Mengukur Dampak Banjir Jabodetabek Awal Tahun Baru 2020

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 2 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Banjir Jabodetabek pada 1 Januari 2020 memakan banyak korban, melumpuhkan listrik dan lalu lintas, serta diprediksi menurunkan omzet pedagang dan pengusaha.
tirto.id - Hanya beberapa jam usai gegap gempita malam pergantian tahun, kawasan Jabodetabek dan sekitarnya dilanda banjir, sejak Rabu (1/1/2020) pagi.

Sebagaimana info yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ketinggian genangan air bervariasi, mulai dari 30 sentimeter sampai yang tertinggi 2,5 meter.

Di Bekasi misal, berdasarkan pantauan Tirto banjir sempat melanda kawasan perumahan Puri Gading, Jatiwarna, Bekasi pada Rabu, 1 Januari 2020. Banjir menggenang hingga setinggi lutut orang dewasa di sepanjang jalan utama perumahan akibat jebolnya tanggul.

Derasnya hujan yang turun sejak Selasa, 31 Januari 2019 siang membuat sungai yang mengalir di sekitar kompleks perumahan tak lagi mampu menampung air. Hal itu mengakibatkan aktivitas warga kompleks dan sekitar perumahan lumpuh. Banjir baru surut sekitar pukul 14.00 siang.

Secara keseluruhan, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi (Kapusdatinkom) BNPB, Agus Wibowo menyebut setidaknya ada 169 titik banjir di seluruh wilayah Jabodetabek dan Banten. Titik banjir terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat yakni 97 titik, DKI Jakarta 63 titik dan Banten 9 titik. Kedalaman banjir tertinggi sebesar 2,5 m terjadi di Perum Beta Lestari, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi.

“Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah yang paling terdampak banjir adalah Kota Bekasi (53), Jakarta Selatan (39), Kabupaten Bekasi (32), dan Jakarta Timur (13),” sambung Agus dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto.

Puluhan Ribu Pengungsi, Belasan Meninggal

Berbagai upaya evakuasi dilakukan BNPB, SAR, seluruh Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kota (Pemkot). Uluran bantuan juga datang dari warga dan berbagai pihak lain.

Di Tangerang, Pemkot menyediakan 22 posko kesehatan dengan 176 tenaga medis siaga untuk membantu pengungsi.

Sedangkan di Jakarta terdapat ratusan titik pengungsian. Data terbaru Rabu (1/1/2020) malam mencatat setidaknya ada 31.232 warga mengungsi. 1.515 pengungsi tersebar di 23 posko di Jakarta Utara, sedangkan di Jakarta Barat terdapat 10.686 orang menempati 97 titik posko.

Di antara kawasan ibu kota lain, jumlah pengungsi terbanyak berasal dari Jakarta Timur dengan total 13.516 orang yang tersebar di 99 titik. Sementara pengungsi paling sedikit berasal dari Jakarta Selatan 5.305 orang yang tersebar di 48 lokasi.

"Bantuan kebutuhan dasar secara bertahap kami kirimkan ke wilayah terdampak, sekaligus juga mengaktifkan dapur umum lapangan dan menyiagakan personel Tagana untuk membantu evakuasi warga," tutur Menteri Sosial Juliari P. Batubara di Jakarta dalam siaran keterangan tertulisnya.

Meski upaya evakuasi sudah cukup masif dilakukan tidak menjamin banjir kali ini bebas dari korban jiwa.

Menurut rekapitulasi BNPB per Kamis (2/1/2020) pagi, korban meninggal yang telah teridentifikasi ada 16 orang. Rincian korban meninggal versi BMKG ini mencakup delapan orang dari DKI Jakarta, tiga dari Kota Depok, serta masing-masing satu orang dari Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan.

“Saat ini BNPB masih terus melakukan pendataan dari berbagai sumber dan kemungkinan jumlah korban bisa bertambah,” ujar Agus Wibowo.

Kendala Listrik dan Transportasi

Banyaknya titik terdampak banjir mengakibatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) memadamkan listrik sementara di beberapa wilayah. Dari 23.700 gardu distribusi yang ada di kawasan Jabodetabek, 3.311 di antaranya dipadamkan.

Sekitar pukul 19.00 WIB hingga Kamis (2/1/2020) dini hari, secara bertahap beberapa gardu memang mulai kembali diaktifkan. Namun, hingga pagi ini masih ada beberapa titik yang mengalami pemadaman listrik.

Beberapa gardu yang sudah mulai dinyalakan yakni Bintaro, Ciputat, Ciracas, Kebun Jeruk, Kramat Djati, Marunda, Pondok Gede, dan sebagian Pondok Kopi dan Menteng. Sebaliknya karena tingginya genangan air, beberapa wilayah terpaksa masih dipadamkan seperti di wilayah Bandengan, Bulungan, Cempaka Putih, Cengkareng dan Lenteng Agung.

"PLN mohon maaf untuk pemadaman sementara yang dilakukan, kami amankan listriknya sampai benar-benar siap untuk dinyalakan agar masyarakat terhindar dari sengatan listrik,karena keselamatan warga adalah yang utama" ungkap Executive Vice President Corporate Communication dan CSR PLN, I Made Suprateka.

Tak hanya pasokan listrik, transportasi umum juga terkendala akibat banjir. Hingga Kamis (2/1/2020) sejumlah rute Transjakarta belum bisa beroperasi. Salah satunya adalah koriodor Harmoni-Kalideres lantaran masih adanya genangan tinggi di sekitar Jembatan baru dan Dispenda.

Di beberapa titik rute layanan Transjakarta juga diperpendek, seperti rute Kampung Melayu-Ancol. Pelayanan diperpendek dari Kampung Melayu sampai dengan halte Senen. Kemudian untuk Koridor 8 Harmoni-Lebak Bulus, layanan diperpendek dari Lebak Bulus sampai dengan Halte Assidiqiyah saja.

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta, Nadia Diposanjoyo juga menyebut pengalihan diberlakukan di beberapa koridor.

“Untuk koridor yang berjalan normal adalah Blok M-Kota, Pulogadung-Dukuh Atas, Ragunan-Dukuh Atas, Kampung Rambutan-Kampung Melayu, Tanjung Priok-Pluit dan Ciledug- Tendean. Untuk Koridor Non-BRT dan Mikrotrans akan kami update selanjutnya,” tukas Nadya.

Lain Transjakarta, lain pula KRL Commuter Line. PT KAI mulai membuka sebagian besar rute perjalanan, namun ada sejumlah penyesuaian. Mulai dari pembatasan kecepatan armada hingga penyempitan rute. Rute yang dibatasi yakni rute Bogor-Jatinegara (hanya berhenti di Stasiun Angke). Sementara rute Kampung Bandan-Kemayoran, menurut keterangan PT KAI, hingga kini belum bisa dilintasi armada.

Keterbatasan akses Transjakarta dan KRL diprediksi bakal memperbanyak jumlah pengguna kendaraan pribadi. Untuk mengantisipasi situasi ini, Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI memutuskan meniadakan aturan ganjil-genap selama Kamis (2/1/2020).

“Hari Kamis enggak ada ganjil-genap, tapi Jumat bisa jadi sudah ada kalau kondisi kondusif,” ujar Gubernur DKI Anies Baswedan dalam keterangan resminya.


Dampak Ekonomi

Belum ada laporan resmi mengenai kerugian ekonomi yang dialami masyarakat, khususnya pengusaha akibat banjir Jabodetabek. Namun, fakta bahwa momen banjir kali ini bertepatan dengan pergantian tahun bikin banyak pihak sudah terang-terangan mengutarakan kekecewaan.

“Terlepas curah hujan yang tinggi, banjir ini indikasi sistem drainase Jakarta buruk, tak bisa menampung luapan air hujan. Ini perlu segera diatasi dengan profesional,” ujar pengusaha Sutjipto Joe Angga, seperti dilansir Antara.

Sikap Angga wajar belaka, sebab banjir sudah barang pasti bikin banyak pertokoan dan UKM tak bisa beroperasi sebagaimana mestinya dan industri pariwisata mengalami kelumpuhan.

“Hari libur tahun baru seperti ini biasanya omzet restoran, kafe, pusat perbelanjaan termasuk UKM-UKM di tempat tujuan wisata biasanya naik, namun dengan banjir ini praktis omzet menurun,” ujar Wakil Ketua Kadin Jakarta, Sarman Situmorang.

“Kalau kita bicara berapa jumlah kerugian,tentu masih sulit memprediksinya yang pasti omzet anjlok dari yang diharapkan,” sambungnya.

Sarman, mewakili kalangan pengusaha dan pedagang, hanya bisa berharap Pemprov dan Pemkot Jabodetabek lebih tanggap mengantisipasi banjir. Langkah ini, menurutnya, juga harus ditopang oleh dukungan yang kuat dari Pemerintah Pusat.

“Karena permasalahan banjir ini tidak bisa diselesaikan oleh Pemprov DKI Jakarta sendiri,” tukasnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR JAKARTA 2020 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Maya Saputri
DarkLight