19 Januari 2015

Mereka Bilang Bob Sadino Gila

Ilustrasi Bob Sadino. tirto.id/Gery
Oleh: Joan Aurelia - 19 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Belajar goblok.
Gunakan dengkul biar
nasib tak mogok.
Saya menghabiskan siang bersama Myra Sadino, putri sulung Bob Sadino. Sosok Myra mengingatkan saya pada penampilan nyentrik bapaknya. Kami bersantap di Bob Bistro, yang ada di dalam Kem Chicks Kemang, toko swalayan yang didirikan Bob.

Sepiring chicken wings jadi menu makanan pembuka kami. Sesaat setelah pelayan menaruh piring di atas meja, ingatan Myra tertuju pada tempat kami duduk yang dulu merupakan rumahnya. Waktu itu akhir 1970-an dan Myra tinggal di sebuah rumah yang menyambung dengan toko penjualan telur ayam broiler.

Bob membeli tanah di Kemang pada akhir 1960-an. Lokasi tersebut masih hijau, sepi, dan dekat dengan tempat tinggal anggota keluarga besar Bob. Di kawasan yang telah dihuni sejumlah ekspatriat ini, Bob memutuskan untuk berjualan telur ayam broiler.

Saat itu, telur dari jenis ayam tersebut sulit didapat. Bob meminta bantuan seorang kawan yang menetap di Belanda untuk memberinya sejumlah ayam broiler guna diternakkan.

Setiap pagi, Bob bersama isteri mengantar telur-telur ke sejumlah rumah ekspatriat yang tinggal di Kemang menggunakan sepeda. Jumlah pelanggan dan pesanan terus bertambah. Ketika mobil Datsun masuk ke Indonesia, Bob membeli tipe mobil pick up untuk mengantar telur-telur ayam broiler tersebut ke rumah kliennya.



“Bapak dulu selalu menyebut toko kami sebagai warung,” kata Myra. Warung itu kini telah menjadi salah satu supermarket yang menjual berbagai jenis barang impor harga premium dan jarang ditemui di supermarket lokal. Myra mengeluh sejenak dan berkata bahwa kini barang-barang yang ada sudah tidak seistimewa dulu. Terutama sejak sang ayah meninggal pada 19 Januari 2015, tepat hari ini tiga tahun lalu.

Kami berbincang di deretan kursi yang sama dengan tempat Bob menghabiskan hari-hari selagi masih hidup. Tepat duduk Bob kini tak ubahnya kursi makan biasa bagi pengunjung bistro yang mayoritas orang asing. “Ada yang hilang sejak dia pergi. Tidak ada lagi yang menyapa para tamu. Jiwa tempat ini terasa berbeda,” tutur Myra.

Foto-foto Bob dan sejumlah kata motivasi yang pernah ia ungkapkan dipajang pada berbagai sisi dinding. Rangka-rangka kayu yang jadi langit-langit restoran masih mengingatkan saya pada potret Kem Chicks zaman 1970-an.

Nuansa restoran itu turut menyiratkan kecintaan Bob pada berkuda. Ia tidak melakukan olahraga ini sejak muda. Ketika Santi, puteri keduanya, menekuni profesi sebagai atlet berkuda, Bob lantas mencoba olahraga tersebut. Untuk anaknya, ia mendirikan stable di halaman rumah seluas 2,5 hektar yang terletak di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Setelah Kem Chicks kian membesar, Bob membeli tanah di kawasan Lebak Bulus untuk jadi rumahnya. Di sana ia sempat memelihara delapan kuda. Di waktu luang, Bob mengasah keterampilan menunggang kuda. Ia kerap terjatuh dan terluka. Tapi toh tak membuatnya kapok. Momen jatuh itu terkesan ringan bila dibandingkan dengan hal yang pernah dilaluinya dulu.

Jatuh-Bangun sebagai Pengusaha

Dalam buku Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (2009) karya Edy Zaqeus, tertulis bahwa Bob sempat mengumpulkan puntung-puntung rokok bekas dan menyambungnya kembali agar bisa digunakan. Saat itu sang isteri berkata apabila masih ingin makan nasi di esok hari, jangan membeli rokok. Kejadian ini terjadi sebelum Bob berjualan telur.

Hidup sulit ialah pilihannya. Bob lahir di Lampung pada 1933. Ayahnya seorang guru di sekolah Belanda. Hidup Bob berkecukupan. Setelah lulus SMA, ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Unilever. Bob bosan, kemudian pindah bekerja di perusahaan pelayaran dan ekspedisi Djakarta Llyod. Ia sempat tinggal di Belanda selama sembilan tahun dan kembali ke Indonesia bersama Soelami pada 1967.

“Dari kecil saya hidup berkecukupan. Jenuh banget! Lalu saya memutuskan untuk memiskinkan diri,” kata Bob dalam buku karangan Edy Zaqeus itu.

Bob mencari uang dengan menjadi supir taksi, tapi mobilnya tertabrak. Ia lantas berganti profesi menjadi kuli bangunan. Beberapa waktu berselang, barulah ia terinspirasi berjualan telur.

“Titik berangkat saya adalah mata. Saya lihat ada peluang lalu saya kirim surat kepada teman saya untuk mengirim anak-anak ayam dan majalah-majalah kejuruan tentang beternak ayam,” lanjut Bob dalam buku tersebut.


Saat usaha telur terus berkembang, Bob memperluas bisnis ke ranah tanaman hidroponik. “Bapak lebih senang berkebun. Ia termasuk orang pertama yang memperkenalkan jagung manis, honey dew melon, dan melon hijau,” kata Myra.

Bob pernah membuka bisnis buah yang dikeringkan. Panganan tersebut dijual dan dikemas di Jepang. Lagi-lagi, Myra mengenang saat itu belum ada jenis usaha serupa di Jakarta. Ia masih ingat saat mereka sekeluarga pergi ke Jepang untuk bertemu rekan Bob dalam bisnis ini. “Dulu agenda liburan keluarga dibarengi dengan kunjungan bisnis bapak. Setahu saya dia tidak punya banyak rekan bisnis.”

Perkataan Myra itu tampak serupa dengan ironi yang kerap muncul dalam perkataan Bob. “Saya tidak akan pernah mau dan tidak pernah bekerja keras untuk meraih sukses [...] Saya bisnis tanpa punya rencana dan tujuan.” Itulah yang membuat orang kian penasaran dengan nama Bob yang semakin melambung sebagai seorang pengusaha.

Panggilan-panggilan seminar dari universitas dan perusahaan kerap datang padanya. Ini terjadi sejak 1980-an. Kala itu, Myra sering mendampingi Bob. “Honornya dikasih ke saya. Beliau minta saya untuk mengitung jumlahnya. Saat itu, rasanya grogi.”

Kesempatan bicara di depan mahasiswa digunakan Bob untuk memotivasi mereka agar menjadi pengusaha. Bob prihatin dengan jumlah angka pengangguran dari orang bergelar sarjana. Pria ini merasa ada kekeliruan dalam sistem pendidikan yang menyebabkan munculnya angka pengangguran.

Ia tak segan memaki sistem tersebut. Bob kemudian membandingkan dengan sistem pendidikan di Belanda di mana para mahasiswa diajak untuk turun lapangan dan mempraktikkan teori yang diajarkan.




Bob mencoba mempraktikkan metode tersebut dengan memberi kesempatan pada anggota keluarganya yang masih muda dan tertarik menjadi pengusaha. Ia mendorong mereka bekerja paruh waktu pada salah satu bidang usaha Kem Chiks Group. Kesempatan itu dialami Myra dan Nia, cucu keponakan Bob. Myra menghabiskan waktu libur sekolah dengan bekerja di Kem Bakery. Begitu pula Nia.

“Saya selalu punya keinginan untuk buka usaha di bidang kuliner. Saat bercerita dengan Opa Bob soal keinginan itu, ia memberi saran dan juga kesempatan untuk latihan merasakan dunia usaha dan kerja lewat kerja paruh waktu di Kem Chicks,” tutur Nia.

Bob gemas melihat kaum muda yang sering dilingkupi berbagai ketakutan saat hendak memulai bisnis. Untuk membantu menghilangkan ketakutan-ketakutan itu, Bob biasanya mengeluarkan kata-kata sakti yang kerap dikutip banyak orang: “Semakin takut Anda, semakin terjerumus pula dalam belenggu pemikiran sendiri.”

Kalimat-kalimat yang mampu membesarkan hati itu boleh jadi didengar ratusan orang, tetapi nyaris tidak pernah terdengar di dalam rumah. “Bapak tidak pernah memuji anak-anaknya. Pujian itu saya dengar dari orang lain,” tutur Myra yang telah memberi Bob dua cucu laki-laki.

Di benak Myra, Bob sosok yang keras. Tindakannya sebagai ayah kerap terasa konvensional. Tetapi, Myra patuh terhadap perkatannya. “Sampai saat ini belum ada teman diskusi yang seperti dia. Di mana saya bisa membicarakan segala hal.” Myra terdiam sejenak, matanya nampak berkaca-kaca.

Baca juga artikel terkait PENGUSAHA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight