Menuju konten utama

Menguji Klaim-Klaim tentang Marquee Player

PT Liga Indonesia Baru mengklaim aturan marquee player, salah satunya, buat menaikkan jumlah penonton. Klaim ini, sayangnya, gampang terbantahkan.

Menguji Klaim-Klaim tentang Marquee Player
Pemain Persib Michael Essien (kanan). ANTARA FOTO

tirto.id - Klub-klub peserta Liga 1 mulai latah mengikuti jejak Persib Bandung yang merekrut pemain berstatus marquee player. Sampai tulisan ini dimuat, 15 dari total 18 klub Liga 1 mengklaim menggunakan jasa marquee player. Hanya Persegres Gresik, Persipura Jayapura, dan Perseru Serui yang tidak memakainya.

Polemik penggunaan marquee player bermula pada 29 Januari lalu saat Ketua PSSI Eddy Rahmayadi, yang juga Panglima Kostrad, melegalkan aturan penggunaan marquee player di ajang Liga 1 2017.

Dengan aturan baru, otomatis pemain berstatus marquee player tak akan terikat dalam aturan perekrutan pemain asing, 2 non-Asia +1 Asia. Itu artinya, klub bisa menambah pemain asing lagi asalkan dia berstatus marquee player.

Tetapi PSSI menetapkan kriteria si pemain top ini masuk kategori marquee player atau tidak dengan standar amat sederhana: 1. Si Pemain pernah tampil di tiga Piala Dunia terakhir; dan 2. Si pemain pernah bermain di delapan liga paling elite di benua Eropa, rentang musim 2009 sampai 2017. Liga yang dimaksud top itu adalah Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Italia, Liga Jerman, Liga Belanda, Liga Perancis, Liga Turki, dan Liga Portugal.

Dari sinilah sengkarut itu bermula. Fakta yang kami temukan di lapangan menemukan aturan ini hanya jadi akal-akalan klub untuk menambah pemain asing. PT Liga Indonesia Baru dan klub dengan begitu mudah mencap si pemain sebagai marquee player.

Coba tengok apa yang dilakukan Persela Lamongan. Mereka bangga memperkenalkan Jose Coelho sebagai marquee player. PT Liga dan Persela mencantumkan Jose masuk kriteria marquee player karena Jose pernah sempat membela Benfica, klub elite di Portugal.

Klaim itu sepenuhnya benar. Jose adalah pemain binaan Benfica U-19. Tapi jika dirinci, Jose tak pernah memberikan caps bagi Benfica.

Rentan Jose bergabung tim senior pun hanya 3-4 minggu; ia kemudian dipinjamkan ke klub di kasta kedua atau ketiga, kembali ke klub asal di akhir musim, lantas dipinjamkan lagi ke klub lain. Ritme ini berjalan sampai tiga tahun.

Pada Liga 1 kali ini, ada banyak Jose lain yang boleh dikata sebagai marquee player “abal-abal”.

Di Bhayangkara United ada nama Paulo Lopez yang mengaku pernah membela Sporting Lisbon, klub besar di Portugal juga, tapi nihil caps bagi klub.

Begitu juga Persiba Balikpapan lewat Anmar Almubaraki, pemain blasteran Irak-Belanda, yang mengaku pernah membela klub papan tengah Liga Belanda, Heracles Almelo, meski selama dua musim di sana ia hanya mencatat 5 caps.

Dari 15 nama yang diklaim oleh klub sebagai marquee player di Liga 1, sebetulnya jika sesuai standar PSSI, mungkin hanya empat nama yang layak disebut sebagai marquee player. Mereka adalah Michael Essien (Persib Bandung), Peter Odemwingie (Madura United), Didier Zokora (Semen Padang), dan Shane Smeltz (Borneo FC).

Selain pernah bermain di empat liga besar Eropa (Italia, Inggris, Jerman, dan Spanyol), caps keenam pemain itu cukup banyak, tak hanya ikut berlatih di klub.

Buat Mengakali Kuota Pemain Asing

Aturan 2+1 yang diberlakukan PT Liga Indonesia Baru diharapkan mampu mengerem ambisi klub merekrut pemain asing, setelah pada kompetisi sebelumnya batasan itu mencapai 4 pemain asing.

Faktanya, klaim marquee player menerabas aturan 2+1 ini. Beberapa klub seperti PSM Makassar, Persiba Balikpapan, PS TNI menjadikan pemain lapis kedua mereka sebagai marquee player untuk menambah kuota pemain asing.

Banyak pihak yang sudah angkat suara soal standarisasi marquee player yang begitu rendah ini. Bagi sebagian klub, peraturan ini memang dinilai terlalu longgar dan membuka peluang terjadi akal-akalan.

Keharusan pernah terdaftar di Piala Dunia atau bermain di liga top Eropa, misalnya, tidak diiringi penjelasan ketatmengenai ukuran peran setiap pemain.

“Ringan sekali mendapatkan level pemain marquee player,” kata Haruna Soemitro, manajer Madura United kepada Tirto.

“(Aturan) marquee player yang ada sekarang ini memang kesannya akal-akalan. Harusnya kan sudah punya nama di liga top Eropa. Sekarang cuma main sekali (di liga top Eropa) sudah bisa menjadi marquee player. Enggak cocok jadinya,” ujar Win Bernardino, manajer Semen Padang.

Win dan Haruna boleh saja mengucap itu karena pemain yang mereka datangkan, Zokora dan Odemwingie, memang layak menyandang status marquee player.

Tapi bagaimana pemain yang statusnya abu-abu, misal seperti penyerang Persela, Jose Coelho?

Manajer Persela Lamongan Yunan Achmadi enggan mengomentari hal ini. Ia menilai status pemain itu marquee player atau tidak ditetapkan oleh PT Liga, bukan klub. Klub hanya menyodorkan. Jadi, jika ada komplen, PSSI dan PT Liga yang mestinya buka suara.

Pelaksana tugas Sekjen PSSI Djoko Driyono mengatakan “tidak khawatir” soal adanya peluang klub mengakali peraturan marquee player demi menambah jatah pemain asing. “Mengakali itu artinya kalau tidak confirm dengan regulasi kita. Kalau mereka dapat pemain dari batas yang kita buat, itu berarti mereka mengambil batas bawah,” ujarnya

Argumen sama diungkap Direktur PT Liga Risha Wijaya. Menurutnya, aturan marquee player memang tak merinci soaljumlah bermain. “Jika terdaftar (di klub elite) pun tetap masuk sebagai marquee player.”

Bagaimana jika ia bermain di tim reserve (cadangan)?

Risha menjawab: “Ya tidak apa-apa. Yang penting terdaftar. Kita perlahan, karena marquee player (adalah) sesuatu yang baru. Kita lihat dalam satu tahun ini seperti apa pengaruh marquee player. Pemain asing seharusnya agen perubahan.”

Ketika ditanya aturan ini gampang diakali oleh klub, Risha bilang tetap berpikiran positif. “Toh kehadiran marquee player sukses hidupkan euforia sepakbola dan animo masyarakat,” ujarnya. “Dan terbukti lewat Essien, bahkan semua media internasional memperbincangkannya.”

Namun apakah semua marquee player yang datang itu mempunyai nama besar seperti Essien? Tentu saja tidak.

Tanpa Pemain Top, Penonton Kita Tetap Membeludak

Strategi marquee kali pertama diadopsi Major League Soccer di Amerika Serikat. Strategi ini lazim dilakukan oleh liga yang minat penontonnya cenderung minim seperti Amerika Serikat, India, atau Australia, yang kalah populer oleh basket, kriket, dan rugbi.

Namun, apakah strategi ini efektif jika dilakukan di Indonesia?

Itu bisa jadi perdebatan panjang mengingat sepakbola adalah olahraga terpopuler di Indonesia. Atensi penggila bola di tribun mendukung klub lokal di sini cukup tinggi. Semua ini punya historikal cukup panjang.

Misalkan semifinal Perserikatan pada 4 Juni 1961 ketika 25 ribu dari 100 ribu penduduk Makassar memenuhi Stadion Mattoangin demi mendukung PSM Makassar. Atau, ketika 150 ribu orang menyesaki stadion Senayan pada 1985 dalam laga final Perserikatan PSMS Medan vs Persib Bandung.

Data soccerway mencatat, rerata atensi penonton di kompetisi ISC musim lalu berkisar 10.353 penonton. Angka ini terbesar di Asia Tenggara. Ia lebih baik ketimbang Malaysia (6.182 penonton) atau Thailand (6.143 penonton) yang iklim industri sepakbolanya lebih baik dari Indonesia.

Angka sekitar 10 ribu penonton ini tentu bisa lebih besar jika klub-klub di Liga 2, yang punya basis massa besar seperti Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, Persis Solo, PSS Sleman, dijadikan pembanding. Rerata penonton di klub-klub itu bisa berkisar belasan ribu per pertandingan.

Dex Glenniza dari Pandit Football menyebut strategi marquee player untuk animo masyarakat memang agak kurang tepat. Tanpa marquee player pun, ujarnya, sudah banyak yang menonton sepakbola Indonesia.

“Waktu kami wawancara Rudi Widodo, manajer Arema, ia bilang, ‘Misalkan Arema enggak ada marquee player, tapi Persib ada, stadion bakal tetap penuh karena suporter kami juga pasti bakal lihat tim lawan yang ada marquee player-nya juga.’ Jadi itu memang tidak berpengaruh secara langsung, kalau acuannya adalah animo masyarakat,” ucapnya kepada Tirto.

infografik HL serba serbi marque player

Transparansi dan Infrastruktur Lebih Penting

Selain klaim mendatangkan hasrat menonton, PT Liga Indonesia Baru berdalih kehadiran marquee player bagus bagi industri sepakbola lokal.

Jika merujuk pada eksposurmedia-media luar terhadap sepakbola Indonesia, argumen ini bisa dibenarkan. Namun jika dikaitkan kemajuan industri sepakbola, apakah argumen ini bisa diterima?

Salah satu poin penting dalam kemajuan industri sepakbola adalah keterbukaan. Jika kita merujuk Eropa sebagai patron pengelolaan industri sepakbola, keterbukaan adalah kunci.

Dengan mudah kita bisa mengetahui nilai transfer, kontrak gaji pemain/pelatih, kas laba-rugi klub, sampai nilai sponsor dan hak siar TV. Laporan audit penyelenggaraan kompetisi mudah didapatkan di internet. Jika melongok manajemen kompetisi di Indonesia, adakah klub-klub di sini yang sudah membeberkan nilai kontrak marquee player mereka?

Dex Glenniza memberikan pernyataan satir soal ini. “Ada yang bisa memastikan misalnya Essien itu pemain termahal di Indonesia? Jangan-jangan pemain termahal di Indonesia itu adalah Bambang Pamungkas? Kalau kita belum transparan, jangan harap industri sepakbola kita bisa maju dan profesional.”

Pertanyaan satir itu bisa diperpanjang: jangan-jangan gaji Boaz Solossa lebih tinggi ketimbang Anmar Almubaraki atau gaji Achmad Jufriyanto lebih besar daripada Paulo Lopez? Pertanyaan satir, atau praduga, yang hanya bisa dijawab dengan transparansi.

Poin penting dalam industri sepakbola lain adalah infrastruktrur. Langkah Persib yang mendatangkan Essien dan Cole tapi di sisi lain mereka kesulitan mencari lapangan untuk berlatih adalah paradoks.

Persib nyatanya lebih memilih membuang uang sekitar Rp8-10 miliar demi Essien dan Cole ketimbang merenovasi lapangan Stadion Sidolig tempat mereka berlatih, yang biaya perbaikannya hanya Rp1-2 miliar. Jika Persib yang notabene klub berduit saja seperti ini, bagaimana klub lain yang dananya cekak tapi tetap memaksakan mendatangkan marquee player?

Risha Wijaya menampik argumen ini. Ia menjawab, tak ada kaitan antara marquee player dan infrastruktur. “Di Indonesia,” katanya, “tidak ada klub yang memiliki infrastruktur sendiri, baik itu stadion atau tempat berlatih.”

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA INDONESIA atau tulisan lainnya dari Jay Akbar

tirto.id - Olahraga
Reporter: Jay Akbar
Penulis: Jay Akbar
Editor: Fahri Salam