Nick Drake: Mati Muda karena Merasa Albumnya Gagal

Oleh: Faisal Irfani - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Menggambarkan sosok Nick Drake tak ubahnya seperti menyaksikan seseorang yang berdiri di balik layar berasap; terkadang ia ada di sana, kadang ia setengah tampak, dan kadang pula ia tak tampak sama sekali.
tirto.id - Malam itu, 24 November 1974, di rumah orangtuanya yang terletak di Tanworth (sekitar 103 mil barat laut dari London), Nick Drake melakukan aktivitas seperti biasa: merekam satu-dua lagu, berbincang sebentar dengan sang ibu, membikin sereal, sebelum akhirnya pergi ke kamar untuk tidur─mengenakan piyama kesukaannya. Tak ada yang ganjil dari perilaku Nick.

Namun, semua berubah keesokan harinya. Ketika sang ibu masuk ke kamar Nick sekitar pukul enam pagi, ia menemukan putranya tergeletak tak bernyawa, dengan obat antidepresan yang berserakan dan piringan hitam Bradenburg Concertos (1721) garapan komposer klasik Sebastian Bach yang menempel di atas turntable.

Berdasarkan hasil visum, pihak rumah sakit menyebut kematian Nick karena bunuh diri. Sekitar 30 pil penenang ditemukan dalam tubuhnya. Kabar dari rumah sakit mengagetkan orang-orang terdekat Nick. Menurut mereka, Nick tak mungkin menyudahi hidupnya sendiri mengingat dalam seminggu terakhir, sebelum kejadian nahas ini, Nick nampak begitu diselimuti euforia dan optimisme.

Tapi, keyakinan tersebut tak mengubah apa-apa. Nick, penyanyi folk yang pendiam itu, tetap pergi, di usianya yang baru menginjak angka 26.

Dilumat Ketakutan dan Prasangka

Nama Nick Drake boleh dikata tak sebesar musisi-musisi asal Britania lainnya seperti Mick Jagger, Paul McCartney, maupun David Bowie. Publik perlu menunggu kehadiran internet terlebih dahulu agar dapat mengetahui siapa sosok Drake. Kendati begitu, Nick bukanlah musisi medioker. Peninggalannya untuk musik Inggris, khususnya folk, begitu besar─dan abadi.

Nick lahir di Burma (sekarang Myanmar) pada 1948. Keluarganya kaya dan terpandang. Ayahnya adalah insinyur yang ditugaskan pemerintah kolonial Inggris untuk bekerja di Perusahaan Perdagangan Burma-India. Ketika usia Nick tiga tahun, ia bersama keluarganya kembali ke Inggris dan tinggal di rumah yang besar di wilayah pedesaan Tanworth-in-Arden.

Minat Nick pada musik sudah tumbuh sejak kecil dengan mempelajari cello, piano, dan klarinet. Seiring beranjaknya usia, referensi musiknya turut bertambah; ia mengidolakan Bob Dylan, Josh White, Randy Newman, hingga Tim Buckley. Di saat bersamaan, Nick juga mulai memberanikan diri untuk menulis lagu.


Dari desa, Nick lantas pindah ke kota, tepatnya Cambridge, guna meneruskan studi di Fitzwilliam College. Di kampus ini, sebagaimana ditulis Patrick Humphries dalam Nick Drake: The Biography (1997), Nick mengambil kuliah Sastra Inggris. Teman-teman Nick menganggapnya sebagai sosok pemalu, simpatik, suka menyendiri, dan misterius.

Alih-alih banyak menghabiskan waktu di kelas, Nick lebih memilih membolos untuk mengulik berbagai nada maupun menulis lagu sembari sesekali menghisap ganja. Perlahan, bakat Nick mulai memancarkan sinarnya. Di kala senggang, Nick seringkali bernyanyi di hadapan teman-temannya. Suaranya membius dan permainan gitarnya berada di atas rata-rata. Nama Nick pun terkenal di lingkaran mahasiswa Cambridge.

Tahun 1968 menjadi momentum penting bagi karier Nick di dunia musik. Waktu itu, ia sedang tampil di sebuah konser amal yang diselenggarakan di Roundhouse, London. Penampilan Nick ternyata disaksikan Ashley Hutchings, bassist dari Fairport Convention, kelompok folk rock yang tengah meniti kesuksesan.

Hutchings seketika terkesima dengan aksi Nick dan langsung memberitahu Joe Boyd, produser dari label rekaman bawah tanah bernama Witchseason yang menaungi band-band indie macam The Incredible String Band hingga Fairport. Boyd dan Nick akhirnya berkenalan. Boyd mencium potensi besar dalam diri Nick dan memintanya mengirimkan beberapa demo lagu. Nick menyetujuinya.

“Ia sangat malu-malu ketika datang ke kantorku untuk mengirimkan materi demo dan langsung pergi tak lama setelahnya,” kenang Boyd tentang awal perjumpaannya dengan Nick.

Tak perlu waktu lama bagi Boyd untuk terkesan dengan demo Nick. Boyd mengatakan bahwa “lagu-lagunya sangat bagus” dan “ia bermain gitar dengan begitu mencengangkan.” Tanpa pikir panjang, ia menawari kontrak rekaman (bersama Island Records) kepada Nick.

Kontrak dengan Island Records membuat Nick semakin yakin terhadap jalan musiknya. Ia memutuskan untuk fokus ke dunia musik dan menepikan pendidikannya di Cambridge. Pada 1969, album debutnya yang bertajuk Five Leaves Left dirilis. Album ini dipuji para kritikus dan menurut Boyd orang-orang menyukai musiknya.


Memasuki 1970-an, Nick turut serta dalam rangkaian tur Fairport di AS. Di sinilah masalah mulai muncul. Sifat Nick yang pemalu dan pendiam nyatanya berpengaruh pada penampilannya di muka umum. Beberapa hari setelah tiba di AS, Nick memutuskan untuk pulang ke Inggris. Ia tak kuat dengan tekanan tampil di publik.

Selepas berupaya menenangkan diri, Nick segera menyusun materi untuk album selanjutnya. Album tersebut, yang diberi tajuk Bryter Layter, dilepas ke publik pada 1970. Sekali lagi, para kritikus menyambutnya dengan gembira. Namun, tanggapan positif itu tak mampu mendatangkan angka penjualan yang memuaskan.

Keadaan tersebut, seperti Nick Kent tulis dalam “Nick Drake: Requiem for a Solitary Man” yang dipublikasikan The Guardian, membuat Nick depresi. Ia tak bisa menutupi kekecewaannya dan merasa gagal sebagai seorang musisi. Demi mengatasi kecemasannya, ia pergi ke dokter dan diberi resep obat antidepresan berjenis Tryptizol.

Guna membantu mengatasi masalah Nick, Chris Blackwell, pimpinan Island Records saat itu, menawarkan pinjaman villa di Spanyol kepadanya. Tujuannya, agar Nick bisa melepaskan segala tekanan yang ada di kepalanya.

Beberapa minggu di Spanyol, di bawah sinar matahari yang hangat, Nick kembali tampak segar. Ia kemudian menghubungi teknisi rekamannya, John Wood, dan mengatakan kepada dirinya bahwa ia siap membuat album baru. Walhasil, jadilah Pink Moon (1972), sebuah album yang direkam dalam dua malam dan hanya berisikan suara vokal Nick beserta petikan gitarnya.

Usai jadi, Nick membawa rekaman ke kantor Island Records dan meninggalkannya di meja resepsionis tanpa pemberitahuan. Sekali lagi, Pink Moon memperoleh ulasan yang bagus. Namun, Nick kembali tak beruntung. Album ini gagal secara komersial karena lagu-lagu di dalamnya dianggap kelewat gelap sehingga membikin pendengar tidak merasa nyaman.

Kegagalan Pink Moon membikin Nick makin depresi. Ia banyak menghabiskan hari-harinya di rumah sakit jiwa untuk menjalani berbagai terapi dan pengobatan. Tampilan fisiknya pun ikut berubah: kurus dan tak terawat. Situasi bertambah memburuk tatkala ia jatuh miskin dan pihak Island Records merasa sudah saatnya memutus kontrak Nick.

Saat orang-orang di sekelilingnya menganggap masa depannya berada di ujung tanduk, pada 1974, Nick seperti memperoleh mukjizat. Kondisinya berangsur membaik: ia terlihat bahagia, punya pasangan, dan mampu merekam empat lagu baru.

Kendati demikian, fase itu cuma berlangsung sementara dan menjadi pintu dari tragedi yang menimpa Nick setelahnya: bunuh diri.

Populer Berkat Iklan Mobil


Selama berkarier di dunia musik, Nick merilis tiga buah album: Five Leaves Left (1969), Bryter Layter (1971), dan Pink Moon (1972). Lagu-lagu dalam album tersebut memuat tema seputar cinta, kerinduan, identitas diri, gagasan tentang superstar, hingga gambaran mengenai seorang pria yang tersiksa.

Album-album Nick menawarkan musikalitas yang yahud. Tiap album punya karakter musik yang berbeda-beda. Di album Five Leaves Left, misalnya, Nick menggabungkan folk dengan bebunyian string yang menggoda. Lalu di Bryter Layter, Nick bereksperimen dengan warna jazz. Dan di Pink Moon, Nick kembali pada akarnya: folk yang sunyi.

Meski begitu, perlu beberapa dekade agar nama Nick betul-betul dikenal publik─dan semua bisa terjadi berkat iklan komersial.

Infografik Nick Drake
Infografik Nick Drake



Pada dekade di mana kariernya dibangun, Nick cuma punya segelintir penggemar. Namun, itu berubah tatkala pada 1999, salah satu lagu Nick yang termaktub di album Pink Moon dipakai sebagai pengiring iklan Volkswagen Cabriolet. (Catatan: iklan ini adalah iklan pertama VW yang muncul di era internet.)

Kejadian tersebut membikin publik beramai-ramai mencari dan mengunduh lagu Nick. Karya-karya Nick kian masif diakses setelah Napster lahir. Para penggemar Nick saling bertukar lagu hingga album dalam intensitas yang tinggi. Memasuki era awal milenium, karya Nick bertambah populer di tengah masyarakat. Tak sebatas berputar dalam jejaring internet, lagu-lagu Nick menyebar hingga layar lebar. Lagu Nick dimasukkan dalam film-film macam The Royal Tenenbaums (2001), Serendipity (2001), dan Garden State (2004).

Pada akhirnya, membicarakan Nick Drake dan karya-karyanya adalah membicarakan bagaimana seorang musisi jenius lagi brilian yang tak pernah memiliki cukup kepercayaan diri maupun karisma untuk menarik perhatian audiens.

“Aku telah gagal dalam segala hal,” kata Nick, suatu waktu, kepada sang ibu.

Dan kita tahu, dengan segala melodi indah yang pernah diciptakannya, Nick tak pernah gagal.

========

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono