Mitos Malam 1 Suro bagi Orang Jawa dan Kenapa Dianggap Keramat

Kontributor: Ahmad Efendi - 26 Jul 2022 09:40 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Mitos malam 1 Suro bagi orang Jawa dan alasan mengapa malam 1 Suro dianggap sakral bagi sebagian orang Jawa.
tirto.id - Terdapat sejumlah mitos malam 1 Suro bagi orang Jawa, sehingga sebagian masyarakat dilekatkan dengan malam yang sakral atau keramat.

Anggapan kesakralan Malam 1 Suro dalam diteropong melalui representasi beberapa film, seperti Malam Satu Suro (1988) yang dibintangi oleh legenda film horor, Suzzana. Dalam film tersebut, malam itu digambarkan sebagai saat di mana bermacam setan, jin, dan santet menunjukkan eksistensinya.

Selain itu, di beberapa kalangan masyarakat, banyak pula mitos-mitos yang beredar, utamanya seputar pantangan melakukan aktivitas tertentu di bulan Suro karena dianggap ra ilok, pamali. Beberapa kegiatan, misalnya, mengadakan pernikahan atau membangun rumah pantang untuk dilakukan bagi sebagian orang Jawa yang mempercayainya.

Di beberapa daerah pula, bermacam ritual dalam menyambut “malam yang disucikan” dilakukan. Contohnya, beberapa kalangan masyarakat mengadakan padusan, yakni mandi bersama di sungai sebagai cara untuk “membersihkan diri” dari aura negatif dan bersiap untuk tahun yang baru.

Selain itu, kegiatan seperti lek-lekan atau tidak tidur semalaman, tudurani (perenungan diri sambil berdoa),tirakatan hingga selamatan dengan menyajikan aneka sesaji juga akan dilakukan. Tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti gunung atau pun petilasan raja-raja juga akan ramai dikunjungi.
Terlepas dari tujuan ritual atau anggapan ‘suci’ maupun ‘angker’ dari Malam 1 Suro, kegiatan-kegiatan itu memiliki makna spiritual dan merepresentasikan secara jelas soal sakralnya malam tersebut. Pertanyaan kemudian, bagaimana Malam 1 Suro bisa dianggap sakral?


Akar Kesakralan Mitos Malam 1 Suro

Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa (2010) berpandangan, faktor terpenting yang menyebabkan bulan Suro dianggap sakral adalah budaya keraton. Ia menulis, bahwa keraton sering mengadakan upacara dan ritual untuk peringatan hari-hari penting tertentu, dan akhirnya terus diwariskan, dilanjutkan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks malam 1 Suro, seperti dicatat Wahyana Giri dalam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010), lingkungan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta sebenarnya memaknainya sebagai malam yang suci atau bulan penuh rahmat.

Pada malam tersebut mereka mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membersihkan diri melawan segala godaan hawa nafsu, dengan menjalankan tirakat dan lelaku atau perenungan diri. Salah satunya, selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti.

Sementara Prapto Yuwono, pengajar Sastra Jawa di Universitas Indonesia, mencoba menjelaskan mengapa pada akhirnya Malam 1 Suro dimaknai secara menakutkan. Menurutnya, ini adalah imbas dari politik kebudayaan dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram

Pada kurun 1628-1629, Mataram mengalami kekalahan dalam penyerbuannya ke Batavia, yang akhirnya membuat Sultan Agung melakukan evaluasi. Setelah penyerbuan itu pula, pasukan Mataram yang menyerang Batavia telah terbagi ke dalam pelbagai keyakinan seiring semakin masifnya Islam di tanah Jawa.

Kondisi tersebut akhirnya membuat pasukan Mataram tidak solid. Kemudian, untuk merangkul semua golongan yang terbelah, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa-Islam dengan pembauran kalender Saka dari Hindu dan kalender Hijriah dari Islam.

Alasan Sultan Agung Menciptakan Tahun Jawa Islam

Menurut Prapto, alasan mengapa Sultan Agung menciptakan tahun Jawa-Islam, karena ada satu peristiwa sejarah yang membuat dia miris dan sedih. Ia lantas berpikir secara keseluruhan bahwa ada yang salah dengan kebudayaan Jawa.

Banyak yang mengaitkan rasa sedih Sultan Agung dengan kekalahan dalam dua kali penyerbuannya ke Batavia. Akhirnya, ia menciptakan tahun baru yang menggabungkan antara tahun Saka Hindu dengan tahun Islam, dengan harapan bahwa berubahnya konsep akan membuat semua kepedihan itu hilang.

Sultan Agung juga mencanangkan pada malam permulaan tahun baru itu untuk prihatin, tidak berbuat sesuka hati dan tidak boleh berpesta. Masyarakat harus menyepi, tapa, dan memohon kepada Tuhan.

Prapto juga mengimbuhkan, untuk menghormati leluhur dan sebagai bentuk evaluasi, pada malam tersebut juga pusaka-pusaka dicuci, dibersihkan, seiring dengan kehidupan spiritual yang disucikan kembali.

Dari sinilah, menurut pengajar Sejarah Jawa UI itu, yang membuat orang Jawa meyakini bahwa malam satu Suro itu menjadi malam yang sangat sakral. Dan di situ pula, pertemuan antara dunia manusia dengan dunia gaib, karena pusaka-pusaka dicuci, didoakan, diselamatkan kembali.

Lebih lanjut ia menjelaskan, karena malam tersebut merupakan "pertemuan" antara dunia manusia dengan dunia gaib, maka malam tersebut akhirnya ditakuti orang-orang. Bagi sebagian orang, ketakutan itu adalah berupa sanksi-sanksi gaib jika tidak berbuat kebaikan.

Sementara bagi sebagian lain justru kehadiran dunia gaib inilah yang ditakuti. Kepercayaan inilah yang kerap diangkat ke layar lebar dengan menghadirkan kisah-kisah menyeramkan.

Tradisi-tradisi itu pun terus berlanjut, dan kesakralan Malam 1 Suro terus diproduksi melalui mitos-mitos, tuturan cerita mulut ke mulut, bahkan tak jarang layar kaca juga menyuburkannya.



Tradisi Malam Satu Suro di Keraton Yogyakarta



Berdasarkan catatan Madhan Anis dalam Jurnal, Malam Satu Suro merupakan peringatan besar yang musti disambut masyarakat Jawa dengan samadi, sesirih, sesuci, dan sarasehan. Lebih lanjut, Harmanto (2000:10) menjabarkan bahwa di malam tersebut harus ada samadi (memohon ampun kepada Tuhan), sesirih (pengendalian diri/tirakat), sesuci (menyucikan diri dan alat-alat perjuangan), dan sarasehan (temu rasa, bawa rasa, dan mengasah kemampuan).

Berikut ini tradisi peringatan Malam Satu Suro di Yogyakarta:

Mubeng Benteng

Tradisi atau ritual ini dilakukan sebagai bentuk tirakat atau pengendalian diri dan memohon keselamatan kepada Tuhan YME. Pada malam hari tersebut, mubeng benteng dilakukan dengan berjalan kaki mulai dari Keraton Yogyakarta, alun-alun utara, ke daerah barat (Kauman), ke selatan (Beteng Kulon), ke timur (Pojok Beteng Wetan), hingga akhinrya ke utara lagi dan kembali ke Keraton.

Kala prosesi mubeng benteng dilakukan, para abdi dalem keraton mengenakan pakaian khas Jawa dan tidak menggunakan alas kaki. Di belakangnya, masyarakat umum akan mengikuti dengan tidak mengenakan alas kaki juga.

Berjalan tanpa alas kaki ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan diri dan penunjukkan rasa cinta terhadap alam semesta. Selama perjalanan dilakukan, semua yang mengikuti prosesi akan menggantungkan tasbih di jari kanan serta memanjatkan doa kepada Tuhan.

Jamasan Pusaka atau Ngumbah Keris

Di Malam Satu Suro, ternyata ada juga tradisi rutin tahunan yang dilakukan di Keraton Yogyakarta, dikenal dengan jamasan pusaka atau siraman pusaka. Ketika upacara ini, pusaka-pusaka milik Keraton Yogyakarta akan dibersihkan atau dimandikan.

Pusaka tersebut meliputi senjata, kereta, alat-alat berkuda, bendera, vegetasi, gamelan, serat-serat (manuskrip), dan lain-lain. Hal yang dijadikan sorotan bahwa barang tersebut dikatakan sebagai pusaka adalah berdasarkan perannya bagi sejarah keraton (fungsi benda tersebut dahulu kala).

Terkait tujuannya, jamasan pusaka dilakukan untuk menghormati dan merawat segala pusaka yang dimiliki keraton. Akan tetapi, menurut situs Kraton Jogja, terdapat dua aspek alasan pelaksanaan jamasan pusaka, yakni terkait teknis dan spiritual.

Pada hal teknis, tradisi ini ditujukan untuk merawat benda-benda yang dapat dikatakan sebagai warisan dari orang-orang terdahulu. Sedangkan aspek spiritualnya, dilaksanakan sebagai penyambutan oleh masyarakat Jawa terhadap datangnya Malam Satu Suro.


Baca juga artikel terkait 1 MUHARRAM atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Agung DH
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight