Menuju konten utama

Mimpi dan Gagasan Besar Eusebio Di Francesco

Barcelona secara mengejutkan tersingkir dari Liga Champions. Sosok yang ada dibalik itu adalah Eusebio Di Francesco.

Mimpi dan Gagasan Besar Eusebio Di Francesco
Pelatih AS Roma Eusebio Di Francesco dalam laga Liga Champion melawan Chelsea di Stamford Bridge, London, Inggris. (18/10/17). REUTERS/Eddie Keogh

tirto.id - Setelah mengalami kekalahan telak 4-1 dari Barcelona di pertandingan leg pertama babak perempat final Liga Champions pertengahan minggu lalu, siapa menyangka Roma yang akhirnya melaju ke semifinal? Namun, itulah yang terjadi.

Di laga kedua yang digelar di stadion Olimpico Selasa malam (10/4/2018), I Giallorossi unggul cepat di menit ke-6 lewat sontekan Edin Dzeko setelah menerima umpan lambung dari Alessandro Florenzi. Dua gol tambahan yang memupus mimpi Barcelona dicetak dua pemain yang di leg pertama mencetak gol bunuh diri: Dainelle de Rossi (penalti di menit ke-56) dan Kostas Manolas (sundulan di menit ke-84).

Barcelona yang mengandalkan penguasaan bola tak mampu mengatasi high pressing, seragan balik, dan umpan-umpan direct yang diperagakan para pemain Roma. Azulgrana seperti kehilangan darah dan arah. Padahal penampilan Barcelona musim ini bisa dikatakan impresif. Di La Liga ia baru kebobolan 16 gol dari 31 pertandingan dan belum sekalipun mengalami kekalahan.

“Jujur saja dalam pertandingan ini kami tidak bisa memainkan sepakbola kami. [Roma] sangat agresif, mereka bermain sangat baik dan kami harus memberi selamat kepada mereka,” kata Valverde dalam pers konferensi seusai pertandingan.

Kekalahan dari Roma ini memperpanjang rekor Barcelona yang selalu terhenti di babak perempat final sejak 2014. Tahun lalu, Barcelona dihentikan Juventus. Musim 2014 dan 2016 mereka dijungkalkan Atletico Madrid.

Sebaliknya bagi Roma, kemenangan 3-0 atas Barca ini membuat mereka menjadi tim ketiga di era Liga Champions yang mampu bangkit setelah mengalami kekalahan dengan defisit tiga gol. Dua tim lain adalah Devortivo La Coruna saat mampu menang 4-0 di leg kedua setelah di leg pertama mereka kalah 1-4 oleh AC Milan dan Barcelona yang mampu mengatasi defisit empat gol saat melawan PSG di musim lalu.

Atas lolosnya Roma ke semifinal, Eusebio Di Francesco, sang pelatih, tak malu-malu berkata: dirinya yang paling berjasa.

“Saya selalu bertanggung jawab atas kekalahan dan kata-kata kasar di sosial media, jadi sekalian saja kemenangan ini pun berkat saya,” ujar Di Francesco sebagaimana dikutip Goal.com.

Klaim Di Francesco diakui kapten tim, Dainelle de Rossi.

Yang membuat berbeda buat saya adalah Di Francesco karena dia membantu kami bermain dengan benar. Dia mengubah banyak hal namun keputusannya tepat,” ujar pemain berusia 34 tahun itu.

Melewati Spalletti

Eusebio lahir di Pescara 8 September 1969. Sebelum menjadi pelatih, Di Francesco merupakan seorang gelandang enerjik yang menjadi bagian tim AS Roma ketika meraih Scudetto 2000/01 di bawah asuhan Fabio Capello. Ia pun pernah dipanggil timnas Italia dan tampil sebanyak 12 kali.

Setelah pensiun, Di Francesco memutuskan menjadi pelatih. Di awal kariernya, ia pernah menukangi Virtus Lanciano (2008), Pescara (2010), Lecce (2011), sebelum pindah ke Sassuolo (2012). Di Sassuolo, Di Francesco berhasil membawa tim asuhannya promosi dari Seri B, bahkan sampai berlaga di Liga Europa pada 2016.

Di kompetisi ini Di Francesco bertemu dengan Ernesto Valverde untuk kali pertama. Saat itu Valverde masih menukangi Athletic Bilbao. Sassuolo dan Athletic Bilbao bertemu setelah berada dalam satu grup. Pada 15 September 2015, Bilbao bertandang ke Sassuolo dan kalah telak 3-0. Di San Mames, Bilbao membalas dengan kemenangan 3-2.

Infografik Eusebio di Francesco

Meski akhirnya Sassuolo tak berhasil lolos ke fase berikutnya, prestasi Di Francesco di klub asal Modena itu menjadi pertimbangan petinggi Roma untuk merekrutnya ketika tim ibukota Italia itu ditinggalkan Luciano Spalletti yang hijrah ke Inter Milan. Pada 13 Juni 2017 Di Francesco resmi ditunjuk sebagai pelatih Roma.

Penunjukkan terhadap Di Francesco rupanya merupakan keputusan yang tepat. Di Seri A saat ini, Roma bertengger di peringkat empat, berbagi poin 60 dengan rival abadi mereka, Lazio, yang ada satu tingkat di atasnya. Di Liga Champions, Roma melaju ke semifinal, hal yang belum pernah dicapai Spalletti selama enam tahun karirnya di Roma. Bahkan ketika legenda klub Francesco Totti masih merumput.

Pelatih Muda dengan Gagasan Besar

“Di Francesco adalah pelatih muda yang memiliki gagasan-gagasan besar,” kata Arrigo Sacchi suatu ketika.

Di Francesco rupanya lebih dari itu. Selain memiliki gagasan besar, ia pun ternyata punya mimpi besar.

Dalam artikelnya yang berjudul "Roma Rewarded for Dreaming Big as Di Francesco Masterminds Barca Downfall" di ESPN, Gabriele Marcotti menulis tentang sebagian fans Roma yang lebih memilih untuk mengorbankan pertandingan yang dianggap mereka sudah tamat itu, dan lebih memilih untuk fokus pada laga derby melawan Lazio pada 15 April 2018 dan mengamankan zona Liga Champions musim depan.

Menurut Marcotti cara berpikir fans Roma itu masuk akal untuk klub sekelas Roma. Namun, Di Francesco menolak penalaran seperti itu. Sebagaimana ditulis Marcotti:

“Untungnya, Di Francesco tidak hidup di alam yang 'sangat rasional' ini. Dia mendiami dunia di mana harapan terus muncul, di mana kita bisa bermimpi besar, di mana kita berkewajiban pada fans untuk berjuang sampai akhir.”

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS 2018 atau tulisan lainnya dari Bulky Rangga Permana

tirto.id - Olahraga
Reporter: Bulky Rangga Permana
Penulis: Bulky Rangga Permana
Editor: Zen RS