Nasib Ridwan Kamil Usai Ditinggal Golkar

Oleh: Alexander Haryanto - 18 Desember 2017
Dibaca Normal 4 menit
Idrus menyatakan keputusan mencabut dukungan terhadap Ridwan Kamil karena yang bersangkutan memilih jalur konvensi untuk memilih calon wakil.
tirto.id - Partai Golkar resmi mencabut dukungannya terhadap Ridwan Kamil (Emil) sebagai Cagub Jawa Barat pada Pilkada 2018. Keputusan itu ditandatangani Ketua Umum terpilih Airlangga Hartarto dan Sekjen Idrus Marham melalui Surat Keputusan R-525/GOLKAR/XII/2017 dan tertanggal 17 Desember 2017.

Idrus Marham menyatakan, keputusan itu diambil karena partainya tak setuju dengan proses pemilihan wakil calon gubernur yang dipakai Ridwan Kamil. Pasalnya Golkar telah memutuskan nama Daniel Mutaqien untuk dipasangkan dengan Walikota Bandung itu.

Namun, Emil menempuh jalur konvensi untuk menjaring dan memilih pasangannya. "Ada proses konvensi yang kemarin dilakukan oleh Ridwan Kamil. Ini yang membuat Partai Golkar berubah sikap," kata Idrus pada forum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (18/12).

Golkar memiliki 17 kursi di DPRD Jabar. Artinya dengan mundurnya Golkar, maka Ridwan Kamil hanya ditopang dengan 21 kursi, yakni PPP sembilan kursi, PKB tujuh kursi dan Nasdem lima kursi.

Tiga partai itu memang cukup mendukung Ridwan Kamil maju di Pilgub Jabar, karena sesuai dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), seorang calon bisa maju setelah didukung 20 kursi di DPRD.

Menanggapi pencabutan dukungan itu, Ridwan Kamil mengaku belum menerima surat keputusan resmi dari DPP Golkar. “Informasi itu datang dari bentuknya [foto] jpeg kan, begitu ya dari HP ke HP. Jadi per sekarang saya belum menerima secara resmi,” kata Emil di Pendopo, Kota Bandung, Senin (18/12/2017).

Baca: Reaksi Ridwan Kamil terkait Surat Pencabutan Dukungan dari Golkar

Emil mengatakan, dirinya hanya tahu kabar pencabutan dukungan dari media. Namun, kata dia, jika Golkar benar-benar menarik dukungan, akan ada surat resmi yang datang kepadanya. Untuk itu, Emil enggan berkomentar lebih jauh mengenai kabar pencabutan tersebut sebelum surat resminya ia pegang.

"Dulu juga waktu ada gosip SK keluar, saya enggak berkomentar karena saya belum pegang. Baru setelah Pak Idrus Marham datang ke saya membawa suratnya, saya pegang ada tanda tangan basahnya," kata Emil seperti dikutip Antara.

Emil melanjutkan, untuk memastikan kebenaran pencabutan dukungan, dalam waktu dekat, ia akan mengonfirmasi langsung kepada Sekjen Golkar, Idrus Marham.

"Nanti saya akan mengkonfirmasi ke Pak Sekjen, apakah benar tidaknya. Kalau sudah nanti ada kabar, pastilah media juga di-update. Jadi statement saya terkait isu Golkar ini adalah begitu," katanya.

Faktor yang Harus Diperhatikan Emil dalam Memilih Pasangan

Meski mendapat dukungan yang cukup, peneliti Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (eLSID) Dedi Barnadi mengatakan Ridwan Kamil harus mengukur kekuatan politik saat memilih kandidat calon wakil gubernur.

"Emil harus memperhatikan banyak faktor dalam memilih calon wakilnya. Selain melihat faktor personal seperti harus memiliki kepemimpinan yang baik, populer, serta tingkat elektabilitas yang tinggi, Emil juga harus memperhatikan faktor politis," kata Dedi Barnadi kepada Antara, Minggu (17/12).

Selain itu, ia juga menyarankan Emil untuk memilih wakil yang memiliki kekuatan dan soliditas politik yang baik. Apabila calon itu berasal dari partai, maka Emil harus memilih calon yang mempunyai mesin politik yang bagus dan kuat.

Menurut dia, tak ada salahnya jika Emil meminta pendapat dari tokoh agama dan pesantren karena warga Jabar berharap pemimpinnya adalah sosok yang religius. "Sehingga dengan meminta tokoh pesantren juga sangat penting untuk meminimalkan dampak-dampak Pilgub Jakarta (2017)," katanya.

Emil, dijelaskannya, juga harus bermusyawarah dengan partai politik sebelum mengumumkan cawagub pendampingnya. “Jadi tidak hanya dengan konvensi," katanya.

Elektabilitas Ridwan Kamil dari Masa ke Masa

Hasil survei Indo Barometer pada 7 Februari hingga 7 Maret 2017 menunjukkan elektabilitas Ridwan Kamil tertinggi dibandingkan 14 nama lain dengan angka mencapai 22 persen. Di posisi kedua Deddy Mizwar (14,1 persen), ketiga Dede Yusuf (11,8 persen), seterusnya Dedi Mulyadi (7,3 persen), dan Rieke Diah Pitaloka (2,4 persen).

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyatakan Ridwan Kamil menempati posisi teratas ketika responden diberi pertanyaan siapa lima nama calon gubernur Jawa Barat 2018 yang akan dipilih.

Jawabannya, kata dia, Ridwan Kamil 25,3 persen, Deddy Mizwar 19,3 persen, Dede Yusuf 14,2 persen, Dedi Mulyadi 8,1 persen dan Bima Arya Sugiarto 1,9 persen.

Meski dari aspek elektabilitas sosok Ridwan Kamil menempati urutan atas, namun dari aspek pengenalan [popularitas] Walikota Bandung itu masih kalah oleh sosok Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.

Lima calon dengan tingkat pengenalan tertinggi, kata Qodari adalah Deddy Mizwar 97,8 persen, Desy Ratnasari 92,1 persen, Dede Yusuf 91,3 persen, Rieke Diah Pitaloka 72,5 persen dan Ridwan Kamil 65,4 persen.

Baca: Indo Barometer: Elektabilitas Ridwan Kamil 22 Persen

Namun Qodari yakin calon yang memiliki peluang besar dalam Pilgub Jabar 2018 adalah Ridwan Kamil karena dengan tingkat pengenalan 65 persen sudah bisa menjadi gubernur dengan elektabilitas tertinggi.

Selain itu, ia juga menilai Emil merupakan cagub Jabar dengan tingkat kesukaan tertinggi. “Peluang Ridwan Kamil makin besar mengingat tingkat kepuasan terhadap Wagub Jabar petahana Deddy Mizwar 42 persen," kata dia.

Sementara hasil survei Poltracking Indonesia selama 18-24 Mei 2017 juga menyebut nama Ridwan Kamil sebagai calon tertinggi dari lima nama, dengan urutan Emil, Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi, Dede Yusuf dan AA Gym.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha menyatakan, jika disimulasikan ada 25 nama kandidat Calon Gubernur Jabar di Pilkada 2018, responden yang memilih Ridwan Kamil sebesar 38,13 persen, Deddy Mizwar 14,88 persen, Dedi Mulyadi 9,88 persen, Dede Yusuf 8 persen, AA Gym 5,63 persen.

Nama kelimanya terus menduduki lima besar ketika simulasi nama dikurangi dari 25 menjadi 23 kandidat, tujuh kandidat hingga hanya enam kandidat.

Menurut Hanta, hasil survei ini hanya bersifat sementara dan belum merupakan prediksi pasti Pilkada Jabar 2018, perubahan elektabilitas bergantung pada empat faktor utama yaitu kemampuan para kandidat dalam membangun personal branding, efektivitas kerja mesin politik, tren perilaku pemilih serta isu yang bergulir.

Baca: Survei Poltracking: Elektabilitas Ridwan Kamil Tertinggi

Hal yang sama juga disampaikan dalam hasil survei Indo Barometer. Menurut mereka, Ridwan Kamil memiliki peluang menang di Pilgub Jawa Barat 2018. Survei dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat pada tanggal 11 hingga 15 Oktober 2017 dengan jumlah responden sebanyak 800 orang.

"Hal ini berdasarkan tingkat elektabilitas dari berbagai variasi simulasi dibanding kandidat lainnya," kata Peneliti Indo Barometer Hadi Suprapto Rusli, di Bandung, Jumat (3/11/2017).

Namun demikian, kata Hadi, Pilgub Jawa Barat 2018 masih sangat dinamis mengingat pelaksanaan pilkada masih di bulan Juni 2018. Menurut dia, elektabilitas Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi dalam survei tersebut naik sedangkan elektabilitas Deddy Mizwar malah turun.

Hadi memaparkan, ada tiga alasan keunggulan Ridwan Kamil dibandingkan calon lainnya, yakni pertama Ridwan Kamil sudah dikenal dan paling disukai, kedua Ridwan Kamil unggul dalam evaluasi kepribadian dan kemampuan dan yang ketiga Ridwan Kamil sesuai dengan selera (alasan) masyarakat Jawa Barat dalam memilih calon gubernur.

Baca: Survei: Ridwan Kamil Berpeluang Besar Menang di Pilgub Jabar 2018

Hasil yang pertama adalah Ridwan Kamil (43,8 persen), Dedi Mulyadi (19,6 persen), Deddy Mizwar (17,1 persen) dan Dede Yusuf (4 persen) dan sisanya rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab.

Hasil yang kedua adalah Ridwan Kamil (45,1 persen), Dedi Mulyadi (18,9 persen), Deddy Mizwar (17,6 persen) dan Rieke Diah Pitaloka (1,6 persen) dan Sisanya tidak akan memiIih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab.

Hasil yang ketiga adalah Ridwan Kamil (43,9 persen), Dedi Mulyadi (19,1 persen), Deddy Mizwar (17,3 persen) dan Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym (3 persen) dan sisanya rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab.

Hasil yang keempat ialah Ridwan Kamil (45,3 persen), Dedi Mulyadi (19,2 persen), Deddy Mizwar (16,9 persen) dan Puti Guntur Soekanoputri (1,4 persen) kemudian sisanya rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab.

Hasil yang kelima adalah Ridwan Kamil (44 persen), Dedi Mulyadi (19 persen), Deddy Mizwar (18,1 persen), dan Agus Harimurti Yudhoyono (2,1 persen) dan sisanya rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak.

Hasil yang keenam adalah Ridwan Kamil (47,9 persen), Dedi Mulyadi (20,5 persen), Dede Yusuf (6,7 persen), dan Rieke Diah Pitaloka (2 persen) dan sisanya tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak.

Baca juga artikel terkait PILGUB JABAR 2018 atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto