Perang Dagang AS-Cina:

Pemerintah Minta Perusahaan Indonesia Isi Pasar Furnitur di Amerika

- 14 Agustus 2019
Dampak perang dagang Cina dan AS, salah satunya adalah impor furniture Cina yang terpukul, dan pemerintah meminta perusahaan Indonesia mengisi pasar furnitur di Amerika.
tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia perlu memanfaatkan peluang perang dagang Amerika Serikat-Cina yang masih berlangsung.

Salah satunya adalah pada peluang pasar furnitur di Amerika yang saat ini tidak lagi bisa diisi Cina karena tarif impor yang tinggi.

Luhut menyatakan, pemerintah berencana untuk memberi insentif bagi industri furnitur Indonesia agar mampu mengisi ruang kosong itu.

Di samping furnitur, kata Luhut, industri sepatu juga akan diperhatikan agar turut mampu mengisi kekosongan pasar di Amerika.

“Ini perlu kita cermati apa yang bisa Indonesia lakukan. Furnitur kita banyak. Tadi kita rapatkan, industri furnitur dan sepatu kita beri insentif dan biar bisa bikin pasar di Amerika,” ujar Luhut kepada wartawan di Kemenko Kemaritiman, Jakarta, pada Selasa (13/8/2019).


Soal pertimbangan ini, Luhut mengatakan, tarif impor yang dikenakan Amerika cukup besar yaitu sampai 25 persen.

Padahal, katanya, banyak hotel-hotel di Amerika mengandalkan furnitur dari Cina. Bahkan jumlahnya mencapai 30 persen dari total furnitur yang mereka butuhkan.

Melihat situasi ini, Luhut yakin hotel-hotel itu sedikit banyak akan terpengaruh oleh tarif impor. Dengan demikian mau tidak mau mereka harus mencari pemasok furnitur alternatif yang bisa memberi harga sama baiknya dengan Cina tapi minus tarif impor yang memberatkan mereka.

“Kita harus sesuaikan dengan aturan negara lain. Furnitur aja Amerika impor dari cina sampai 30 persen. Hotel-hotel Grand Hyatt dia bisa kena dampak dengan tarif (impor) 25 persen,” tukas Luhut.


Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG AS-CINA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas & Vincent Fabian Thomas
Penulis:
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight