Merasakan Khidmatnya Misa Paskah dalam Bahasa Latin

Oleh: Widia Primastika - 22 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Lebih banyak hening dalam Misa ini. Doa Syukur Agung pun disampaikan secara berbisik.
tirto.id - Syahdu. Begitu kesan pertama yang saya dapatkan ketika mengikuti Perayaan Ekaristi, Misa Latin tradisional hari raya Paskah di Kapel Biara Fransiskus Misionaris Maria yang terletak di Jalan Palmerah Utara, 21 April 2019.

Tak banyak umat yang hadir, jumlahnya hanya sekitar 100 orang. Misa Paskah di gereja di Jakarta lain bisa dihadiri ribuan umat, misalnya di Gereja Santa Perawan Maria Ratu, Kebayoran baru. Sebagian peserta misa adalah perempuan. Mereka mengenakan mantilla, kerudung brokat yang dipakai umat perempuan ketika Misa.


Lagu Ad Aspersionem Aqua Benedicta mengawal imam dan misdinar masuk ke altar dengan iringan organ dan lonceng, menandai dimulainya Perayaan Ekaristi. Sepanjang Misa, lagu-lagu Gregorian terus dikumandangkan.

Jika pada Misa yang biasa kerap terdengar keriuhan dari pelbagai instrumen musik, dalam Misa ini paduan suara hanya akan diiringi organ. Tak ada dentang lonceng yang meramaikan madah Kemuliaan.

Keheningan inilah yang mendatangkan rasa nyaman pada Agnes Diah. Perempuan berusia 46 tahun ini mulanya menghadiri Misa berbahasa Latin karena penasaran. Lama-lama, ia menemukan kenyamanan dalam berinteraksi dengan Tuhan dalam cara ibadat ini.

“Saya tidak bising ketika harus mengucapkan banyak doa. Saya banyak berdoa pribadi untuk membantu saya lebih berelasi dalam Tuhan dalam sakramen ekaristi,” ungkap Agnes.

Kesunyian memang begitu terasa dalam Misa Tridentin. Apalagi ketika imam menyampaikan Doa Syukur Agung secara berbisik. Menurut beberapa umat yang saya temui, mereka merasa doa yang disampaikan secara berbisik itu lebih mudah diresapi.

Misa Tridentin dan Pelestarian Tradisi

Antonius Adrian Nathaniel, 17 tahun, awalnya mengikuti Misa Tridentine karena ia menyukai bahasa Latin. Sepanjang misa Tridentine, memang hanya homili yang disampaikan menggunakan bahasa Indonesia.

Adrian juga memilih Misa ini karena melihat banyak imam yang melakukan eksperimen dalam tata cara peribadatan. Di sisi lain, ia juga merasa sedih karena Misa Latin Tradisional itu hilang dalam sekejap setelah Konsili Vatikan II, padahal menurutnya dalam Misa tersebut terdapat identitas umat Katolik yang telah dibangun oleh Bapa Gereja.

Misa Latin Tradisional (Tridentin) memang ritual yang telah digunakan selama ribuan tahun. Misa ini merupakan aturan misa yang ditetapkan berdasarkan Konsili Trente pada tahun 1570 dan berakhir setelah Paus Paulus VI mengumumkan Misa Novus Ordo—tata cara misa yang digunakan saat ini—setelah Konsili Vatikan II (digelar 1962-1965).


Dalam konstitusi tentang liturgi, Sacrosantum Concilium nomor 21, yang diumumkan oleh Paus Paulus VI pada 4 Desember 1963, prosesi Misa yang ada saat itu harus disusun ulang agar umat lebih mudah memahami dan turut terlibat sepenuhnya dalam perayaan Misa . Tak heran jika saat ini masih ada kontroversi tentang pelaksanaan Misa Tridentin.

Koordinator Penggiat Misa Forma Ekstraordinaria Jakarta, Joseph Juliantoro, mengakui adanya umat lain yang menentang Misa Tridentin. Padahal, jika menilik dari beberapa dokumen Gereja, ritus itu tidak pernah dihapus.

“Yohanes Paulus II tidak ada amanat untuk hapus. Dia bilang, kalau mau membicarakan misa ini silakan, tapi bicarakan dengan uskup. Jadi tetap dilestarikan, ada kesinambungannya,” tutur Joseph.

Dalam artikel nomor 4 Sacrosantum Concilium, Paus Paulus VI—Paus yang memperkenalkan Novus Ordo—telah menegaskan bahwa semua ritus yang pernah berlaku dalam tradisi Gereja Katolik diakui secara sah dan memiliki hak dan martabat setara, sehingga pengubahan ritus harus memenuhi keadaan dan kebutuhan masa sekarang.

Hal tersebut diperkuat dengan Summorum Pontificum, surat yang dikeluarkan pada 7 Juli 2007 oleh Paus Emeritus Benediktus XVI, yang menyatakan Misa Tridentin tak pernah dibatalkan secara yuridis oleh Takhta Suci Vatikan.

Joseph menjelaskan bahwa kelompoknya berada di bawah bimbingan salah seorang pastor dari Kongregasi Hati Maria Tak Bernoda (Congregatio Immaculata Cordis Mariae atau CICM). Mereka telah melaksanakan misa Tridentin sejak 2008 dan ibadat dengan tata cara tersebut dilakukan dua kali dalam sebulan.


“Homilinya jelas, kemudian ini teks misa juga sudah kita susun sedemikian rupa, sebelah kiri bahasa Latin, kemudian ada bahasa Indonesianya juga. Jadi, orang tetap paham,” kata Joseph.


Infografik Misa Tridentin
undefined


Alasan budaya jugalah yang membuat Falery, 33 tahun, mau turut serta dalam Misa Tridentin. Menurutnya, tata cara peribadatan Tridentin maupun Novus Ordo sama baiknya dan ia mengaku memetik buah lain dari misa tersebut.

“Kalau di Novus Ordo kan kita punya beberapa bagian yang kita bisa melakukan modifikasi. Nah, di Tridentine ini, mereka sudah ada rules-nya, dan lebih banyak silencium (hening) di sini," kata Falery. "[Manfaat] yang kita bawa dari Tidentin, kita ke [Misa] Novus Ordo itu kita semakin menghayati [Perayaan Ekaristi]."

Falery melihat banyaknya pertentangan terhadap Tridentin disebabkan ketidaktahuan. Juga, karena banyak umat yang menganggap penyelenggaraan Misa Tridentin sudah diakhiri. Padahal, baik perayaan Tridentin maupun Novus Ordo memiliki esensi yang sama, yakni Perayaan Ekaristi.

“Kita saling melengkapi,” ujar Falery.

Baca juga artikel terkait PERAYAAN PASKAH atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani