Menuju konten utama

Menjalani Hidup Biasa-Biasa Saja di Bawah Tanah

Sebagian spesies manusia tinggal di bawah tanah dan tidak merasa masalah (setidaknya demikian pengakuan mereka).

Menjalani Hidup Biasa-Biasa Saja di Bawah Tanah
Warga menunggu di stasiun kereta bawah tanah Alexanderplatz saat terjadi badai di Berlin, Jerman, Kamis (5/10). ANTARA FOTO/REUTERS/Hannibal Hanschke

tirto.id - "Kalau hujan, airnya masuk lewat pintu. Kalau ada kendaraan lewat, berisik, ruangan jadi bergetar," tutur Jojo ketika saya tanya bagaimana rasanya tinggal di indekos bawah tanah. Saya ingat sensasi pengap yang menyergap pada kunjungan pertama sekaligus terakhir ke indekos dia. "Tidak ada sinar matahari, jadi lembap."

Itu sudah bertahun-tahun lalu ketika ia masih menjalani perkuliahan di rantau. Kini kawan sebangku saya di SMA itu sudah kembali ke kampung halaman, berkeluarga, mendapatkan pekerjaan yang cukup layak, dan memiliki rumah di atas tanah.

Saya sempat menerka mengapa ia memilih tinggal di bawah tanah. Misalnya karena alasan standar seperti ekonomi (lebih murah) atau urusan yang tak kentara semacam "demi mendapatkan ketenteraman jiwa". Namun Jojo memberikan jawaban yang lebih sederhana, yang sesuai preferensinya: "karena itu doang kamar yang besar."

Seingat saya ukuran ruangannya memang lebih besar dari indekos saya yang ada di atas tanah. Ia pun jauh lebih lega ketimbang ruang persembunyian Saddam Hussein yang ramai dijadikan meme, juga rumah (atau ruangan) bawah tanah yang didiami paling tidak satu juta orang Beijing.

Pengalaman rat tribe, demikian orang-orang Cina yang mendiami bawah tanah itu dijuluki, yang membuat saya menduga keputusan Jojo terkait dengan alasan ekonomi. Mereka terdesak di ibu kota yang kian sesak dan memilih berdiam di ruangan-ruangan peninggalan Perang Dingin demi berhemat meski tidak ada sinar matahari, tidak tahu waktu, pengap, lembap, dan memicu klaustrofobia.

Di masa lampau, orang-orang membuat liang di bawah tanah sebagai tempat penyimpanan dan berlindung manakala terjadi perang di permukaan. Zaman berubah dan alasan pun berganti. Saat ini orang-orang tinggal di bawah tanah demi ruangan yang lebih luas, lebih sering lagi karena biaya sewa yang lebih rendah.

Berdamai dengan Kehidupan Bawah Tanah

"Aku tidak merasa ini situasi yang menyedihkan. Aku punya kamar, tempat tidur, dan begitu berbaring di bawah selimut, apa bedanya aku dengan orang lain?" kata Li Yang, salah satu penghuni Dixia Cheng, kota bawah tanah Beijing, kepada Aljazeera.

Namun toh biaya sewa tempat tinggal di permukaan Beijing memang bisa mencapai dua kali lipat harga ruangan bawah tanah. Tak heran ada yang selamanya berniat menjadi warga underground, tetapi sebagian besar melakukan ini untuk sementara—demi menyimpan uang lebih banyak dan menyongsong hidup lebih layak di tempat yang lebih alami untuk ditinggali; di atas tanah.

Will Hunt, penulis buku Underground: A Human History of the Worlds Beneath Our Feet, mengatakan "hal yang penting untuk diketahui tentang bawah tanah adalah bahwa kita tidak pantas berada di sana," sebab "secara biologis, fisiologis, tubuh kita tidak dirancang untuk kehidupan di bawah tanah."

Namun didesain untuk tinggal di bawah tanah maupun tidak, tubuh manusia pada akhirnya beradaptasi. Manusia selalu bisa menyesuaikan diri, seperti kata Eun He Lee, asisten profesor psikologi di Universitas Nottingham Malaysia. "Orang bisa jadi merasa terisolasi dari rekan-rekan mereka di permukaan dan mereka mungkin merasa kurang memegang kontrol, tetapi perasaan ini dapat dikelola."

Pernyataan warga bawah tanah Beijing lain, Zhang Xinwen, memberikan afirmasi. Ia mengaku selama berada di bawah tanah dapat merangkul hidup tanpa sinar matahari. "Berada di ruang kecil sendirian membuat seseorang menjadi tenang. Ini adalah ruang di mana tidak ada yang mengganggu Anda," katanya.

Beberapa orang di Beijing underground juga mengaitkan tempat tinggal mereka dengan ketenangan dan kedamaian, meski itu sangat mungkin ditujukan demi menghibur diri. "Jika orang-orang yang tinggal di basement adalah 'tikus'," ujar Guo Xiaolong, "maka aku ini rajanya tikus!"

Sikap yang tepat belaka untuk menjalani hari-hari tanpa matahari.

Menghadirkan Siang

Dalam kisah sci-fi/distopia karya Jeanne DuPrau yang telah diadaptasi ke dalam film City of Ember (2008), kota bawah tanah dibangun menyerupai kota-kota di permukaan. Bangunannya bertingkat dan beratap. Berdiri pula lampu jalan, rumah kaca, hingga alun-alun. Lain lagi dengan gim video simulasi Fallout Shelter. Di dunia pasca-apokalips itu, para pemain bisa mendekorasi ruangan-ruangan bawah tanah dengan tema yang mengingatkan pada kehidupan yang lampau di atas tanah.

Kehidupan bawah tanah dalam kisah-kisah budaya populer menunjukkan bagaimana manusia bawah tanah berusaha mengenyahkan kehidupan underground yang terkesan muram. Mereka tetap ingin terhubung dengan kehidupan di permukaan—kendati sudah tak memungkinkan.

Menurut Eun He Lee, berada di bawah tanah belum terbukti menimbulkan efek psikologis negatif selama pencahayaan, ukuran ruangan, tinggi langit-langit dan atribut fisik lain dalam ruangan konsisten dengan di atas tanah. Untuk itu ia memunculkan ide teknologi lightwell yang dipadukan dengan cat reflektif (yang memantulkan cahaya). Ada pun urban planner Antonia Cornaro yang mengajukan penggunaan serat optik untuk menghadirkan cahaya ke bawah tanah.

Infografik Tetap Menjadi Manusia di Bawah Tanah

Infografik Tetap Menjadi Manusia di Bawah Tanah. tirto.id/Quita

Inovasi-inovasi ini tak lain demi memudahkan para manusia bawah tanah melawan depresi yang bisa timbul akibat minimnya sinar matahari. Membuat mereka tetap menjadi manusia.

Namun untuk perkara tetap menjadi manusia yang membutuhkan cahaya dan hiburan, lebih dari 200 imigran ilegal di 'kota bawah tanah' tepat di bawah sebuah pasar di Moskow melangkah ke level selanjutnya. Mereka membawa apa-apa yang tak terpikir ada di bawah tanah. Saat penggerebekan, polisi menemukan sebuah kafe ala Turki, ruang poker, bahkan bioskop berkapasitas 35 kursi.

Dalam konteks legal, kota-kota seperti Helsinki dan Singapura menjadi yang terdepan dalam memperluas jangkauan ke dalam bumi. Di belahan bumi lain, Mexico City tengah menyiapkan proyek ambisius Earthscraper. Dibangun di bawah alun-alun ibu kota, ia diperkirakan bakal menjadi kota bawah tanah terbesar di dunia yang sanggup menampung hingga 100 ribu orang. Menembus kedalaman hingga 300 meter, ia juga dilengkapi dengan hiburan yang lebih dari sekadar ruang poker atau kafe Turki, dengan museum dan galeri seni yang siap dibangun nun jauh di kedalaman.

Selama kota-kota itu mampu meminimalkan perbedaan dengan keadaan di permukaan, sepertinya tidak terlalu jadi masalah. Toh manusia juga selalu menyesuaikan. Manusia siap tinggal di bawah tanah.

Baca juga artikel terkait PERMUKIMAN atau tulisan lainnya dari R. A. Benjamin

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino