Parlemen, dikutip dari Straits Times. Hingga saat ini Mahathir belum menyampaikan alasan resmi mengundurkan diri dari jabatannya.

“Tidak, Yang Dipertuan Agung akan menolak pengunduran dirinya. Dia masih memiliki suara mayoritas di Parlemen,” kata sumber tersebut merujuk pada raja.

Dengan mundurnya Mahathir, maka dapat hampir dipastikan Wakil Perdana Menteri Wan Azizah Wan Ismail akan mengambil posisi Plt Perdana Menteri dan menjadi perdana menteri perempuan pertama Malaysia.

Seorang petinggi PKR yang tak ingin disebut namanya mengonfirmasi kepada Malay Mail bahwa Mahathir memang sudah menunjuk Wan Azizah untuk menggantikannya sesaat setelah PPBM memutuskan keluar dari koalisi Pakatan Harapan.

Wan Azizah yang juga merupakan istri Anwar Ibrahim merupakan Mantan Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat periode 1999-2018 dan saat ini menjabat sebagai Ketua Koalisi Pakatan Harapan.




Baca juga artikel terkait PM MALAYSIA atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Politik)

Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Abdul Aziz
DarkLight