15 September 2006

Oriana Fallaci: Legenda Jurnalis Politik dan Kontroversi Anti-Islam

Ilustrasi Mozaik Oriana Fallaci. tirto.id/Nauval
Reporter: Maya Saputri - 15 September 2020
Dibaca Normal 5 menit
Suara Oriana Fallaci selalu berani, lugas, dan jujur. Ia piawai membingkai setiap wawancara dengan tokoh politik dunia dalam kacamata humanis.
Gadis remaja dengan nama samaran Emilia itu tak menembak musuh. Tidak pula meledakkan tank. Perannya adalah menyembunyikan bahan peledak di balik selada dan mengirim pesan ke koran bawah tanah.

Perempuan itu adalah Oriana Fallaci. Takdir politiknya dibentuk di tengah kecamuk Perang Dunia II. Ia belajar dari ayahnya, Edoardo Fallaci, aktivis gerakan anti-fasis melawan Benito Mussolini (1883-1945).

Suatu kali, ia bersama keluarganya berlindung di tengah serangan udara musuh. Ia sempat menitikkan air mata sebelum sang ayah menamparnya. “Seorang gadis tidak boleh menangis,” kenang Fallaci menirukan ayahnya saat diwawancarai Margaret Talbot untuk New Yorker. Itulah terakhir kali ia meneteskan air mata.

Karakter tangguh yang diasah selama tahun-tahun peperangan itu menjadi modal bagi Fallaci yang membentuk tulisannya kelak. Sifat penguasa dan komitmen moral jadi alarm pengingat sepanjang karier jurnalistiknya.

Setelah keluar dari kuliah medis, Fallaci mulai jadi jurnalis di usia 16 tahun. Mula-mula ia sering ditugaskan di kantor polisi dan rumah sakit saat bekerja di koran Italia Nazione. Ia memilih jurnalis--profesi yang didominasi kaum pria di masa itu--karena ibunya, Tosca Fallaci, mendorongnya untuk bekerja dan tidak berakhir di dapur seperti dirinya.

Pertengahan 1950-an, Fallaci bekerja untuk surat kabar Italia dari Hollywood. Sosoknya yang flamboyan dan melek fesyen gampang jadi pusat perhatian. Saat jadi wartawan gaya hidup, seperti dikutip dari Santo L. Arico dalam Oriana Fallaci: The Woman and the Myth (1998), ia mewawancarai sejumlah selebritas seperti Dean Martin, Hugh Hefner, dan Julie Christie. Fallaci juga berteman dengan Ingrid Bergman, Sean Connery, Shirley Maclain. Bahkan karyanya, The Seven Sins of Hollywood (1958), dibuka dengan pujian dari produser film dan sutradara kenamaan Orson Welles.

Pada 1963 dan 1964, ia menghabiskan waktu di NASA. Perempuan bertubuh mungil ini menulis dua buku program luar angkasa. Para astronot kagum dengan sosoknya yang berani, penuh selera humor, dan mudah akrab. Saking akrabnya, astronot Charles Conrad membawa foto Fallaci ketika masih bayi saat perjalanan kedua ke bulan .

Ia yang lahir di Italia pada 29 Juni 1929 ini jarang membuat segalanya mudah untuk dirinya sendiri. Pada November 1967, saat Perang Vietnam, ia minta diterjunkan ke Saigon. Delapan tahun dari usianya dihabiskan untuk meliput perang tersebut yang berlangsung hampir 20 tahun.

Sekitar 1960-an, tulisannya mulai dikenal di majalah Italia Epoca dan L’Europeo. Ia sempat mewawancarai tawanan perang AS yang dipenjara di Vietnam Utara, juga Jenderal Vo Nguyen Giap, pemimpin militer Vietnam Utara.


Ikon Pewawancara Politik Handal

Oriana Fallaci kemudian semakin mengokohkan namanya sebagai pewawancara politik. “Mata jeli” Fallaci saat mewawancarai Nguyen dinilai brilian oleh Henry Kissinger, mantan Menlu AS semasa Presiden Richard Nixon. Di lain waktu, Kissinger justru mendapat giliran dikuliti.

Setelah wawancara dengan Fallaci pada 1972, Kissinger berkomentar bahwa "[itulah] satu-satunya wawancara terburuk dengan pers.” Meski menyangkal, seperti terdapat dalam Oriana Fallaci: The Journalist, the Agitator, the Legend (2017) yang dilansir New Yorker, Fallaci berhasil membuat Kissinger mengakui bahwa “ia seperti koboi yang mengendarai kereta kudanya sendirian.”

“Jadi menurut Anda, Dr. Kissinger, selama ini [Perang Vietnam] termasuk perang yang sia-sia?”

Dan Kissinger menjawab, “Ya, dalam hal ini, saya setuju dengan Anda.”

Itulah salah satu kelebihan Fallaci, selalu punya cara untuk membuat subjek wawancaranya menyampaikan yang tidak seharusnya terungkap di publik.

Selain Kissinger, ia juga pernah mewawancarai Indira Gandhi, Golda Meir, Yasser Arafat, Muammar el-Qaddafi, Mohammad Riza Pahlevi, Ariel Sharon, dan Deng Xiaoping.


Dunia internasional mengakuinya sebagai ikon jurnalis dua dekade dengan gaya beropini sekaligus liputan mendalam. Cara bertuturnya yang berani, lugas, dan bernas, juga jadi ciri khas tersendiri.

Kumpulan wawancara Fallaci dengan sejumlah tokoh dunia terekam di bukunya Interviews with History and Power (1976). Sampai ada istilah gaya wawancara “La Fallacy”, yang jadi semacam kultus di Amerika Utara.

“Apakah itu penguasa yang lalim atau presiden terpilih, dari jenderal pembunuh atau pemimpin yang dicintai, saya melihat kekuasaan sebagai fenomena yang tidak manusiawi dan penuh kebencian,” ujarnya.

Kepada kontributor majalah Time, Jordan Bonfante, ia menjelaskan bahwa tiap wawancara adalah potret dirinya. Bagi Fallaci, seorang jurnalis merangkap sejarawan. Artinya, peran jurnalis tak hanya menulis fakta, tapi juga memakai semua inderanya untuk menjadi saksi peristiwa. Tak heran jika ia kerap memasukkan pendapat pribadinya, kejadian saat wawancara, suasana, dan detail penampilan narasumber. Aliran ini di tahun 1960-an disebut jurnalisme baru yang menggabungkan laporan jurnalistik dengan narasi bercerita seperti fiksi.

Saat ia mewawancarai Ayatollah Khomeini, Fallaci melepas cadarnya sambil berkata dengan nada meninggi, “Terima kasih Imam, saya bisa melepas kain abad pertengahan ini.” Ia mencecar Khomeini soal bagaimana rezimnya yang baru berumur 6 bulan sudah mengubah wajah Iran menjadi murung dan gelap.

Kepiawaiannya terlihat saat membujuk Indira Gandhi untuk membuka diri. Golda Meir juga enteng bercerita soal sepak terjangnya di konflik Timur Tengah.

Fallaci identik dengan gaya ceplas-ceplos dan ekspresif. Pernah suatu kali ia melempar mikrofon ke wajah Muhammad Ali karena bersendawa saat menjawab pertanyaannya.


Ia menyangkal reputasinya sebagai interogator brutal, dan sebaliknya bersikeras bahwa ia hanya membingkai pertanyaan yang tidak berani diajukan oleh wartawan lain. Ketika orang lain mencari objektivitas, Fallaci lebih memilih pendekatan yang dia sebut "benar" dan "jujur.”

Ia menjadi saksi hidup beberapa revolusi di Amerika Latin: Brasil, Peru, Argentina, Bolivia, hingga pembunuhan massal Tlatelolco di Kota Meksiko. Yang terakhir bahkan ia termasuk satu di antara dua orang yang selamat.

Fallaci pernah tertembak di bahunya oleh polisi saat meliput protes terhadap pemerintah Meksiko soal uang Olimpiade 1968. Ia juga koresponden asing yang meliput perang sipil di Lebanon dan Perang Kuwait.

Karya jurnalistik dan fiksinya ibarat dua sisi mata uang. Fallaci bilang jika ada dua sisi dalam hidupnya, yang satu dihabiskan di meja menulis buku, satunya lagi bertualang di mana kejadian-kejadian penting terjadi. Dua hal ini yang membangkitkan denyut hidupnya.

Fallaci tidak pernah menikah hingga akhir hidupnya. Laki-laki yang pernah dekat dengannya ada dua: satu rekan kerjanya di majalah, dan Alexandros Panagoulis--aktivis politik Yunani--sebagai partner hidup Fallaci selama tiga tahun.

Kisah asmaranya tak berjalan mulus. Ia bahkan dua kali keguguran. Dua peristiwa ini tersirat dalam cerita novelnya, A Man (1979) dan Letter to A Child Never Born (1975). Sejak itu, ia tak tertarik dengan hubungan sentimental apapun.

“Ikatan jenis apapun pasti sifatnya menindas, apalagi yang disebut cinta, tak ada tandingannya bagai rezim!”

Usai kematian ganjil kekasihnya, Alexandros, Fallaci menyepi di rumah orang tuanya di Florence. Ia lebih menyukai kesendirian. Fallaci bahkan menaruh catatan yang ditempel di bel pintu apartemennya di Manhattan bertuliskan "Enyahlah!"

"Saya kesulitan menulis saat seseorang berkeliaran di sekitar," tuturnya. “Seorang pria tahu cara mengisolasi diri untuk menulis karena istri mereka tidak berani mengganggu mereka. Namun, berbeda untuk wanita karena pria selalu menyela mereka, sekadar meminta ciuman atau secangkir kopi."

Fallaci dikenal berantakan. Ia menyukai pesawat terbang tetapi takut dengan elevator. Ia juga merokok hampir tiga bungkus dalam sehari, dikutip dari tuturan Cristina de Stefano yang ditulis dalam autobiografinya. Fallaci tak familiar dengan teknologi. Kata-kata akan macet bila ia tak mengetik di mesin ketik tua Olivetti miliknya.



Kontroversi Anti-Islam

Seiring waktu, pandangan politik Fallaci dipengaruhi oleh ketakutan akan pengaruh Islam radikal di Eropa. Trilogi bukunya mendukung argumen ini, kata penulis otobiografi Fallaci, Cristina de Stefano kepada The Atlantic.

Berawal dari Inshallah (1991), fiksi yang ia didedikasikan bagi 400 warga Prancis dan AS yang terbunuh oleh aksi terorisme di Beirut. Lalu, usai teror 11 September 2001, ia merilis buku The Rage and the Pride (2001) tepat dua minggu usai serangan Black September.

Buku lain yang tak kalah kontroversial, The Force of Reason (2004) diterbitkan 24 jam usai serangan bom teroris di kereta di Spanyol. Beberapa klaim dalam buku ini menuai tudingan penistaan agama dari pimpinan Organisasi Muslim Italia yang berujung pada gugatan hukum.

Di buku terakhir, ia mengklaim bahwa Muslim menjajah Eropa melalui imigrasi dan tingkat populasi yang tinggi. Sikap pasif Eropa terhadap bahaya ini, kata Fallaci, akan segera mengubah Eropa menjadi "koloni Islam,” tempat yang dia sebut "Eurabia."

Trilogi buku Fallaci itu hampir menghancurkan kariernya. Ia mengambil risiko besar untuk menerbitkannya. Satu sisi, Fallaci berubah dari intelektual sayap kiri yang dihormati menjadi ikon Islamofobia dari sayap kanan.


Di sisi lain, imbuh Cristina, Fallaci sering menanyakan pertanyaan yang tepat, seperti: Bagaimana posisi Eropa terhadap budaya Islam di dalam perbatasannya? Apakah Eropa siap untuk mempertahankan nilai-nilainya? Bagaimana dua budaya yang berbeda dapat bertemu?

Fallaci dan politik tak selalu bisa dikaitkan dengan Islamofobia. Faktanya, sepanjang karier jurnalistiknya yang diperangi adalah fasisme. Baginya, tahap pertama dari fasisme adalah pembungkaman sipil. Dalam kemarahannya atas peristiwa-peristiwa teror, ia melihat politik Islam sebagai wujud lain fasisme.

Pertanyaan itu lahir dari sikap jujurnya hingga suatu kali ia mengatakan, “Aku hidup seperti apa yang aku tulis. Dan aku tak akan menyerah.”

Ungkapan Oriana Fallaci ini dilontarkan ke penulis biografinya, Santo L. Arico di New York, Maret 1993 saat ia bertarung dengan kanker. Arico mengabadikan kisah hidup legenda jurnalis ini dalam Oriana Fallaci: The Woman and the Myth (1998).

Bagi Fallaci, beberapa penulis bisa menghasilkan tulisan yang bernas, tapi hidupnya tak mencerminkan apa yang ditulis. Ia menolak menjalani hidup seperti itu.

Ia lolos dari kecamuk perang dalam tiga dekade, tetapi kanker payudara yang akhirnya merenggut nyawanya pada 15 September 2006, tepat hari ini 14 tahun lalu.

Ucapannya yang lantang hingga akhir hidupnya: "Aku punya obsesi luar biasa: mati dengan bermartabat. Hidupku bukan hidup seorang pengecut, kau harus mengakuinya. Maka aku tak percaya bahwa aku mati dengan cara pengecut."

Baca juga artikel terkait ORIANA FALLACI atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maya Saputri
Editor: Irfan Teguh
DarkLight