Kronik Ramadan

Nabi Muhammad dan Fatimah: Kasih Sayang Bapak kepada Putrinya

Oleh: Muhammad Iqbal - 20 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Fatimah az-Zahra adalah putri terakhir Nabi Muhammad. Menurut tradisi Islam, ia adalah salah satu dari empat perempuan yang sempurna.
tirto.id - Fatimah az-Zahra adalah putri bungsu Nabi Muhammad dan Khadijah. Kedua saudara kandung Fatimah, Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada usia dua tahun. Fatimah dihormati seluruh umat Muslim, dan secara khusus disanjung para pengikut Syi’ah dari keluarga Ali bin Abu Thalib, suaminya.

Fatimah melambangkan seorang perempuan dengan kepribadian mengagumkan. Kehidupannya dibaktikan kepada keluarganya. Ia begitu dicintai dan dihormati bukan karena apa yang telah diperbuatnya untuk diri sendiri, tapi lantaran usahanya untuk memelihara iman orang-orang di sekelilingnya.

Umurnya yang pendek mencakup periode kenabian ayahnya: dilahirkan sebelum ayahnya menjadi Rasul dan meninggal enam bulan sesudah ayahnya wafat. Ia meninggal dalam usia yang masih sangat muda, 27 tahun, di Madinah pada 3 Ramadan 11 Hijriah (5 Agustus 632 M).

Umat Muslim berbondong-bondong ke Masjid Nabawi untuk menyalatkannya. Sembahyang jenazah pertama dipimpin Ali. Sembahyang jenazah gelombang kedua dipimpin pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Jenazah Fatimah lalu dibawa ke makam Baqi, dikuburkan bersebelahan dengan saudari-saudarinya, Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Khultsum.

Fatimah lahir di Ummul Qura (Mekkah) pada Jumat, 20 Jumadi al-Tsani di rumah sederhana yang diurus ibunya. Ia dibesarkan bersama-sama dengan saudara-saudara perempuannya dan seorang sepupu laki-laki Nabi Muhammad yang kelak menjadi suaminya. Ali diasuh Muhammad sejak kecil dan sangat disayangi layaknya anak sendiri. Ali adalah orang kedua yang mengakui kenabian Muhammad setelah Khadijah.

Kesayangan Nabi Muhammad

Adegan pertama dari kehidupan penuh krisis memperlihatkan Nabi Muhammad yang tengah menemukan anaknya yang menangis karena sang ibu meninggal dunia. Lalu diikuti dengan masa tiga tahun penuh rintangan yang tidak menyenangkan—pengalaman-pengalaman yang pasti merupakan beban berat bagi gadis berhati lembut itu.

Suatu kejadian yang tercatat tentang Fatimah menunjukkan betapa besar keberaniannya. Pada suatu hari, ayahnya dilempari orang-orang dengan kotoran ketika bersujud di Kakbah. Gadis Fatimah lalu membersihkan kotoran-kotoran dari badan Nabi Muhammad dan berteriak murka kepada para pengganggu itu.

Tatkala berhijrah ke Madinah, Nabi segera mengirim seorang utusan untuk membawa kedua putrinya supaya bergabung. Tidak lama setelah itu, berlangsunglah pertunangan dan pernikahan Fatimah dengan Ali. Pasangan baru itu kemudian tinggal tidak jauh dari rumah Nabi. Sebagaimana umumnya rumah tangga baru, mereka belum mempunyai apa-apa.

Fatimah sangat dekat dengan ayahnya. Dan seperti ayahnya, ia paling setia menyantuni orang miskin, termasuk kepada ahl al-shuffah—orang-orang yang membaktikan hidupnya untuk mendalami ilmu agama dengan cara yang asketik.

Ketika Nabi berada di rumah atau di depan umum, dan putrinya ini menghampiri atau memasuki ruangannya, Nabi segera berdiri menyambut dan memperlihatkan secara terbuka kelembutan terhadapnya. Baik orang Madinah maupun orang Mekkah terkejut melihat perilaku Nabi terhadap anak perempuan, yang dalam kebiasaan mereka tidak mendapat perlakuan semacam itu. Muhammad biasa mencium putrinya, duduk di sisinya, tanpa memedulikan komentar orang lain, atau kritik bahwa perilaku itu bisa menimbulkan gejolak.

Suatu ketika Rasulullah mencium cucunya, Hasan, anak Fatimah, di depan sekelompok orang Badui. Mereka terkejut, dan salah seorang di antara mereka, yaitu Aqra bin Habis, memperlihatkan keterkejutannya dan berkata: “Aku punya sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka!” Nabi kemudian menjawab, “Orang yang tidak dermawan [mencintai, mengasihi], Tuhan tidak dermawan kepadanya” (HR Al-Bukhari-Muslim).

Fatimah memperoleh cinta dan ajaran-ajaran perihal keimanan dan kelembutan dari ayahnya dan ia menebarkannya kepada orang-orang dengan membantu fakir miskin. Namun, suatu hari ia pernah mengeluh kepada Ali tentang pelbagai kesulitan hidup. Seperti ayahnya, mereka juga tidak punya apa-apa dan Fatimah merasa semakin berat menanggung beban hidup sehari-hari.

Ali menasihatinya agar ia pergi menemui ayahnya untuk meminta bantuan; barangkali Nabi bisa memberi salah satu budak yang dia peroleh sebagai hadiah. Fatimah pun pergi menemui Nabi, tapi tidak sanggup mengutarakan permintaannya, karena ia begitu menghormati ayahnya.

Ketika ia kembali dengan tangan hampa, Ali memutuskan untuk pergi ke rumah Nabi bersamanya. Nabi mendengarkan keluhan mereka dan memberitahu bahwa dia tidak bisa berbuat banyak. Kondisi mereka jauh lebih baik ketimbang ahl al-shuffah yang sangat membutuhkan bantuan. Mereka harus bertahan dan bersabar. Meski mereka putri dan sepupu Nabi, mereka tidak bisa menuntut posisi sosial nan istimewa.

Hampir tengah malam, Nabi mengetuk pintu rumah Fatimah dan Ali. Mereka hendak bangkit untuk menyambutnya, tetapi Nabi Muhammad masuk dan duduk di samping tempat tidur mereka. Sambil duduk di samping tempat tidur putrinya di tengah malam itu, dan dengan penuh perhatian atas kebutuhannya, Muhammad menjawab permintaan Fatimah dengan memberi rahasia khusus dari Allah SWT.

Nabi mengajarkan sebuah doa yang kemudian diriwayatkan kepada kita sepanjang zaman dan dipraktikkan setiap Muslim dalam keseharian. “Ini adalah perkataan yang diajarkan Jibril kepadaku. Kalian harus mengulangnya sepuluh kali setelah sembahyang: ‘Mahasuci Tuhan’ [Subhan Allah], lalu ‘Segala puji bagi Allah’ [Alhamd lillah], dan ‘Tuhan Mahabesar’ [Allahu Akbar]. Sebelum tidur, kalian harus mengulangnya sebanyak tiga puluh kali” (HR al-Bukhari-Muslim).

Ketika kehidupan berangsur membaik dan makanan yang tersedia sudah mencukupi kebutuhan, rumah Fatimah terkadang tetap tak mempunyai apa-apa sepanjang hari karena mereka kerap memberikan makanan kepada orang lain yang jauh lebih sengsara.

Apa yang dilakukan Fatimah dan Ali merupakan contoh awal pentingnya berpuasa bagi kaum Muslimin. Mereka yang lebih beruntung merasakan apa artinya lapar dan berempati terhadap pelbagai kebutuhan orang lain.

Fatimah melahirkan dua orang putra dan dua orang putri dari Ali: dua anak lelaki, yakni Hasan dan Husein; kakak perempuan mereka, Zainab; dan adik perempuan bernama Umi Kultsum. Nabi Muhammad sangat menyayangi mereka.

infografik kronik kematian fatimah

Teladan Kesalehan dan Cinta

Menurut tradisi Islam, hanya ada empat orang perempuan yang sempurna. Khadijah dan Fatimah adalah dua di antaranya.

Fatimah digambarkan sebagai seorang yang meneruskan kedermawanan dan kebaikan Nabi Muhammad, di tengah kesibukan hidupnya yang sangat banyak. Tangannya kasar karena menggiling gandum. Ia kerap menggendong anak dengan satu tangan dan tangan yang lain menggiling gandum tanpa mau meminta pertolongan tetangganya.

Ketika sang Nabi wafat, para pendukung Ali berpendapat bahwa hanya dialah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad menjadi khalifah. Bagi mereka, Ali adalah sosok yang dipilih Nabi sebelum sakitnya yang terakhir.

Meski demikian, selama masa sakitnya itu, Abu Bakar-lah yang memimpin sembahyang berjamaah di tempat Nabi. Putri Abu Bakar yang juga istri Nabi, Aisyah, menyatakan bahwa ayahnyalah yang ditunjuk Nabi sebagai penggantinya. Dengan kesepakatan bersama pada musyawarah yang diadakan sebelum pemakaman Nabi Muhammad yang tidak dihadiri Ali, pilihan jatuh kepada Abu Bakar.

Fatimah sangat kecewa atas keputusan itu. Pertentangan Fatimah dengan keluarga Abu Bakar kemudian semakin melebar ketika ia ditolak untuk mendapatkan bagian kekayaan yang menurutnya merupakan haknya sesuai dengan wasiat Nabi.

Ketika Fatimah sakit beberapa bulan kemudian, ia tidak mau menemui Aisyah atau salah seorang anggota keluarga Abu Bakar, dan bahkan melarang mereka menghadiri pemakaman jika dirinya meninggal. Akan tetapi, sebuah jembatan dibangun adik iparnya, Asma binti Umais, yang pada waktu itu telah menikah dengan Abu Bakar.

Seperti suaminya, Fatimah adalah teladan kesalehan, kepemurahan, dan cinta. Ia hidup dalam sinar ajaran spiritual ayahnya: menjalani hidup bersahaja, meminta segala sesuatu hanya kepada Yang Maha Esa, dan memberikan semua miliknya kepada orang lain.

Menjelang Nabi Muhammad wafat, Fatimah menangis sedih tatkala ayahnya membisiki bahwa Tuhan hendak memanggilnya kembali dan telah tiba saatnya untuk berpisah. Lantas, Fatimah tersenyum gembira ketika, beberapa menit kemudian, Nabi Muhammad mengatakan kepadanya dengan penuh kerahasiaan bahwa dialah orang pertama dari anggota keluarganya yang akan segera menyusul Nabi.

Baca juga artikel terkait KRONIK RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan