Menjadi Kelas Menengah bersama Haruki Murakami
Haruki Murakami tidak akan pernah mengecewakan jiwa-jiwa kelas menengah yang haus di seluruh penjuru dunia. Buktinya, buku-bukunya laris bak kacang rebus sampai ke pelosok-pelosok Afrika.
tirto.id - Banyak cara untuk menjadi bagian dari kelas menengah. Tapi tidak setiap cara merangkum semua. Jika harus ada satu cara mendasar agar memiliki cara berpikir kelas menengah yang kemudian berlanjut pada laku, maka itu adalah dengan menjadi Harukis Garis Keras. Semua yang harus Anda lakukan adalah membaca karya-karya Haruki Murakami.
Ingat, menjadi kelas menengah bukan semata perkara penghasilan, melainkan juga cara berpikir.
Kalau Anda merasa masih jauh tertinggal dari sobat-sobat kelas menengah Anda, belum membaca satu pun karangan penulis Jepang itu, langkah pertama yang harus Anda tempuh adalah menuju Kinokuniya dan belilah buku-buku Haruki.
Di toko buku itu Anda akan melihat remaja puteri tanggung mengenakan celana gemes, namun ia terkesan elegan dan terpelajar. Jika Anda menemuinya di jalan raya, atau berpapasan di bagian lain mal itu, tentu dengan segera Anda menyebutnya sebagai cabe-cabean. Tapi remaja ini berbeda, semacam ada perasaan berdosa jika Anda melabelinya rawit atau ceplik atau gendot atau cengek domba.
Itulah pesona dunia kelas menengah. Anda tidak tahu pasti apa perbedaannya, tapi Anda merasa ada aura anggun yang menaungi remaja puteri bercelana gemes dan sedang memilah-milih buku itu, yang sama sekali tidak dimiliki sebangsanya yang bertaburan di jalanan. Perbedaannya memang abstrak, sulit dilukiskan, tapi Anda bisa merasakannya.
Di sana Anda juga akan bertemu pasangan muda yang penampilannya seperti pangeran dan tuan puteri negeri dongeng, ada juga tante-tante gembira yang fasih geol kanan balas kiri, tapi Anda harus tetap kalem dan bersikap sewajarnya, tirulah eksekutif muda berkaca mata dan berpakaian resmi yang terlihat khusyuk meraba-raba buku di rak biografi itu.
Ingat tujuan utama Anda, membeli buku-buku Haruki Murakami. Dan Anda tidak akan kesulitan menemukannya, karena buku tersebut dipajang di rak paling depan. Begitu melihat harganya, ya, mungkin Anda akan segera mengumpat: "Gila! Buku kok mahal amat!"
Ingat, menjadi kelas menengah bukan semata perkara penghasilan, melainkan juga cara berpikir.
Kalau Anda merasa masih jauh tertinggal dari sobat-sobat kelas menengah Anda, belum membaca satu pun karangan penulis Jepang itu, langkah pertama yang harus Anda tempuh adalah menuju Kinokuniya dan belilah buku-buku Haruki.
Di toko buku itu Anda akan melihat remaja puteri tanggung mengenakan celana gemes, namun ia terkesan elegan dan terpelajar. Jika Anda menemuinya di jalan raya, atau berpapasan di bagian lain mal itu, tentu dengan segera Anda menyebutnya sebagai cabe-cabean. Tapi remaja ini berbeda, semacam ada perasaan berdosa jika Anda melabelinya rawit atau ceplik atau gendot atau cengek domba.
Itulah pesona dunia kelas menengah. Anda tidak tahu pasti apa perbedaannya, tapi Anda merasa ada aura anggun yang menaungi remaja puteri bercelana gemes dan sedang memilah-milih buku itu, yang sama sekali tidak dimiliki sebangsanya yang bertaburan di jalanan. Perbedaannya memang abstrak, sulit dilukiskan, tapi Anda bisa merasakannya.
Di sana Anda juga akan bertemu pasangan muda yang penampilannya seperti pangeran dan tuan puteri negeri dongeng, ada juga tante-tante gembira yang fasih geol kanan balas kiri, tapi Anda harus tetap kalem dan bersikap sewajarnya, tirulah eksekutif muda berkaca mata dan berpakaian resmi yang terlihat khusyuk meraba-raba buku di rak biografi itu.
Ingat tujuan utama Anda, membeli buku-buku Haruki Murakami. Dan Anda tidak akan kesulitan menemukannya, karena buku tersebut dipajang di rak paling depan. Begitu melihat harganya, ya, mungkin Anda akan segera mengumpat: "Gila! Buku kok mahal amat!"
1 dari 2
Selanjutnya
Baca juga
artikel terkait
HARUKI MURAKAMI
atau
tulisan menarik lainnya
Arlian Buana
(tirto.id - Humaniora)
Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

