Menuju konten utama

Mengapa Facebook Jadi Sarang Hoaks?

Facebook dianggap jadi media sosial yang paling banyak menyebarkan hoaks.

Mengapa Facebook Jadi Sarang Hoaks?
Pekerja konferensi berbicara di depan stan demo di konferensi pengembang F8 tahunan Facebook, di San Jose, California. AP / Noah Berger

tirto.id - Mark Zuckerberg, pendiri Facebook mengakui berita palsu atau hoaks tak bisa terhindarkan di era media sosial. Facebook menjadi salah satu tempat "favorit" untuk menyebarkan berita palsu tersebut.

“Ketika Anda menghubungkan dua miliar orang (melalui Facebook), Anda akan melihat semua keindahan dan keburukan umat manusia.”

Populernya Facebook sebagai medium untuk menyebarkan hoaks bertalian dengan kenyataan bahwa media sosial tersebut memiliki lebih dari 2,2 miliar basis pengguna. Dengan basis pengguna yang besar, mudah bagi suatu berita bohong menyebar dengan cepat di dunia maya. Setiap berita bohong bisa disebar ke ribuan pengguna media sosial dan dikomentari dalam jumlah yang tak kalah besar.

Dalam “hoaks Distribution Through Digital Platforms in Indonesia 2018,” laporan atas survei yang dilakukan pada 2.032 orang di Indonesia yang dilakukan DailySocial, Facebook menempati urutan teratas sebagai media sosial sumber informasi warga internet Indonesia pada 2018. Ada 77,76 persen responden yang mengaku memperoleh informasi dari Facebook. Unggul dibandingkan WhatsApp (72,93 persen) dan Instagram (60,24 persen). Baik WhatsApp maupun Instagram juga dimiliki oleh Facebook.

Selepas Facebook dan dua "saudaranya", tempat paling populer bagi para responden memperoleh informasi via media sosial secara berurutan yaitu LINE (32,97 persen), Twitter (21,30 persen), dan Telegram (10,09 persen).

Secara menyeluruh, 53,25 persen responden mengaku sering menerima hoaks melalui media sosial. Karena Facebook merupakan media sosial utama dalam memperoleh informasi, platform ini pun didaulat 81,25 persen responden sebagai medium utama sebagai sumber hoaks. Pihak Facebook tak memberi tanggapan soal munculnya Facebook di daftar teratas penyebar hoaks, saat dimintai tanggapan oleh Tirto.

Benedict Carey, dalam tulisannya di The New York Times, mengungkap secara tersirat salah satu alasan mengapa hoaks menyebar dengan baik di media sosial karena soal kecepatan. Media sosial adalah soal kecepatan. Pada akhirnya, platform tersebut membuat informasi berlari cepat hingga pengecek fakta sukar mengejarnya. Facebook dan media sosial lainnya berperan tak ubahnya sebagai “pemasar” berita palsu, sama seperti peran mereka memasarkan produk sepatu atau make up dan lainnya.

Namun, alasan lain hoaks berkembang di media sosial adalah kebiasaan pengguna yang tidak membaca konten yang diunggah/dibagikan secara keseluruhan. Dalam survei DailySocial itu, 4,48 persen responden mengaku hanya membaca judul. Juga tercatat 22,39 persen responden bahkan tidak punya niatan untuk membaca konten yang diunggah/dibagikan.

Selain itu, berkembangnya hoaks di media sosial terjadi karena rata-rata media sosial memiliki fitur “share” atau “like” atau “repost” atau sejenisnya yang memudahkan tiap pengguna membagi-ulang konten yang disebar. Dalam “Liking the Lies: An Analysis of Hoaxes on Facebook and What They Mean for the Contextual Framework of Viral Message Spread,” yang ditulis Jeffrey K. Riley, profesor jurnalisme dari Florida Gulf Coast University, Nolan Daniel, mengatakan pengguna Facebook asal Amerika Serikat, mengujicoba dengan menyebarkan foto dirinya beserta tiket kemenangan lotre senilai $293 juta.

Dalam unggahan itu, Daniel akan memberikan $1 juta pada satu pengguna Facebook secara acak yang mengklik like atau share. Hasilnya, kala sore hari tiba unggahan tersebut memperoleh share sebanyak 200 ribu kali. Lalu, pada malam hari, angkanya meningkat menjadi 450 ribu kali share. Di pengujung hari, unggahan itu telah memperoleh 500 ribu kali share. Akhirnya, unggahan Daniel memperoleh lebih dari 1,7 juta kali share sehari setelahnya.

Masalahnya, unggahan Daniel soal kemenangan lotre senilai $293 juta adalah palsu atau hoaks. Daniel mengedit foto kemenangannya melalui Photoshop.

Aksi membagi-ulang dengan mengklik tombol share, like, repost, atau sejenisnya merupakan hal yang sering dilakukan pengguna media sosial. Survey DailySocial menyebut, sebanyak 77,76 persen responden membagi-ulang konten di media sosial jika mereka rasa penting.

Infografik Menangkap Penyebar Hoaks

Infografik Menangkap Penyebar Hoaks

Nabila Ifada, dalam “The Hoaxs Spreading Pattern Through Social Media Accounts” menyebut terdapat karakteristik tertentu atas suatu hoaks berdasarkan platform media sosial. Di WhatsApp, hoaks umumnya adalah informasi yang dibagikan dengan mengandung kata atau kalimat provokatif. Sementara itu di Twitter, hoaks menyebar dengan menggandeng hashtag, suatu fitur yang memudahkan suatu informasi dikumpulkan. Pada Instagram, hoaks muncul dalam gambar atau foto hasil rekayasa.

Menyebarnya hoaks di Facebook membuat media sosial itu berbenah. Dimulai pada Januari 2015, Facebook mengubah algoritma news feed untuk khusus membendung hoaks. Pada April 2016, Facebook mengharamkan click-bait bertengger di news feed-nya. Semenjak November 2016, Facebook tidak mengizinkan iklan-iklan berbau konten negatif ditayangkan. Terakhir, pada November 2018, Facebook kembali mengubah algoritma guna membendung hoaks.

Tujuan perubahan algoritma ini ditujukan untuk mengurangi jangkauan penggunaan Facebook oleh mereka para kelompok-kelompok politis hingga penjual hoaks yang memperoleh untung dengan cara tidak pantas.

Dalam unggahan pribadi Mark Zuckerberg di Facebook, tindakan mengubah algoritma news feed dilakukan karena jika konten yang melanggar kebijakan Facebook dibiarkan akan memberikan dampak “masalah insentif dasar”. Menurut Zuckerberg, “orang-orang akan terlibat secara tidak proporsional dengan konten yang sensasional dan provokatif”.

Perubahan-perubahan yang dilakukan Facebook membuahkan hasil. Hunt Allcott dan rekan-rekannya dari Stanford University, dalam paper berjudul “Trends in the Diffusion of Misinformation on Social Media,” paper atas penelitian konten-konten hoaks yang berasal dari 570 laman pemroduksi berita palsu, yang dilakukan pada Januari 2015 hingga Juli 2018, menyebut bahwa interaksi pengguna atas konten-konten yang berasal dari laman hoaks tersebut menurun tajam di Facebook. Sementara itu, konten-konten demikian malah tetap bertahan diperbincangkan di Twitter.

“Rasio interaksi konten hoaks di Facebook dibandingkan Twitter di awal penelitian ada di kisaran 40:1, lalu menurun menjadi 15:1 di akhir periode penelitian. Sementara itu, sebagai perbandingan, interaksi pada situs berita utama hingga laman bisnis dan budaya (yang menghadirkan berita sungguhan) tetap stabil dari waktu ke waktu,” tulis paper tersebut.

Artinya, sebaran hoaks di Facebook sukses diredam hingga 60 persen atau lebih efektif meredam hoaks daripada Twitter. Namun, anggapan bahwa Facebook sebagai sumber hoaks belum terhapus, termasuk bagi para pengguna media sosial di Indonesia.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra