NHM, "Kompeni Kecil" Cikal Bakal Bank Mandiri

Oleh: Petrik Matanasi - 3 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
NHM yang kaya oleh Tanam Paksa dianggap pelanjut dari VOC. NHM kemudian menjadi cikal-bakal dari Bank Mandiri.
tirto.id - Belum pernah ada perusahaan yang mampu menandingi besarnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias maskapai dagang Hindia Timur. Ia terlahir pada 20 Maret 1602 dan harus berakhir pada 31 Desember 1799 saja. Usia hidupnya kira-kira 198 tahun. Maskapai ini harus tutup buku di antaranya karena banyak perang yang makan biaya serta korupsi.

Setelah VOC bubar, pemerintah kolonial mengambil alih daerah operasinya, yakni nusantara. Ketika itu, perdagangan hasil bumi adalah hal penting bagi perekonomian pemerintah kolonial. Untuk itu, maskapai dagang baru pun berdiri lagi dua puluhan tahun setelah VOC bubar.

Berkat restu dari Raja Belanda Willem I, berupa Surat Keputusan Raja Tanggal 29 Maret 1824 nomor 163, maskapai dagang Nederlandsehe Handel Maatsehappij (NHM) pun didirikan. Setelah 1824, kantornya di Betawi yang dikenal sebagai Factorij atau cabang NHM berdiri. Menurut Alexander Claver, dalam Dutch Commerce and Chinese Merchants in Java (2014:31), NHM dengan cepat tumbuh menjadi besar, Amsterdam menjadi pangkalan komoditas dagang besarnya. NHM juga mengoperasikan kapal-kapal untuk memuat dagangan sejak 1830.



Setelah berlakunya Sistem Tanam Paksa —dari 1830 hingga 1870— yang mengharuskan petani menyetor seperlima hasil panen yang ditentukan pemerintah kolonial, NHM tentu kecipratan untung besar. NHM pun berdagang teh, kopi, gula, karet dan lainnya. NHM akhirnya kaya bersama dengan Kerajaan Belanda, di atas keringat dan derita petani-petani Jawa.

“NHM mendapat hak istimewa dari Raja dan Pemerintah Belanda untuk mengangkut serta menjual hasil bumi Indonesia yang sebagian besar diperoleh dari hasil Cultuurstelsel atau Tanam Paksa,” tulis Sagimun Tulus Dumadi dalam Jakarta dari Tepian Air Ke Kota Proklamasi (1988:140). Tak heran jika sejarah, seperti A History of Southeast Asia: Critical Crossroads (2015: 206) yang disusun Anthony Reid menyebut NHM sebagai Kompeni Kecil.

Seperti kompeni tua, VOC, menurut catatan Erward Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX (2016:124) menyebut ada pegawai-pegawai NHM yang terlibat penyelundupan. “Oleh karena itu kegiatan ini sulit diberantas. Indikasi adanya keterlibatan pihak NHM dan pejabat pemerintah bisa dilihat dari beberapa hal: pertama, kapal pemberantas bajak laut yang ditempatkan oleh pemerintah di sekitar Makassar tidak efektif. Kedua, kendati penyelundupan merugikan pemerintah dan NHM, tapi tidak ada keluhan dari dari mereka. Ketiga, penelitian atas kegiatan tersebut selalu mengalami kesulitan.”

infografik sebelum bank mandiri


NHM juga mulai melakukan diversifikasi usaha. Jauh sebelum tanam paksa dihapus pada 1870, menurut Piet Geljon dan Ton de Graaf di buku Colonial and Imperial Banking History (2015:65), “dari awal 1850-an, NHM mulai membiayai perkebunan di Hindia Belanda. Skema pembiayaan berupa uang muka panen, pinjaman hipotek dan penyertaan modal.”

Pembiayaan usaha yang dibantu NHM di antaranya adalah bisnis tekstil. Alexander Claver (2014:42) menyebut “Pemerintah Belanda mendukung industri yang masih muda dengan menciptakan gerai buatan untuk produknya di Hindia Belanda. Pada sebuah pukulan pena, keputusan dibuat untuk melipatgandakan ekspor tekstil ke koloni tersebut, dan NHM diberi kontrak pertama di tahun 1835.”

NHM juga aktif dalam perdagangan valuta asing. Pada tahun 1880, NHM akhirnya menjadikan valas sebagai bisnis pentingnya. Kegiatan lainnya adalah, transaksi surat berharga, transfer via telegraf, dan pembiayaan impor di Hindia Belanda. “Diversifikasi ke perbankan terutama dilakukan melalui De Factorij dan agen Singapura. NHM memiliki kelompok kegiatan ketiga, yang terkait dengan perannya yang lebih penting: berpartisipasi dalam pendirian industri,” tulis Piet Geljon dan Ton de Graaf (2015:67). NHM sendiri punya pabrik-pabrik gula. “Cabang NHM di Jawa menguasai lebih dari 17 pabrik gula,” tulis Mestika Zed dalam Kepialangan, Politik, dan Revolusi: Palembang, 1900-1950 (2003:70).

Pada tahun 1857, di Batavia berdirilah Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij. Setelahnya, di tahun 1863, berdiri pula kantor agensi Nederlandsch-Indische Handelsbank alias Bank Dagang Hindia Belanda di Betawi, pusatnya ada di Amsterdam. “Meskipun bank-bank ini sampai batas tertentu aktif di bidang yang sama dengan NHM, masing-masing memiliki bidang spesialisasi tersendiri,” tulis Piet Geljon dan Ton de Graaf (2015:66).

Di masa kolonial, maskapai kakap ini berkantor pusat di Jalan Stasiun Kota nomor 1, Jakarta, gedung bergaya Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik, yang kini menjadi Gedung Museum Bank Mandiri. Gedung rancangan J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde ini mulai dibangun tahun 1929 dan resmi dibuka pada 14 Januari 1933 oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung Museum ini termasuk dalam kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta.

Hingga 1950an, NHM masih menjadi salah satu dari The Big Eight dari perusahaan-perusahaan Belanda yang cukup berpengaruh di Indonesia. Dalam dunia perbankan di Indonesia, NHM, bersama Escompto Bank dan National Handel Bank adalahThe Big Three Bank. Di sana, orang-orang Belanda masih berkuasa. Namun, di tahun 1950an bukan masa tenang untuk mereka. Nasionalisasi membuat banyak aset milik Belanda menjadi milik Negara.



Menurut Bondan Kanumoyoso dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia: Menguatnya Peran Ekonomi Negara (2001:95), melalui Peraturan Pemerintah No.39 tahun 1959 Nationale Handelsbank (NHB) dinasionalisasikan menjadi Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian berganti nama lagi menjadi Bank Bumi Daya. Bank Escompto dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1960 dan menjadi Bank Dagang Negara. Sementara, NHM dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.44 tahun 1960.

Bekas NHM lalu dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan pada 5 Desember 1960. Namun, pada 31 Desember 1968 menjelma lagi menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (BEII). Belakangan, bersama dua mantan The Big Three Bank mantan milik Belanda, Escompto Bank (yang belakangan jadi Bang Dagang Negara) dan National Handel Bank (Bank Bumi Daya), ditambah Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menggabungkan diri dalam Bank Mandiri pada 2 oktober 1998.Sudah tentu, Bank Mandiri menjadi bank besar. Sementara itu, Sisa-sisa NHM di Belanda juga berkembang dan kemudian juga merger dengan Bank Twentsche di 1964 hingga menjadi Algemene Bank Nederland (ABN) alias Bank Umum Belanda.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PERUSAHAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti