Menkeu Sebut APBN Bisa Berdarah-darah Akibat Kebijakan Populis

Oleh: Hendra Friana - 19 Februari 2019
Menkeu mengklaim saat ini APBN Indonesia sehat, meski berada pada tahun politik.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut ada banyak negara yang anggaran pendapatan dan belanja negaranya (APBN) mengalami tekanan saat pemilu.

Padahal, kata dia, perekonomian negara-negara tersebut dalam kondisi sehat dan tahan terhadap tekanan eksternal.

Sebabnya, menurut Sri, berupa keputusan negara tersebut untuk mengambil kebijakan-kebijakan populis yang agar dapat memenangkan pemilihan.


Tidak terjadinya kondisi tersebut di Indonesia, menurut Sri Mulyani, lantaran pemerintah menghindari kebijakan-kebijakan populis dalam perancanaan anggaran.

"Banyak juga ekonomi negara lain menjelang pemilu kuat tapi APBN-nya berdarah-darah karena populis banget. Tapi kita dalam situasi di mana APBN-nya sehat, ekonominya kuat dan menjelang pemilu," ujar dia di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Selasa (19/3/2019).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga mengklaim, perekonomian Indonesia saat ini cukup stabil dan akan menunjukkan penguatan meski memasuki tahun politik.

Pemerintah, kata dia, tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam APBN 2019 sebesar 5,3 persen atau meningkat sebesar 5,17 persen dari capaian 2018.

Di samping itu, defisit APBN ditargetkan tetap ditekan semakin rendah dari target 2018 sebesar 2,5 persen menjadi 1,84 persen pada 2019.

Meski tak menyebutkan secara rinci angka-angka yang menunjukkan penguatan ekonomi, ia menambahkan, kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan perekonomian Cina dan India yang justru mengalami pelemahan.

"Cina ekonominya melemah, India menjelang pemilu ekonominya juga rada melemah. Sebenarnya untuk Indonesia hanya dua bulan dari pemilu dan ekonominya makin menguat itu agak exceptional [luar biasa] sih," ucap dia.


Baca juga artikel terkait APBN atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Zakki Amali