Pagelaran Wayang Ditolak Padahal Lekat dengan Pesan Sosial

Oleh: Maya Saputri - 23 Januari 2017
Dibaca Normal 1 menit
Beredarnya spanduk penolakan terhadap pagelaran wayang kulit yang viral di media sosial yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam mengundang reaksi dari berbagai pihak. Padahal pagelaran wayang lekat dengan pesan sosial.
tirto.id - Beredarnya spanduk penolakan terhadap pagelaran wayang kulit yang viral di media sosial yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam mengundang reaksi dari berbagai pihak. Padahal Indonesia dikenal dunia karena wayang sudah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO sejak 7 November 2003 dan lekat dengan pesan sosial.

Seperti diketahui di media sosial telah beredar gambar spanduk itu bertuliskan "Menolak dengan Keras Pemutaran Wayang Kulit", "Wayang Kulit Bukan Budaya dan Ajaran Umat Islam", serta "Pemutaran Wayang Kulit Bukan Syariat Islam".

Sedangkan menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Eddy Pursubaryanto yang meraih gelar doktor dengan studi wayang kulit purwa, justru pesan sosial lekat dengan pertunjukan wayang terutama dalam adegan gara-gara.

“Adegan gara-gara tetap mengandung dengan tuntunan. Sejumlah pesan yang muncul adalah pesan-pesan sosial menyangkut moral, lingkungan hidup, kesadaran berbangsa dan bernegara, dan apresiasi seni pedalangan,” ujar Eddy saat ujian terbuka program doktor, Jum’at (20/1) di Sekolah Pascasarjana UGM, melalui rilis yang dikirimkan ke Tirto.

Bagi masyarakat Jawa, kata dia, secara implisit keberlanjutan adegan gara-gara menjaga eksistensi mitos sosok Semar yang dianggap sebagai pamong para ksatria dan orang-orang berbudi luhur. Kehadiran adegan gara-gara menjaga bingkai filosofi bahwa pertunjukkan wayang kulit purwa melambangkan kehidupan manusia dari lahir sampai mati.

Menurut Eddy, adegan gara-gara tetap dipertahankan dalam pertunjukan wayang kulit purwa gaya Surakarta. Adegan gara-gara umumnya tetap mencerminkan panduan pakem pedalangan yang digunakan di keraton Surakarta.

Wayang purwa ini berkembang dan populer terutama di Jawa. Wayang ini biasa dipertunjukkan di keraton Surakarta, keraton Yogyakarta, Mangkunegaran, maupun Pakualaman.

“Hal ini menunjukkan sebagian pakem yang dilembagakan di keraton Surakarta masih terjaga,” terangnya saat ujian terbuka program doktor, Jum’at (20/1) di Sekolah Pascasarjana UGM.

Disebutkan Eddy, penyebab perubahan adegan gara-gara secara intrinsik adalah hasrat untuk mengaktualisasikan diri dan perasaan jenuh dari diri dalang. Sedangkan secara ekstrinsik, pertunjukan wayang kulit purwa merupakan produk seni yang memerlukan konsumen sehingga harus dikemas agar menarik pasar.

“Tegangan-tegangan dalam pertunjukan wayang kulit purwa mendorong kreativitas dan inovasi para dalang dalam kemasan adegan gara-gara,” jelasnya.

Adegan gara-gara sebagai sebuah struktur, dikatakan Eddy, memiliki sepuluh sub-adegan yang masing-masing memiliki aksi. Perubahan struktur adegan gara-gara tercermin dalam aksi-aksi dalam sub-adegan.

“Adegan gara-gara tetap mengandung dengan tuntunan. Sejumlah pesan yang muncul adalah pesan-pesan sosial menyangkut moral, lingkungan hidup, kesadaran berbangsa dan bernegara, dan apresiasi seni pedalangan,”pungkasnya.

Baca juga artikel terkait WAYANG atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri