Menuju konten utama

Menilik Manfaat Gas Metana bagi Warga Sekitar TPAS Manggar

Sebanyak 29 UMKM di sekitar TPAS Manggar juga menikmati hasil Program Wasteco yang bekerja sama dengan PT Pertamina Hulu Mahakam.

Menilik Manfaat Gas Metana bagi Warga Sekitar TPAS Manggar
Pengawas TPAS Manggar, Suyono, dan Head Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Mahakam, Frans Alexander A Hukom, saat menjelaskan soal program Wasteco di TPAS Manggar, Balikpapan, Rabu (13/7/2025). tirto.id/Umay
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebanyak 380 rumah tangga sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, hanya memerlukan uang Rp10 ribu per bulan, untuk mendapatkan gas yang digunakan untuk memasak.

Bukan karena diskon gas LPG, melainkan, karena sejumlah rumah tangga tersebut, menjadi penerima manfaat dari Program Wasteco di TPAS Manggar. Program ini mengubah sampah menjadi gas methane atau gas metana.

"Untuk setiap rumah warga Rp10 ribu, untuk usaha Rp25 ribu per bulan," kata Pengawas TPAS Manggar, Suyono, kepada wartawan di area TPAS Manggar, Balikpapan, Rabu (13/7/2025).

Area TPAS Manggar

Area TPAS Manggar. tirto.id/Umay

Yono mengatakan setiap rumah biasanya menggunakan empat tabung gas LPG 3kg setiap bulannya, dengan harga Rp45.000 per tabung. Namun, dengan adanya pemanfaatan gas metana ini, setiap rumah hanya mengeluarkan Rp10 ribu per bulan, dan mempersiapkan kompor untuk dimodifikasi.

Yono menjelaskan gas metana ini dihasilkan dari sampah organik yang ditimbun dengan tanah, yang dipasangi pipa-pipa besar untuk mengalirkan gas metana. Kemudian, dari pipa tersebut disambungkan ke pipa-pipa kecil untuk didistribusikan kepada masyarakat sekitar.

Kepala UPTD TPAS Manggar, Mochamad Haryanto, menjelaskan, dari total luas TPAS Manggar yaitu 40 hektar, seluas 17 hektar digunakan sebagai area penimbunan sampah. Dia juga mengatakan, dengan dimanfaatkannya gas metana dari sampah organik ini, dapat mengurangi bau di sekitar TPAS.

Berdasarkan pemantauan Tirto di TPAS Manggar, memang tidak terdapat bau yang terlalu menyengat di area TPAS ini. Meski bau tetap ada, namun bau tersebut tidak separah bau sampah di TPA lainnya.

Kata Haryanto, TPAS ini telah resmi berfungsi sejak 2012. Sejak itu juga, sampah-sampah organik di sana, dialirkan gas metananya. Namun, saat itu belum berjalan maksimal.

Haryanto menjelaskan di area TPAS Manggar ini, terbagi menjadi tiga zona penimbunan sampah yaitu zona 5 dan 6 yang telah aktif dan zona 7 yang menjadi zona terbaru.

Kata Haryanto, zona 7 ini juga akan segera aktif untuk menghasilkan gas metana yang dapat didistribusikan kepada masyarakat. Dia menyebut, jika zona ini telah benar-benar aktif, maka gas yang dihasilkan akan semakin melimpah dan manfaat dapat diperluas.

"Ya jadi zona 5 ini luasnya sekitar 2,5 hektar ini zona 6 yang saat ini masih aktif itu sekitar 3,25 hektar dan zona 7 yang masih kosong ini sekitar 3,25 hektar," kata Haryanto.

Ketiga zona ini, kata Haryanto, juga dibangun atas bantuan yang diberikan oleh Kementerian PUPR pada 2018 silam.

Area TPAS Manggar

Area TPAS Manggar. tirto.id/Umay

Dia juga menjelaskan, bagaimana gas metana dapat dialirkan. Katanya, proses ini dimulai dengan menggali lubang raksasa yang kemudian dilapisi geomembran kedap air. Lalu, di atas lapisan geomembran tersebut dipasangi pipa-pipa besar secara vertikal. Pipa tersebut juga memiliki lubang-lubang di bagian sampingnya.

Kata Haryanto, sampah akan terus dimasukkan ke dalam lobang raksasa yang telah dipasangi pipa-pipa tersebut. Kemudian, ketika pipa akan tenggelam oleh sampah, akan dipasangi pipa penghubung yang akan dijadikan sebagai sumur gas.

Haryanto menyebut, pada 2018, PT Pertamina Hulu Mahakam, bergabung dengan program ini, dan memberikan banyak bantuan edukasi dan teknologi untuk meningkatkan potensi dari program ini.

Head Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Mahakam, Frans Alexander A Hukom, mengatakan Pertamina memberikan beberapa tambahan pada program ini yaitu edukasi bank sampah, kepala sumur gas, meter pengukur, separator, pipa ventilasi, flaring dan lain-lain.

Dengan adanya pemaksimalan ini, kata Frans, sebanyak 380 rumah yang tersebar dalam 4 RT, telah menggunakan gas metana melalui pipa sambungan sepanjang 8.316 meter. Serta 113 rumah tangga telah mampu memilah sampah.

Bukan hanya itu, 29 UMKM juga turut menikmati hasil dari program ini, dengan hanya membayar Rp25 ribu saja. Uang yang dikumpulkan dari para pengguna, akan digunakan sebagai biaya perbaikan dan perawatan, serta untuk membantu warga yang tengah mengalami kesulitan.

Bahkan, terdapat Kelompok UMKM Berkas Gas Methane, yang memanfaatkan gas metana ini untuk memproduksi produk-produk yang dapat diperjualbelikan. Kelompok ini juga dilakukan dengan memberdayakan perempuan terutama ibu rumah tangga agar dapat menambah penghasilan.

Terlebih, Frans juga mengatakan, Wasteco ini, telah membantu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebanyak 100.651,70 CO2eq/tahun, pemanfaatan gas metana oleh warga dan TPAS 820.800 m³ per tahun, penghematan biaya memasak keluarga Rp456 juta/tahun, pengurangan penggunaan gas LPG 3kg 18.240 tabung/tahun.

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto