Menuju konten utama

Menperin Ingin PMI Manufaktur 2022 Lebih Tinggi Dibanding 2021

Menperin Agus Gumiwang menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada 2022, lebih tinggi daripada 2021.

Menperin Ingin PMI Manufaktur 2022 Lebih Tinggi Dibanding 2021
Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT. Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

tirto.id - Aktivitas sektor industri manufaktur di tanah air masih cukup menggeliat hingga tutup tahun 2021, sejalan dengan meningkatnya produksi dan permintaan pasar ekspor.

Hal ini tercemin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Desember sebesar 53,5 atau masih di atas level ekspansif yaitu 50, berdasarkan hasil survei IHS Markit.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah tetap akan menjalankan berbagai kebijakan strategis untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Salah satunya dengan memacu hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Upaya ini dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, di antaranya pembukaan lapangan kerja dan penerimaan devisa dari ekspor, yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.

“Sesuai yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo, ekonomi nasional mulai pulih dan kuat kembali. Hal ini ditandai dengan neraca dagang kita yang surplus US$34,4 miliar, dan kondisi surplus tersebut dapat dipertahankan selama 19 bulan. Ekspor kita juga naik secara y-on-y hingga 49,7 persen,” kata Agus, Senin (3/1/2022).

Agus menyebutkan, selama ini sektor industri manufaktur memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Pada Januari-November 2021, nilai ekspor dari industri manufaktur mencapai US$160 miliar atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional. Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang 2020 sebesar Rp131 miliar, dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor pada 2019.

Jika dibandingkan dengan Januari-November 2020, kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36 persen. Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak dari Mei 2020.

“Kenapa ekspor kita bisa naik setinggi itu? Salah satunya karena kita berani untuk menghentikan ekspor raw material, seperti bahan mentah dari minerba, yaitu nikel. Dari awalnya, ekspor sekitar US$1-2 miliar, kini sudah hampir mencapai US$21 miliar. Oleh sebab itu, Bapak Presiden telah memberikan arahan untuk melanjutkan setop ekspor bauksit, tembaga, timah, dan lainnya, karena hilirisasi menjadi kunci dalam kenaikan ekspor kita,” papar dia.

Sementara itu, impor untuk bahan baku dan bahan penolong juga naik sebesar 52,6 persen. Bahan baku dan bahan penolong ini sebagai kebutuhan untuk diolah oleh industri di dalam negeri sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Menurut Agus indikator pulihnya perekonomian nasional, juga ditunjukkan dari peringkat daya saing Indonesia yang terus meningkat, baik itu dari aspek bisnis maupun digital.

“Dalam posisi yang sangat berat pada tahun 2021 karena dampak pandemi, kita masih mampu naik ranking. Di aspek bisnis dan digital, naik tiga peringkat semuanya,” jelas dia.

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, Agus menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada 2022.

Apalagi, PMI Manufaktur Indonesia pada Desember 2021 melampaui PMI Manufaktur negara-negara ASEAN seperti Thailand sebesar 50,6, Filipina sebesar 51,8, Vietnam sebesar 52,2, dan Malaysia sebesar 52,8.

Bahkan juga mampu unggul terhadap PMI Manufaktur Korea Selatan sebesar 51,9, Rusia sebesar 51,6, dan Cina sebesar 49,9.

“Kami fokus untuk terus membangun sektor industri manufaktur yang berdaulat, mandiri, berdaya saing, dan inklusif,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MANUFAKTUR atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Bisnis
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Bayu Septianto