Merkel Maju Lagi. Jerman Pilih Status Quo atau Populisme?

Infografik Pertarungan Kursi Kanselir Jerman
angela merkel.foto/shutterstock
Oleh: Taufiq Nur Shiddiq - 29 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Angela Merkel lagi-lagi maju di pertandingan menjadi Kanselir Jerman untuk yang keempat kali. Banyak kalangan tetap mendukung Merkel karena ia tokoh paling kuat penghadang populisme yang salah satu sikapnya menolak imigran.
tirto.id - Tidak ada batasan jumlah periode jabatan untuk Kanselir Jerman. Maka jika Angela Merkel menjawab pertanyaan “mengapa Anda berencana maju di pemilu 2017?” dengan “karena boleh” atau “karena saya bisa”, tidak akan ada yang bisa protes, atau setidak-tidaknya tidak ada yang bisa protes dengan alasan legal-formal.

Paham populisme sedang menjangkit Eropa. Suara orang-orang yang tidak meyakini hak asasi manusia dan membenci imigran dan menentang Uni Eropa semakin kencang belakangan. Lihat bagaimana Brexit terjadi. Lihat bagaimana semakin banyak orang yang turun ke jalan untuk menolak kedatangan para imigran—bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap imigran sebagai bentuk pernyataan sikap. Lihat bagaimana Slovakia menolak menerima para imigran karena tidak memiliki masjid. Para imigran mencari bantuan ke Eropa, namun yang mereka dapatkan adalah penolakan dengan alasan yang mengada-ada.

Selama dipimpin Merkel, Jerman menerima lebih dari satu juta imigran sepanjang 2015 saja—tindakan kemanusiaan tanpa maksud terselubung yang, sebagaimana disebut oleh der Spiegel, merupakan sebuah keindahan politik. Namun bahkan di negara penerima imigran terbanyak pun penolakan terhadap imigran terjadi. Dan suara para penolak tersebut lantang sekali. Usia Pegida (Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abendlandes) memang baru dua tahun namun pengaruhnya sudah menyebar ke seluruh Eropa. Para anggotanya tidak akan pernah mengakui, namun Pegida pada dasarnya adalah kelompok neo-Nazi.

Pengaruh politik Pegida belum benar-benar terasa karena citra mereka sebagai kelompok neo-Nazi membuat Pegida dihindari kecuali oleh para anggotanya. Bahkan Alternative für Deutschland (AfD), partai sayap kanan yang sangat menentang kebijakan Merkel menerima imigran, menghindari kontak dengan Pegida karena segala yang berhubungan dengan Nazi akan membuat citra siapa pun menjadi buruk. Namun bahkan tanpa Pegida pun popularitas AfD meningkat.

AfD memanfaatkan ketakutan dan kemarahan yang muncul di masyarakat Jerman sebagai akibat dari kebijakan Merkel yang, menurut separuh dari mereka, berlebihan. Jerman terlalu ramah. Dukungan untuk AfD selain datang dari para pendukungnya, juga datang dari orang-orang yang tidak mendukung mereka sebelumnya dan—ini yang lebih mengejutkan—dari para pendukung Christlich Demokratische Union (CDU), partainya Merkel. Bahkan anggota partai Christlich-Soziale Union (CSU), yang menjalin aliansi dengan CDU, menolak mendukung Merkel dalam kebijakan ini.

Bahkan para pendukungnya sendiri merasa Merkel telah gegabah dalam penerimaan imigran. Bukan berarti Merkel tidak mengakui kesalahan dan tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki kesalahan perhitungannya. Para imigran yang terbukti melakukan tindak kriminal langsung dideportasi. Sistem penerimaan imigran diperketat sedemikian rupa sehingga para imigran yang datang dari negara aman tidak dapat memanfaatkan situasi untuk masuk ke Jerman. Walau demikian persoalan imigran ini belum selesai dan karenanya Merkel mengambil langkah tepat dengan maju dalam pemilu yang ia tahu tidak akan berjalan mudah.

Selama nyaris tiga periode menjabat posisi Kanselir Jerman, Merkel boleh dibilang sukses. Merkel membawa Jerman menjadi kekuatan ekonomi Eropa di tengah krisis dan memangkas angka pengangguran Jerman hingga separuhnya. Namun mengingat AfD telah menggunakan kebijakan imigran Merkel sebagai bahan bakar untuk memperkuat diri mereka sendiri, angka pengangguran yang rendah serta pertumbuhan ekonomi dan posisi finansial yang kuat tidak akan membuat Merkel begitu saja kembali menjadi kanselir. Ditambah lagi ada persoalan di luar Jerman: polarisasi politik akibat menguatnya populisme di seluruh Eropa.



Menyoal populisme, Jerman memang memiliki sejarah kelam. Yang dilakukan Adolf Hitler telah menanamkan rasa malu dan bersalah yang mendalam dalam diri masyarakat Jerman. Bahkan generasi saat ini, yang tidak merasakan langsung masa kelam tersebut, memiliki perasaan malu dan bersalah yang tak kalah besar. Perasaan malu dan bersalah inilah yang membuat jumlah pendukung partai sayap kanan tak pernah banyak.

Sebuah survei yang dimuat di Bild am Sonntag pada Minggu (20/11, hari di mana Merkel menyatakan diri akan maju dalam pemilu) menunjukkan 55 persen masyarakat Jerman mendukung Merkel menjalani periode keempatnya sebagai kanselir. Pada Agustus, jumlah tersebut hanya 42 persen.

Fakta itu saja tentu tidak cukup namun Merkel tampak berada di jalur yang tepat untuk kembali menjabat posisi Kanselir Jerman. Ia harus maju dan menang karena jika tidak, populisme akan semakin kuat. Dan populisme bukan hanya akan menolak imigran, namun juga memecah belah Eropa. Kaum populis sudah menang di banyak tempat tapi di Jerman mereka menghadapi lawan terberat. Dan Merkel harus memaksimalkan keadaan tersebut.

El Mundo, surat kabar konservatif Spanyol, memandang Merkel sebagai opsi terbaik untuk meredam gerakan kanan ekstrem di Jerman sementara Sydsvenskan, surat kabar liberal Swedia menyebut Merkel sebagai daya pemersatu di Eropa dan Uni Eropa—dan dunia—yang sangat dibutuhkan saat ini. New York Times, sementara itu, percaya bahwa Merkel adalah pembela terakhir Barat liberal.

Merkel telah salah perhitungan dalam pengambilan kebijakan dan hanya dengan satu periode tambahan ia dapat memperbaiki semuanya. Merkel benar-benar tak punya pilihan selain maju dan menang.

Baca juga artikel terkait KANSELIR JERMAN atau tulisan menarik lainnya Taufiq Nur Shiddiq
(tirto.id - Politik)

Reporter: Taufiq Nur Shiddiq
Penulis: Taufiq Nur Shiddiq
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight