31 Oktober 2011

Penduduk Bumi 7 Miliar Lebih, Apa yang Akan Terjadi di Masa Depan?

Ilustrasi populasi dunia mencapai 7 miliar. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 31 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Populasi dunia sudah mencapai lebih dari 7 miliar. Kemungkinan krisis demografi sangat terbuka di masa depan.
tirto.id - Bayi perempuan itu terlahir prematur dengan berat 2,5 kilogram di rumah sakit negeri Jose Fabella Memorial di kota Manila, Filipina pada Minggu, 30 Oktober 2011 tepat sebelum tengah malam. Kelahirannya tidak hanya disambut oleh kedua orang tua, tetapi juga seluruh dunia.

Kilatan lampu kamera berbagai media massa dan pejabat organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut hadir menyambut kelahiran anak kedua pasangan Camille Dalura dan Florante Camacho yang lantas diberi nama Danica May Camacho (artinya 'bintang pagi').

“Dia terlihat sangat cantik. Aku tidak percaya dia adalah yang ketujuh miliar di dunia,” bisik Camille Dalura, sang ibu, saat menggendong Danica yang baru lahir.

Berjarak 4.375 kilometer dari Manila, seorang bayi perempuan mungil lainnya bernama Nargis lahir di desa Mall, negara bagian utara Uttar Pradesh, India. Baik Nargis dan Danica bersama beberapa bayi lain yang lahir di Bangladesh dan Kamboja juga terpilih secara simbolis untuk mewakili tonggak populasi global di muka bumi yang genap berjumlah 7 miliar.

Sebelum Danica dan Nagris, ada Adnan Nevic dari Bosnia Herzogovina yang kelahirannya menandai populasi enam miliar tahun 1999 dan juga Matej Gaspar dari Kroasia yang merupakan bayi kelima miliar yang terlahir pada 11 Juli 1987.

United Nation Population Fund (UNFPA) secara resmi menetapkan tanggal 31 Oktober 2011, tepat hari ini 8 tahun lalu, sebagai hari perkiraan populasi dunia mencapai tujuh miliar orang.

Menuju Krisis Demografi?

Dibutuhkan waktu sampai tahun 1804 bagi manusia untuk mencapai angka populasi 1 miliar menurut catatan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Tapi saat ini populasi dunia telah meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu setengah abad dan dibutuhkan waktu hanya 12 tahun untuk pertumbuhan populasi dari enam miliar ke tujuh miliar.

Selama 100 tahun terakhir sepanjang abad 20, populasi global tumbuh lebih dari empat kali lipat. Setiap tahun ada 140 juta kelahiran dan 58 juta meninggal dunia. Perbedaannya adalah jumlah manusia yang bertambah ke dalam populasi dunia dalam satu tahun mencapai 82 juta.

Saat ini ada 7,61 miliar populasi manusia di muka bumi menurut catatan biro sensus Amerika Serikat (AS) atau United States Cencus Bureau (USCB) dan mencapai 8 miliar pada 2027. Medio 2045, populasi di dunia diperkirakan mencapai 9 miliar dan hanya butuh waktu lima tahun untuk populasi diperkirakan mencapai 10 miliar pada 2050. Akhir abad 21 atau pada 2100, diperkirakan akan ada lebih 11 miliar jiwa.

Meski demikian, telah terjadi tren penurunan populasi penduduk. Populasi bersih medio 2010-2015 telah menurun menjadi 1,2 persen dan penurunan terus berlanjut selama abad ke-21.

Proyeksi pertumbuhan populasi diperkirakan akan terjadi di negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sementara populasi gabungan di Eropa, Amerika Utara, dan negara-negara industri kaya lainnya akan tetap relatif datar. Beberapa negara seperti Jerman, Rusia, dan Jepang bersiap untuk penurunan populasi.

Lembaga think tank Pew Research Center memproyeksikan pertumbuhan populasi manusia di bumi hampir berhenti pada akhir abad ke-21. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, tingkat kesuburan global diperkirakan 1,9 kelahiran per wanita pada 2100.

Secara bertahap, tingkat kesuburan menurun dari 2,5 saat ini menjadi 2,1 kelahiran per wanita pada 2070 dan seterusnya (PDF). Tingkat kesuburan 2,1 kelahiran per wanita diperlukan untuk memastikan penggantian generasi dan menghindari penurunan populasi dalam jangka panjang tanpa adanya migrasi.

Sejatinya, sudah sejak 2010, sebanyak 27 negara atau wilayah telah mengalami pengurangan satu persen atau lebih dalam ukuran populasi mereka. Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya tingkat kesuburan. Antara 2019 dan 2050, populasi diproyeksikan berkurang satu persen atau lebih di 55 negara atau wilayah, di mana 26 di antaranya mungkin melihat pengurangan setidaknya sepuluh persen (PDF).

Bahkan Cina dengan populasi terpadat saat ini diproyeksikan berkurang 31,4 juta, atau sekitar 2,2 persen, antara 2019 dan 2050 (PDF). Tingkat kesuburan rata-rata di Cina terus menurun bahkan ketika kebijakan pembatasan kontrol satu anak dicabut pada 2016. Di tahun itu, ada 17,86 juta angka kelahiran, tapi turun menjadi 17,2 juta dan 15,2 juta pada 2017 dan 2018, yang merupakan tingkat terendah sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.

Selanjutnya Cina bahkan memulai periode perpanjangan penurunan populasi yang tidak terhentikan. Laporan yang dibuat The China Academy of Social Sciences (CASS) yang tertuang dalam Green Book of Population and Labor menulis pertumbuhan populasi pekerja Cina sekarang terhenti dan tingkat kesuburan tetap rendah.

Pada pertengahan abad ke-21 populasi Cina diperkirakan turun menjadi 1,36 miliar dengan penurunan populasi tenaga kerja sebanyak 200 juta. Jika tingkat kesuburan tidak berubah, populasi keseluruhan Cina bisa turun menjadi 1,17 miliar pada 2065.

Faktor kedua berhentinya populasi dunia adalah usia rata-rata hidup secara global yang diperkirakan meningkat menjadi 42 tahun pada 2100 naik dari 31 tahun saat ini. Pada periode 2020 dan 2100, jumlah orang berusia 80 tahun dan lebih tua diperkirakan meningkat dari 146 juta menjadi 881 juta jiwa.

Mulai tahun 2073, diperkirakan akan ada lebih banyak orang berusia 65 tahun dan lebih tua dibanding usia di bawah 15 tahun, yang merupakan pertama kali terjadi. Laporan United Nation Department of Economic and Social Affairs Population (PDF) menyebut, saat ini 1 dari 11 orang berusia 65 tahun atau lebih (setara 9 persen populasi dunia). Angka itu akan meningkat menjadi satu dari enam orang di dunia pada 2050 (setara 16 persen populasi dunia).

Wilayah dengan populasi genarasi lansia terjadi berlipat ganda di 2019 dan 2050 termasuk di Afrika Utara dan Asia Barat, Asia Tengah dan Selatan, Asia Timur dan Tenggara, serta Amerika Latin dan Karibia.



Pada 2050 satu dari empat orang yang tinggal di Eropa dan Amerika Utara bisa berusia 65 tahun atau lebih. Bahkan tahun lalu, untuk pertama kalinya ada lebih banyak orang berusia 65 tahun ke atas daripada anak di bawah 5 tahun. Jumlah orang berusia 80 tahun atau lebih diproyeksikan tiga kali lipat, dari 143 juta pada 2019 menjadi 426 juta pada 2050 (PDF).

Laporan Pew Reseach menyebut, Afrika menjadi satu-satunya wilayah di dunia yang diperkirakan memiliki pertumbuhan populasi yang kuat selama sisa abad ini. Antara 2020-2100, populasi Afrika diperkirakan akan meningkat dari 1,3 miliar menjadi 4,3 miliar.

Lima dari 10 negara terbesar di dunia diproyeksikan berada di Afrika pada 2100. Lebih dari setengah peningkatan populasi global sebanyak 3,1 miliar jiwa periode 2020-2100 disumbang oleh Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Tanzania, Etiopia, dan Angola.

Afrika akan melampaui Asia dalam hal kelahiran pada 2060. Setengah dari bayi yang lahir di seluruh dunia diperkirakan akan lahir di Afrika pada 2100. Nigeria diperkirakan memiliki 864 juta kelahiran pada periode 2020-2100. Angka tersebut menjadi yang terbanyak di antara negara-negara Afrika dan melebihi kelahiran di Cina pada 2070.

Populasi Asia diperkirakan meningkat dari 4,6 miliar pada 2020 menjadi 5,3 miliar pada 2055. Tapi kemudian angka ini berangsur turun. Pew Research memperkirakan puncak populasi Indonesia akan terjadi pada 2067 mendatang dan menjadi negara terpadat di Asia Tenggara. Populasi Indonesia saat ini tercatat sebanyak 264,8 juta jiwa.

Sedangkan 90 negara diperkirakan kehilangan populasi pada periode 2020-2100, di mana dua pertiga dari seluruh negara dan teritori Eropa dan Amerika Latin akan mengalami penurunan populasi pada 2100.

Baca juga artikel terkait POPULASI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight