Pagelaran Wayang Hipnotis 150 Penonton di British Museum

Reporter: Akhmad Muawal Hasan - 6 Nov 2016 08:28 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pagelaran Wayang dengan lakon Begawan Mintaraga dari cuplikan Mahabarata mampu menghipnotis sekitar 150 penonton di BP Lecture Theatre, British Museum, London, Sabtu (5/11/2016) malam waktu setempat. Dalang Matthew Issac Cohen mampu membawakannya dengan sangat baik dan menghanyutkan penonton hingga pertunjukan selesai.
tirto.id - Pagelaran Wayang dengan lakon Begawan Mintaraga dari cuplikan Mahabarata yang dibawakan dalang Matthew Issac Cohen, mampu menghipnotis sekitar 150 penonton di BP Lecture Theatre, British Museum, London, Sabtu (5/11/2016) malam waktu setempat. Cerita wayang yang biasanya memakan waktu cukup lama dan memerlukan konsentrasi tinggi, dibawakan secara menarik dan menghibur oleh Dalang Matthew.

Penggunaan Bahasa Indonesia dan Inggris sesekali menyisipkan bahasa Sunda dan Jawa, yang diekspresikan melalui beragam suara menjadikan pertunjukan wayang terasa sangat istimewa. Bahkan, menyaksikan pertunjukan wayang kulit lebih dari tiga jam dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Tidak jarang Dalang Matthew menyisipkan berbagai pesan moral kehidupan dengan ekspresi jenaka.

Harmonisasi alunan musik gamelan yang mengiringi pagelaran wayang dimainkan secara kolaboratif oleh seniman dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung serta musisi dari Pusat Teater dan Tarian Asia, the Royal Holloway University of London.

Dalam pertunjukan wayang tersebut saat Prabu Niwatakawaca muncul penari Tari topeng pengambaran dari tokoh yang dibawakan Een Hediani, yang juga rektor ISBI Bandung dengan gerakan yang memperlihatkan kekuatan dari Niwatakawaca yang sedang gandrung kepada Dewi Supraba.

Cuplikan Tari topeng yang ditampilkan bercirikan khas Cirebon. Pada saat adengan goro-goro atau lucu-lucuan tiba-tiba muncul penari perempuan yang menyajikan tari Cikeruhan dengan gerakan yang dimanis. Tarian ini merupakan ciri khas tari rakyat gaya priyangan sebagai tari pergaulan masyarakat Sunda. Hal lain yang menarik pada saat sinden Ny Titik dengan nama populer Betrik melantumkan lagu Tilir dan penonton ikut bergoyang sambil bertepuk tangan.

Kepada Antara London, Een Hediani yang juga Rektor ISBI Bandung merasa terharu dan tersanjung dengan apresiasi yang tinggi dari penonton yang tidak mau beranjak dan bahkan memberikan standing applaus. Persiapan untuk pergelaran tersebut hanya dalam hitungan hari yang berhasil menyatukan seniman asal Inggris dan Indonesia. "Saya merasa bangga bisa membawa misi kesenian dari Jawa Barat khusus gaya Cirebon dan Priangan," ujar pembina forum dosen Indonesia itu.

Pertunjukan wayang kulit Indonesia di British Museum memberikan kesempatan kepada publik Inggris untuk menggali lebih dalam seni dan budaya Indonesia. Pada saat yang sama, the British Museum tengah menggelar pameran wayang kulit Indonesia, Malaysia dan Thailand di British Museum, yang sudah berlansung selama lebih dari 3 bulan.

KBRI London menyambut baik dan memberikan dukungan atas jalinan kerja sama institusi seni dan budaya antara Indonesia dengan Inggris karena dapat mendekatkan hubungan kedua bangsa yang memiliki latar belakang budaya sangat berbeda. Melalui seni budaya, kedua bangsa dapat berkomunikasi dengan bahasa yang sama dan melestasikan kekayaan budayanya masing-masing.

Minister Counsellor Fungsi Pensosbud KBRI London, Thomas Siregar, di sela-sela pertunjukan menuturkan, penonton wayang dengan dalang bule itu sebagian para pecinta seni di Inggris. Penonton itu termasuk Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr Nadjamudin Ramli, Irjen Kementerian Ristek dan Dikti prof dr Jamal Wiwoho, serta Atase Pendidikan KBRI London.

Ruangan BP Lecture Theatre, British Museum penuh sesak pecinta seni dan budaya Indonesia yang mengikuti alur cerita wayang kulit yang dibawakan dalang Matthew yang juga sekaligus Direktur dari Pusat Teater dan Tarian Asia, the Royal Holloway University of London. Matthew Issac Cohen juga merupakan seorang dalang dengan berbagai pengalaman internasional, kata Thomas Siregar.

Baca juga artikel terkait WAYANG atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan

DarkLight