Mengenal Konsep Hidup Minimalis di Jepang

Oleh: Yonada Nancy - 18 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
Istilah "minimalis" diciptakan pada 1950-an oleh seniman Barat sebagai tanggapan atas kapitalisasi dunia seni yang berlebihan.
tirto.id - Konsep hidup minimalis ala Jepang menciptakan daya tarik tersendiri. Jika berbicara desain, negeri sakura ini menjunjung tinggi prinsip desain yang menggunakan bahan alami, garis yang rapi, dan konstruksi atau potongan yang lugas.

Budaya Jepang dikenal menyukai keindahan alami dan tanpa hiasan. Begitulah kurang lebih konsep hidup minimalis, murni, bersih, rapi, dan seimbang.

Istilah "minimalis" diciptakan pada 1950-an oleh seniman Barat sebagai tanggapan atas kapitalisasi dunia seni yang berlebihan.

Mereka akhirnya menciptakan karya "minimal" seperti titik hitam di atas kanvas putih. Gerakan ini sangat terinspirasi oleh Jepang.

Sebelum terjadi ledakan ekonomi, orang Jepang hidup relatif sederhana. Bencana alam yang kerap melanda Jepang, seperti gempa bumi dan tsunami, membuat tidak praktis untuk masyarakatnya memiliki banyak barang.

Ditambah, hukum pada zaman Edo melarang rakyat jelata memamerkan kekayaan mereka melalui harta benda.

Hidup efisien


Inti dari kehidupan minimalis adalah hidup sesederhana, serapi, dan senyaman mungkin.

Mengutip dari Japana Home, kunci efisien hidup minimalis adalah buang sesuatu yang memperlambat atau tidak 'memicu kegembiraan', termasuk kebiasaan, makanan, dan barang-barang.

Budaya Jepang menyukai ruang dan pemanfaatannya secara optimal, oleh karena itu orang Jepang menyempurnakan sikap mereka terhadap danshari, sebuah konsep deklarasi Jepang, yang artinya tolak, buang, dan pisahkan.

Hal ini tercermin dari citra rumah Jepang yang sangat rapi, bersih dan memiliki segala penyimpanan.

Barang di rumah dikurasi dengan cermat, kompak namun menarik, sehingga tidak memerlukan 'dekorasi' tambahan.

Konsep minimalis yang kini menjadi tren


Kehidupan minimalis saat ini menjadi salah satu solusi untuk mencapai kehidupan hemat dan sederhana.

Trend semakin merebak setelah muncul tokoh publik yang menjadi pengaruh dalam kehidupan minimalis, seperti Marie Kondo dengan "The Life-Changing Magic of Tidying Up" pada 2011 atau penerusnya Fumio Sasaki dengan “Goodbye, Things” pada2015.

Rilisnya kedua buku tersebut seolah menyebarkan kitab baru mengenai hidup minimalis pada luar negeri.

Marie Kondo, menjadi terkenal dengan menemukan metode KonMari atau cara hidup dengan barang-barang yang "memicu kegembiraan."

Bahkan, berkat metodenya yang ikonik, Marie Kondo kini tidak hanya berbagi melalui buku dan Youtube, tetapi juga merilis sebuah serial di Netflix.

Sementara, itu Fumio Sasaki dikenal publik dengan gaya hidupnya yang hanya memiliki tiga kemeja dan empat pasang kaus kaki.

Ia juga menjelaskan bahwa manfaat jangka panjang dari hidup minimalis jauh lebih besar dari pada perasaan bersalah sesaat akibat membeli atau menyimpan terlalu banyak barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Tips hidup minimalis


Dilansir dari Japana Home ada sejumlah tips yang dapat dicoba untuk beralih ke hidup minimalis, yakni:
    • Singkirkan segala sesuati (benda, kebiasaan, makanan, dan sebagainya) yang memiliki ciri: memperlambat kegiatan, menguras energi, mengurangi motivasi, dan menghambat produktivitas
    • Hindari rasa bersalah, tolak berbagai hal yang mungkin dapat menimbulkan rasa bersalah dikemudian hari, termasuk membeli terlalu banyak barang lucu namun tidak fungsional atau camilan-camilan yang berujung menjadi sisa
    • Tetap bersikap realistis
    • Motivasi diri untuk fokus berubah

Baca juga artikel terkait RUMAH MINIMALIS atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight