Merapi Terkini: Kubah Lava Stabil & Aktivitas Vulkanik Cukup Tinggi

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 26 November 2018
Dibaca Normal 1 menit
Volume kubah per 22 November 2018 mencapai 308.000 m3 dengan laju sekitar 3.000 m3/hari terhitung dari awal munculnya.
tirto.id - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut kondisi kubah lava di Gunung Merapi saat ini masih stabil dan berada tepat di tengah kawah. Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Senin (26/11/2018), volume kubah per 22 November 2018 mencapai 308.000 m3 dengan laju sekitar 3.000 m3/hari terhitung dari awal munculnya. Merapi memasuki fase erupsi magmatis pada 11 Agustus 2018 ditandai dengan munculnya kubah lava.

Hal ini menunjukkan erupsi 2018 ini bersifat efusif dan sesuai dengan skenario yang disampaikan aktivitas setelah letusan 2010 akan cenderung mengikuti kronologi aktivitas usai 1872. Setelah letusan 1872 kubah lava baru muncul pada 1883 atau 11 tahun kemudian. Sedangkan setelah 2010 kubah lava baru muncul pada tahun ini atau 8 tahun kemudian.

PVMBG menyatakan, dalam fase erupsi efusif ini maka pemantauan visual perkembangan kubah lava dan kestabilan lereng menjadi aspek pemantauan yang krusial dan prioritas.

"Seiring dengan pertumbuhan kubah lava guguran lava mulai terjadi pada tanggal 22 Agustus 2018 yang dominan mengarah ke barat laut dalam area kawah. Material kubah lava 2018 saat ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah termasuk pada arah bukaan kawah," ujar Kepala PVMBG, Kasbani.

Hal ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada tanggal 23 November 2018 dimana teramati 4 kali guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu Kali Gendol. Jarak luncur terjauh sebesar 300 meter terjadi pada pukul 19.05 WIB.

Data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma. Berdasarkan laporan mingguan 16-22 November tercatat kegempaan Gunung Merapi 28 kali gempa Hembusan (DG), 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2 kali gempa Fase Banyak (MP), 261 kali gempa Guguran (RF), dan 21 kali gempa Low Frekuensi (LF).


"Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava. Untuk saat ini intensitas guguran masih rendah dengan potensi material yang juga masih kecil sehingga belum membahayakan penduduk," tutur Kasbani.

Berdasarkan pemodelan jika sebagian besar volume material kubah lava saat ini runtuh, maka awan panas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh 2,2 km (< 3 km). Perhitungan ini berdasarkan asumsi kondisi kubah lava tidak stabil.

"Aktivitas guguran lava pada erupsi-erupsi efusif sebelumnya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitar Gunung Merapi terutama pada malam hari," ujar Kasbani.

PVMBG berharap aktivitas guguran lava pijar 2018 ini selain dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat juga dapat menimbulkan kesadaran dan semangat kebersamaan dalam mengantisipasi bahaya Gunung Merapi.

PVMBG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Masyarakat di Kawasan Rawan Bencana III diimbau untuk terus mengikuti informasi pertumbuhan kubah dan guguran lava.

Masyarakat diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava di luar jarak bahaya yang telah ditetapkan yaitu >3 kilometer dari puncak.


Baca juga artikel terkait STATUS GUNUNG MERAPI atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight